Sunday, May 5, 2013

Sepiring Kwetiau Goreng Dan Kamu....

Masih, telepon genggam itu masih menempel ditelinga kananku. Suara khas diujung sana membuatku menyadari bahwa aku memiliki janji dengannya. Spontan, aku langkahkan kakiku dengan sedikit tergesa-gesa. Tak kupedulikan dunia sekitar, tak kulihat kanan-kiri, selain fokus pada tujuanku yang satu, segara menemukan taxi dan secepatnya pergi meninggalkan kantor ini demi menemui dia yang diujung sana.

Bodoh. Tolol. Oon. Mungkin itulah Kata yang paling pas menggambarkan aku saat ini. Hampir saja, hampir saja aku lupa bahwa aku memiliki janji dengan tunanganku ini. Hampir saja, aku melakukan kesalahan yang sudah 4x berulang - dan dia masih memberiku maaf dengan senyumnya. Padahal tak banyak yang dia minta dariku pada janji hari ini, selain hanya pertemuan petang hari demi melepaskan rasa rindunya; tidak denganku.

Dari kejauhan dapat kulihat dia duduk sendiri dengan ditemani jus jambu favoritnya. Telunjuknya berpetualang diatas layar sentuh androidnya. 45 menit aku terlambat, semakin lengkap sudah perasaan bersalahku padanya. Segera kuhampiri dia dan meminta maaf atas keterlambatanku yang kesekian kalinya ini. Dan selalu saja, senyuman tulus menjadi wakil satu-satunya untuk menjawab betapa dia tidak marah dengan keterlambatanku.

Jujur saja, sekali-kali aku ingin dia marah. Aku ingin melihat dia yang emosional dengan kesalahan-kesalahanku. Jika perlu, gebrakan meja pun aku mau menerimanya. Dan apa yang aku dapatkan? Nihil. Tak pernah ada bentakan, tak pernah ada amarah, sekedar melihat mukanya memerah karena emosi tertahanpun tak pernah ada. Benarkah dia itu manusia? Atau malaikatkah dia? Ah sudahlah, mungkin dia tak memiliki limit untuk sebuah kesabaran.

"aku sudah pesankan makanan untuk kamu, sama seperti yang aku pesan juga" dengan semangat dia menjelaskan hal itu. Hal yang sebenarnya amat tidak penting bagiku. Hanya anggukan dan senyuman simpul yang kuberikan, tentu saja, karena aku memintanya memesan makanan yang sama dengannya diakhir pembicaraan kami di telepon.

Tak lama berselang, makanan itu kini tersaji diatas meja kami. 2 piring kwetiau goreng seafood dan 2 gelas cappuccino float. Menu yang sama yang pernah tersaji 3 tahun lalu. Aku terdiam, memperhatikan yang ada didepan mata hari ini. Aku mengingatnya lagi. Mengingat orang yang 3 tahun lalu memilihkan menu ini. Orang berbeda dan tempat yang berbeda. Dan selama 3 tahun juga, aku tak pernah mau memakan kwetiau goreng lagi. Karena aku ingin melupakannya.

Dan hari ini tunangankulah yang mempersiapkan semuanya untukku. Dia memang tidak tahu, aku memiliki kenangan manis dengan dua hal ini. Tapi, bagaimana bisa setepat ini? Entahlah. Aku masih belum mau menyentuh makanan itu, sementara dia sudah menyantapnya dan meresapi setiap helai yang masuk ke mulutnya.

"Aku tahu, kamu memiliki kisah dengan kwetiau ini 'kan?" ucapnya tiba-tiba, masih dengan mulut yang mengunyah dan sumpit yang berada disela jari-jari tangan kanannya, hingga apa yang dimulutnya beralih ke perutnya, dan dia pun menyimpan sumpitnya diatas piringnya. Tiba-tiba tangan kanannya meraih tanganku dan menggenggamnya, dengan menarik nafas panjang ia melanjutkan lagi kata-katanya, "Maaf kalau aku memaksa kamu mengingat semua ini, bukan maksud ingin membuat kamu terluka, tapi berharap kamu bisa bahagia. Jika ini mengandung kenangan manis, kenapa akupun tak menghadirkan kenangan yang sama? Aku ingin kamu tahu, aku rela jadi dia asal aku tetap bisa melihat lengkung senyum dibibirmu. Akan kukolaborasikan kenangan kamu bersamanya dengan aku yang berbeda, sehingga aku tetap jadi aku yang memberi warna yang sama seperti dia."

Hening, aku hanya terdiam dalam kebisuan. Sungguh, hatiku tertohok mendengar semuanya. Dia yang ada dihadapanku adalah orang dengan hati yang lembut. Dia, dia membiarkan dirinya tahu semuanya tanpa pernah meminta penjelasan apapun dariku. Apa yang aku fikirkan sebenarnya, sudah jelas dialah yang dikirimkan Tuhan untuk menggantikannya. Kebaikannya, tutur katanya, senyumannya lebih indah daripada orang itu. Aku hanya harus bersyukur dan membiarkan hatiku berjalan dengannya.

Terima kasih Azka Fahlevi.
Terima kasih telah bersabar menungguku.
Terima kasih untuk senyuman yang memaafkanku.
Dan untuk cincin yang sudah melingkar manis ini,
aku berjanji akan menjaganya.

With Love for You :')

@AchyNova

No comments:

Post a Comment