Sunday, May 5, 2013

Aku, Kamu dan Mereka.

Langkah kita setiap detiknya terasa semakin menyesakkan jiwa. Hingga sejauh ini, kita masih saling memperjuangkan cinta. Cinta agung yang didalamnya tak memiliki restu dan doa.

Tangan kita masih saling menggenggam. Hati kita masih saling bertaut. Juga dengan KITA, masih terus bertahan untuk saling memiliki. Tapi mengapa realita kisah kita tak semanis cara kita untuk mencintai?

Sering aku bertanya, kenapa cinta kita tak semulus cinta orang-orang diluar sana? Apa yang salah dari kita? Mengapa tak kita dapatkan anggukan kepala tanda setuju dari orang tuamu, dari orang tuaku, dari orang tua kita? Naifkah kita, sayang? Menjalani hubungan layaknya sang pencuri ayam; sembunyi-sembunyi juga diam-diam.

Mengapa mereka tak melihat ketulusan kita? Mereka masih terus berusaha memisahkan kita. Tak mungkin jika mereka tak tahu kita saling mencinta, kecuali mereka memang sengaja menjadi orang-orang yang buta dan tuli hati.

Sesungguhnya aku ingin marah dengan keadaan kita yang menyedihkan seperti ini. Tapi apakah dengan kemarahanku, membuat mereka pada akhirnya memberi restu? Entahlah sayang, kisah kita terlalu rumit meski sekedar untuk dipahami.

Sayang, jika kita bersikap keras untuk menghadapi mereka, bukankah kita sama saja seperti mereka? Batu tak harus dilawan dengan batu kan? Kita hanya perlu menjadi air untuk melunakkan kerasnya hati mereka.

Tak apa sayang, ikutilah dulu mau orang tuamu untuk menjodohkanmu dengan gadis yang menurut mereka baik. Temuilah dulu dia. Meski sesungguhnya aku sangat tahu, berat langkahmu menemuinya, sama seperti hatiku yang berat melihat punggungmu menjauh dari tatapanku; kepergianmu menuju wanita itu.

Hingga detik ini, masih tak kita temukan jawaban logis dari ketidak restuan orang tua kita. Bukankah aku dan kamu hanya menjalani skenario Tuhan terhadap kita. Bukan tanpa maksud pertemuan kita dalam hingar bingar keramaian orang. Tentu saja, tangan Tuhan yang menempatkan kita pada pertemuan manis yang berulang. Hingga pada akhirnya kita bersama saling mencinta, semua karena campur tangan Tuhan didalamnya.

Kenapa kita harus selalu dipersalahkan dan ditentang, sayang? Selama ini, kita hanya saling bertemu, saling bercerita, saling menggenggam, tak ada yang lebih dari itu. Bukankah sejauh ini pun kita bisa bertahan untuk tak melanggar norma-norma yang ada?

Sayang, kuharap kita akan terus saling menguatkan. Kuharap kita akan tetap saling berpegangan tangan. Kuharap kita akan terus berjuang, hingga hati orang tua kita bisa mencair dan melunak.

---------------------------------------------------
@AchyNova
220413

No comments:

Post a Comment