Sunday, May 5, 2013

Entah harus disebut apa Kisah Ini?

Saya hanya mampu mengucapkan kata "sabar" pada perbincangan kami di ujung telpon. Dapat kubayangkan matanya sudah bengkak saat ini, dengan ujung hidung yang sudah memerah menahan isak tangis yang membebani hatinya. Setiap cerita yang mengalir deras dari mulutnya, cukup menggambarkan luka hatinya yang tak kasat mata. Dan, melalui ceritanya, saya bisa merasakan sakitnya mencintai pria salah yang memberi harapan kosong padanya.

Padahal, wanita ini sesungguhnya mengetahui cerita cintanya akan seperti ini. Dia amat paham, jika pria yang ia cintai sudah bertunangan dengan wanita lain, dan akan menikah. Namun, teman saya ini sungguh keras kepala, entah dimana pikirannya saat cinta menyentuh dan mempertemukannya dengan pria yang salah.

Sebuah keadaan mendesak menjadi pembuka jalan kisah cintanya dengan pria itu. Harus saya akui, saya ikut mengambil peran (meski tak langsung) dalam kisah mereka yang begitu rumit untuk dipahami. Saya masih ingat, teman saya itu begitu tergesa menghubungi saya. Dia memohon supaya membantunya mengenalkan dengan teman saya anak Teknik Informatika (TI). Saat itu, wanita ini sedang menghadapi tugas untuk membuat kamus bahasa sunda dengan menggunakan program yang membuatnya kesulitan dan membutuhkan bimbingan dari anak TI. Dia hafal kalau saya memiliki akses penghubung dengan anak jurusan TI yang secara tingkat intelektualnya bisa dikatakan jenius. Akhirnya saya pun luluh. Saya selalu merasa tak tega jika harus melihat teman saya menderita dengan tugas-tugas kampus yang membebaninya. Saya rekomendasikan wanita itu pada pria teman masa kecil saya. Dengan catatan, wanita ini harus berusaha membujuknya sendiri, bukan oleh saya. Beruntung, teman saya ini bersedia membantu wanita ini. Saya pun merasa lega dan membiarkan mereka bekerja sama tanpa saya; meski teman saya meminta untuk menemaninya, dan saya tolak, karena saya enggan bertemu dengan mantan saya yang juga temannya.

Diluar yang saya kira, teman saya ternyata mengajak salah satu temannya untuk ikut membantu wanita ini. Entah apa yang terjadi, hanya yang saya tahu pada akhirnya wanita ini memiliki hubungan perasaan dengan pria teman saya. Jelas, saat itu wanita ini tak mengetahui jika pria itu sudah bertunangan. Karena pria itu selalu meyakinkan wanita ini jika dia tak memiliki kekasih.

Hari-hari mereka selalu dihiasi cinta. Saya sungguh tak paham, bagian mana dari mereka yang membuatnya saling jatuh cinta. Saya biasanya hanya kebagian peran menjadi seorang pendengar saja - tak lebih.

Sumpah! Saya pun bisa merasakan sakit yang wanita ini rasakan. Saat dengan tegas pengakuan nyata statusnya meluncur tanpa hambatan dari mulut sang pria. Siapa yang tidak terkejut. Siapa yang tak merasa dibohongi. Siapa yang akan sanggup dengan itu. Siapapun pasti akan menangis mendengar kenyataan yang tak semanis kisah mereka sebelum pengakuan itu. Jelas, andai wanita itu adalah saya, saya akan maki dan mulai menjauh dari pria brengsek itu.

Sekali lagi, pria ini lebih beruntung karena mengenal teman saya, bukan saya. Setidaknya pria ini hanya mendapat senyuman tulus dari sang wanita, bukan makian yang seharusnya dia dapatkan.

Pria ini hanya mahasiswa yang biasa saja. Tak pintar apalagi jenius, dan wanita yang kudengarkan ceritanya tadi sangat jatuh cinta pada setiap hal terkecil tentang pria ini. Cinta semakin mengambil perannya, mereka sama-sama larut dalam cinta yang terlalu membabi buta. Meski status nyata si pria seakan-akan menjadikan mereka buronan cinta.

Yah mungkin memang begitulah cinta buta, akal dan logika tak berlaku dalam aturan cinta mereka. Dan saya, lagi-lagi hanya bisa mengatakan "sabar" pada wanita ini.

@AchyNova
040513

No comments:

Post a Comment