Saya hanya mampu mengucapkan kata "sabar" pada perbincangan kami
di ujung telpon. Dapat kubayangkan matanya sudah bengkak saat ini,
dengan ujung hidung yang sudah memerah menahan isak tangis yang
membebani hatinya. Setiap cerita yang mengalir deras dari mulutnya,
cukup menggambarkan luka hatinya yang tak kasat mata. Dan, melalui
ceritanya, saya bisa merasakan sakitnya mencintai pria salah yang
memberi harapan kosong padanya.
Padahal, wanita ini sesungguhnya mengetahui cerita cintanya akan
seperti ini. Dia amat paham, jika pria yang ia cintai sudah bertunangan
dengan wanita lain, dan akan menikah. Namun, teman saya ini sungguh
keras kepala, entah dimana pikirannya saat cinta menyentuh dan
mempertemukannya dengan pria yang salah.
Sebuah keadaan mendesak menjadi pembuka jalan kisah cintanya dengan
pria itu. Harus saya akui, saya ikut mengambil peran (meski tak
langsung) dalam kisah mereka yang begitu rumit untuk dipahami. Saya
masih ingat, teman saya itu begitu tergesa menghubungi saya. Dia memohon
supaya membantunya mengenalkan dengan teman saya anak Teknik
Informatika (TI). Saat itu, wanita ini sedang menghadapi tugas untuk
membuat kamus bahasa sunda dengan menggunakan program yang membuatnya
kesulitan dan membutuhkan bimbingan dari anak TI. Dia hafal kalau saya
memiliki akses penghubung dengan anak jurusan TI yang secara tingkat
intelektualnya bisa dikatakan jenius. Akhirnya saya pun luluh. Saya
selalu merasa tak tega jika harus melihat teman saya menderita dengan
tugas-tugas kampus yang membebaninya. Saya rekomendasikan wanita itu
pada pria teman masa kecil saya. Dengan catatan, wanita ini harus
berusaha membujuknya sendiri, bukan oleh saya. Beruntung, teman saya ini
bersedia membantu wanita ini. Saya pun merasa lega dan membiarkan
mereka bekerja sama tanpa saya; meski teman saya meminta untuk
menemaninya, dan saya tolak, karena saya enggan bertemu dengan mantan
saya yang juga temannya.
Diluar yang saya kira, teman saya ternyata mengajak salah satu
temannya untuk ikut membantu wanita ini. Entah apa yang terjadi, hanya
yang saya tahu pada akhirnya wanita ini memiliki hubungan perasaan
dengan pria teman saya. Jelas, saat itu wanita ini tak mengetahui jika
pria itu sudah bertunangan. Karena pria itu selalu meyakinkan wanita ini
jika dia tak memiliki kekasih.
Hari-hari mereka selalu dihiasi cinta. Saya sungguh tak paham,
bagian mana dari mereka yang membuatnya saling jatuh cinta. Saya
biasanya hanya kebagian peran menjadi seorang pendengar saja - tak
lebih.
Sumpah! Saya pun bisa merasakan sakit yang wanita ini rasakan. Saat
dengan tegas pengakuan nyata statusnya meluncur tanpa hambatan dari
mulut sang pria. Siapa yang tidak terkejut. Siapa yang tak merasa
dibohongi. Siapa yang akan sanggup dengan itu. Siapapun pasti akan
menangis mendengar kenyataan yang tak semanis kisah mereka sebelum
pengakuan itu. Jelas, andai wanita itu adalah saya, saya akan maki dan
mulai menjauh dari pria brengsek itu.
Sekali lagi, pria ini lebih beruntung karena mengenal teman saya,
bukan saya. Setidaknya pria ini hanya mendapat senyuman tulus dari sang
wanita, bukan makian yang seharusnya dia dapatkan.
Pria ini hanya mahasiswa yang biasa saja. Tak pintar apalagi jenius,
dan wanita yang kudengarkan ceritanya tadi sangat jatuh cinta pada
setiap hal terkecil tentang pria ini. Cinta semakin mengambil perannya,
mereka sama-sama larut dalam cinta yang terlalu membabi buta. Meski
status nyata si pria seakan-akan menjadikan mereka buronan cinta.
Yah mungkin memang begitulah cinta buta, akal dan logika tak berlaku
dalam aturan cinta mereka. Dan saya, lagi-lagi hanya bisa mengatakan
"sabar" pada wanita ini.
@AchyNova
040513
No comments:
Post a Comment