Masih, telepon genggam itu masih menempel ditelinga kananku. Suara
khas diujung sana membuatku menyadari bahwa aku memiliki janji
dengannya. Spontan, aku langkahkan kakiku dengan sedikit tergesa-gesa.
Tak kupedulikan dunia sekitar, tak kulihat kanan-kiri, selain fokus
pada tujuanku yang satu, segara menemukan taxi dan secepatnya pergi
meninggalkan kantor ini demi menemui dia yang diujung sana.
Bodoh. Tolol. Oon. Mungkin itulah Kata yang paling pas menggambarkan
aku saat ini. Hampir saja, hampir saja aku lupa bahwa aku memiliki
janji dengan tunanganku ini. Hampir saja, aku melakukan kesalahan yang
sudah 4x berulang - dan dia masih memberiku maaf dengan senyumnya.
Padahal tak banyak yang dia minta dariku pada janji hari ini, selain
hanya pertemuan petang hari demi melepaskan rasa rindunya; tidak
denganku.
Dari kejauhan dapat kulihat dia duduk sendiri dengan ditemani jus
jambu favoritnya. Telunjuknya berpetualang diatas layar sentuh
androidnya. 45 menit aku terlambat, semakin lengkap sudah perasaan
bersalahku padanya. Segera kuhampiri dia dan meminta maaf atas
keterlambatanku yang kesekian kalinya ini. Dan selalu saja, senyuman
tulus menjadi wakil satu-satunya untuk menjawab betapa dia tidak marah
dengan keterlambatanku.
Jujur saja, sekali-kali aku ingin dia marah. Aku ingin melihat dia
yang emosional dengan kesalahan-kesalahanku. Jika perlu, gebrakan meja
pun aku mau menerimanya. Dan apa yang aku dapatkan? Nihil. Tak pernah
ada bentakan, tak pernah ada amarah, sekedar melihat mukanya memerah
karena emosi tertahanpun tak pernah ada. Benarkah dia itu manusia? Atau
malaikatkah dia? Ah sudahlah, mungkin dia tak memiliki limit untuk
sebuah kesabaran.
"aku sudah pesankan makanan untuk kamu, sama seperti yang aku pesan
juga" dengan semangat dia menjelaskan hal itu. Hal yang sebenarnya amat
tidak penting bagiku. Hanya anggukan dan senyuman simpul yang kuberikan,
tentu saja, karena aku memintanya memesan makanan yang sama dengannya
diakhir pembicaraan kami di telepon.
Tak lama berselang, makanan itu kini tersaji diatas meja kami. 2
piring kwetiau goreng seafood dan 2 gelas cappuccino float. Menu yang
sama yang pernah tersaji 3 tahun lalu. Aku terdiam, memperhatikan yang
ada didepan mata hari ini. Aku mengingatnya lagi. Mengingat orang yang 3
tahun lalu memilihkan menu ini. Orang berbeda dan tempat yang berbeda.
Dan selama 3 tahun juga, aku tak pernah mau memakan kwetiau goreng lagi.
Karena aku ingin melupakannya.
Dan hari ini tunangankulah yang mempersiapkan semuanya untukku. Dia
memang tidak tahu, aku memiliki kenangan manis dengan dua hal ini. Tapi,
bagaimana bisa setepat ini? Entahlah. Aku masih belum mau menyentuh
makanan itu, sementara dia sudah menyantapnya dan meresapi setiap helai
yang masuk ke mulutnya.
"Aku tahu, kamu memiliki kisah dengan kwetiau ini 'kan?" ucapnya
tiba-tiba, masih dengan mulut yang mengunyah dan sumpit yang berada
disela jari-jari tangan kanannya, hingga apa yang dimulutnya beralih ke
perutnya, dan dia pun menyimpan sumpitnya diatas piringnya. Tiba-tiba
tangan kanannya meraih tanganku dan menggenggamnya, dengan menarik nafas
panjang ia melanjutkan lagi kata-katanya, "Maaf kalau aku memaksa kamu
mengingat semua ini, bukan maksud ingin membuat kamu terluka, tapi
berharap kamu bisa bahagia. Jika ini mengandung kenangan manis, kenapa
akupun tak menghadirkan kenangan yang sama? Aku ingin kamu tahu, aku
rela jadi dia asal aku tetap bisa melihat lengkung senyum dibibirmu.
Akan kukolaborasikan kenangan kamu bersamanya dengan aku yang berbeda,
sehingga aku tetap jadi aku yang memberi warna yang sama seperti dia."
Hening, aku hanya terdiam dalam kebisuan. Sungguh, hatiku tertohok
mendengar semuanya. Dia yang ada dihadapanku adalah orang dengan hati
yang lembut. Dia, dia membiarkan dirinya tahu semuanya tanpa pernah
meminta penjelasan apapun dariku. Apa yang aku fikirkan sebenarnya,
sudah jelas dialah yang dikirimkan Tuhan untuk menggantikannya.
Kebaikannya, tutur katanya, senyumannya lebih indah daripada orang itu.
Aku hanya harus bersyukur dan membiarkan hatiku berjalan dengannya.
Terima kasih Azka Fahlevi.
Terima kasih telah bersabar menungguku.
Terima kasih untuk senyuman yang memaafkanku.
Dan untuk cincin yang sudah melingkar manis ini,
aku berjanji akan menjaganya.
With Love for You :')
@AchyNova
No comments:
Post a Comment