Monday, May 6, 2013

'Tuhan, Izinkan Aku Bercerita'

Hai Tuhan.. Selamat menjelang petang. Aku tak tahu di surga hari ini sedang siang atau malam. Atau bahkan sama seperti yang kualami disini, menuju petang. Petang disana pastinya lebih indah daripada disini, kan? Kalau boleh jujur, petang disini biasa saja, tak ada yang menarik. Warnanya pun sama seperti hari sebelumnya. Yang berbeda sekarang hanya aku, yang sedang duduk sendirian di halte Jalan Martadinata, tepat didepan Rumah sakit.

Hari ini adalah 1 November, dan untuk pertama kalinya aku duduk di halte ini. Bukan sedang menunggu bis datang, atau menunggu angkot untuk merapat dan membawaku pulang. Yang aku lakukan hanya duduk saja, memandang ke sebrang jalan, tidak lebih. Aku mengingatnya lagi, Tuhan. Mengingat dia yang pernah memberi warna di tanggal 1 November, 2 tahun lalu. Aku seperti melihatnya disebrang jalan ini. Pria tampan, bertubuh tinggi yang mengenakan kemeja warna ungu muda, seolah sedang menunggu kedatanganku. Dan itu terjadi 2 tahun lalu.

Sekarang tidak ada siapa-siapa disana. Selain hanya sekumpulan taksi yang menunggu penumpangnya datang atau bahkan memanggilnya. Aku masih sama ya, Tuhan? Masih belum bisa berubah. Aku tahu, Engkau sibuk. Tapi Engkau memiliki kepekaan terhadapku. Engkau selalu mendengar jeritan hatiku, meskipun Engkau tak segera memberi tepukan-tepukan kecil pada bahuku. Engkau bahkan merangkulku, ketika aku menangis mengingatnya. Aku tak perlu curiga padaMu, soal Engkau mendengar doaku atau tidak. Karena aku yakin, Engkau mendengar setiap curhatanku. Karena Engkau tahu, aku percaya padaMu. Bahkan pelukanMu selalu terbuka bagiku yang dibuat menggigil oleh dinginnya dunia. Engkau pun selalu siap menyatukan kembali kepingan-kepingan hatiku yang patah.

Masih tentang hal yang sama, Tuhan. Aku belum mau mengganti tema perbincangan kita yang panjang dan sudah lama ini. Tentang dia. Seseorang yang dengan setia kusebut dalam setiap selipan kalimat ketika bercakap denganMu.

Aku tahu, pertemuan yang Kau ciptakan mengandung maksud yang baik untukku. Aku mengerti, pertemuan itu bukanlah pertemuan yang tidak Kau rencanakan sebelumnya. Bahkan hingga akhirnya Kau membuat kami tidak bertemu lagi pun, semuanya itu mengandung tujuan. Meski aku tidak tahu itu apa. Karena Kau tahu aku kuat, makanya Kau biarkan aku merasakan kepapaan dan penderitaan ini. Sehingga Kau bisa melihat sejauh mana aku menyebutnya dalam doaku.

Tolong jangan marah, Tuhan. Jika aku masih memaksaMu membiarkan aku bertemu lagi dengan dia. Aku ingin bisa berbincang-bincang lagi dengan dia. Aku ingin mendengar lagi suaranya yang terdengar lembut ditelingaku. Tidak baik juga 'kan, kalau aku hanya bisa memandangi wajahnya di foto? Kalau pun tak boleh, memandangnya dari kejauhanpun sudah cukup bagiku.

Sebenarnya untuk satu hal itu, aku pun sudah mengetahuinya. Sekarang hatinya sudah memiliki penghuninya yang baru. Tak perlu kuatir, aku kuat ko'. Atas alasan apapun, aku harus turut serta bahagia mendengar kabar itu. Walau sejujurnya, aku sakit mendengar itu. Tapi aku sadar, dia yang memang tidak sempat kumiliki,mana mungkin bisa tahu tentang perasaanku. Hatinya yang tidak peka pun, mana mengerti dengan celotehanku di status facebook untuknya. Apalagi berharap dia memperhatikan foto-foto yang sengaja aku upload pun, rasanya jauh dari harapan. Foto-foto yang menggambarkan bagaimana aku bermetamorfosa untuk menjadi kupu-kupu cantik yang indah.

Ah.. Sudahlah, bukan ini yang ingin aku cakapkan denganMu. Masih dengan permintaan yang sama, Tuhan. Jagalah kebahagiaannya untukku. Senyumnya adalah penjamin ketenanganku. Jangan biarkan lengkungan senyum dibibirnya itu hilang. Karena aku tak akan bisa menjadi pengganti senyumnya ketika semua itu terenggut. Apalagi dengan jarak yang sejauh ini, yang semakin membuatku tak bisa menyentuhnya. Hanya dengan doaku, aku memeluknya.

Aku memang tak perlu meratap, karena sepertinya ia bahagia bersama kekasih barunya. Dunia baru yang lebih berwarna, sudah ada dalam genggamannya. Aku turut senang jika semua itu benar. Jangan biarkan pengkhianatan menghancurkan dunianya kini. Aku tak mau dia sedih dan terluka. Meski pun aku bersedia menjadi obat penahan sementara rasa sakitnya.

Selalu dalam percakapan akhir kita, aku hanya ingin dia bahagia. Cukup.

With love for you :')

@AchyNova

Dia dan Aku dalam jarak yang sedekat ini..

1 Maret 2013, inilah kali kedua aku duduk di halte ini. Bukan untuk memandang kesebrang jalan dan mengingat yang pernah terjadi 2 tahun sebelumnya. Hanya sedang menunggu seseorang yang akan membawaku pulang.

Kali ini Aku tak sendiri, karena disisi lain pun tengah duduk seorang pemuda, entah siapa. Bagiku tak penting dia siapa, aku tak begitu tertarik memperhatikan orang yang tak kukenal. Dalam diamku, aku terus memperhatikan jalan. Berharap dia yang memberiku warna baru segera datang dan membawaku pulang.

Seketika aku Terhenyak saat Sepersekian detik dalam penantianku aku mendengar suara khas disisi lain halte ini. Suara seseorang yang pernah membawaku dalam cinta yang membabibuta. Suara yang pernah menawarkan seteguk kenikmatan yang fana.

Tak kusangka, ternyata laki-laki yang duduk dibarisan lain halte ini adalah dia yang sempat menorehkan waktu termanis untukku. Waktu singkat yang membawaku dalam perkenalan indah dan bermakna.

Dialah sang pemilik wajah tampan berdada bidang. Dia menyapaku. Dia masih mengenaliku. Dia tersenyum padaku. Dan dia membawa percakapan dalam penantianku untuknya ; menanti kekasih yang menjemputku.

Suara lembutnya menghadirkan lagi getar rindu yang sebenarnya masih ada. Aku bergetar. Aku tergelagap. Aku terdiam. Dan bahkan tanpa sadar mataku berderai.

Aku ingin berhambur dan segera memeluknya dalam rinduku, sekali lagi aku hanya bisa menahan diri. Dia yang kurindukan dalam 2 tahunku, saat ini ada didekatku. Benarkah ini adalah dia? Bahkan tak ada sekat pembatas antara aku dan dia.

"apa kabar?". Kata kedua yang diucapkannya setelah menyapaku justru membawaku pada kebisuan. Lidahku kelu, bahkan untuk sekedar menjawab bahwa aku baik-baik saja.

Astaga, aku melihatnya dalam jarak sedekat ini. Senyumnya yang menghadirkan deretan gigi-gigi yang rapi, mempertegas otakku untuk mengingat dia kembali. Bahkah, aku rela menukarkan kebahagiaan apapun asalkan hal seperti ini tak pernah berakhir dan masih terus kunikmati.

Waktu memang terlalu misterius untuk diterka. Aku yang hanya bisa menikmati kerinduan dalam hamparan doa yang dirapal, kini tengah memandangi wajah sang tercinta didepan mata. Aku yang hanya meminta padaNya untuk mengizinkan aku melihat dari kejauhan, justru dihadapkan pada sosok nyata yang begitu dekat.

Inilah yang disebut dilema. Aku benci ini. Kenapa aku tak sabar menunggu 5 bulan lagi untuk sendiri. Kenapa hari ini aku harus memiliki kekasih. Kenapa?

Tidak. Aku tidak boleh meratap seperti ini. Ini hanya kenyataan yang akan berubah menjadi mimpi lagi. Ya, aku yakin sebentar lagi pria inipun akan menghilang lagi. Dan mengurungku kembali dalam lautan duka yang tak berujung. Bukankan kekasihku sudah memberi warna baru yang lebih indah. Kekasihku yang tidak akan membiarkan aku terluka.

Sudahlah, senyata apapun dia dalam jarak yang dekat ini, aku tetap memiliki dia ; kekasihku saat ini.

With love for You :')

@AchyNova

Ketika Namamu Tak lagi Bermakna.

Akhir-akhir ini cuaca sungguh tak bersahabat, hujan selalu turun bahkan saat sepertinya matahari tengah bersemangat untuk bersinar. Umpatan-umpatan yang tak penting begitu akrab ditelingaku. Saat mulut mereka yang tak menyukai hujan berhamburan tak terkendali.

Aku, sesungguhnyapun tak menyukai hujan -sama seperti mereka- tapi ketidaksukaanku hanya sebatas tak suka, bukan benci, karena terkadang pun aku begitu takut dengan hujan yang turun terlalu deras. Namun, hari ini aku menegaskan diri begitu mencintai hujan. Saat setiap tetesnya begitu menyentuh lembut tubuh hingga sel terdalamnya. Hujan gerimis mampu membiaskan tangisan yang membelai mesra pipiku oleh air mata. Hujanpun mampu menyadarkan aku bahwa Tuhan tengah menyentuhku dalam rintik raksasanya. Ya, hujan begitu kurindukan saat hatiku berbalut luka.

Dia memberikan sayatan-sayatan kecil dalam hatiku. Dia melenyapkan segala asa dan mimpi. Dia meluluh lantakkan jiwa yang sedang bermain dengan imajinasi. Dia, ya.. Dia. Hal ter-absurd yang paling kurindukan sosoknya.

Aku melewati persimpangan jalan itu, melewati banyak orang yang berlalu lalang di keramaian kota kecilku. Saat dimana toko-toko berderet rapi dan tersusun nyata. Beberapa dari toko itu memiliki nama, dan jelas terekam dalam ingatanku ada 2 toko yang menjadikan nama lengkapmu menjadi nama kedua toko itu.

Dulu, dulu sekali, saat aku masih menyimpan rapat namanya dalam hati, aku begitu menyukai 2 toko ini. Karena membacanya membuatku merindukan sosoknya.

Sekarang semua telah berbeda. Aku tak lagi ingin membaca nama toko itu. Bahkan sengaja kupalingkan wajahku ketika melewati ke dua toko itu.

Ya, bagiku namanya tak lagi bermakna. Ya, kini dia tak memiliki arti lebih untukku. Sosok dan namanya hanya menjadi kenangan yang melintas sepintas dan kemudian menghilang.

With love for you :')

@AchyNova
310313

Menjelaskan Perpisahan


Kusebut perpisahan sebagai malaikat maut, kapanpun siap datang untuk menjemput. Tidak juga kamu, tidak juga aku, tak pernah tahu kapan perpisahan akan menghantui hari kita.

Tak ada yang tahu kapan perpisahan menjadi awal dari sebuah kebimbangan.
Masa dimana kita pernah bercanda dalam riuh tawa yang membahana, sekarang hanya kita sebut dengan kenangan. Tak ada lagi jari jemarimu diantara sela jemariku. Tak ada lagi usapan lembut pada rambutku. Tak ada. Karena semuanya telah selesai.

Tapi tak ada perpisahan yang paling menyakitkan selain perpisahan karena kehadiran orang baru dalam hubungan seseorang. Dan aku bersyukur, penyebab runtuhnya fondasi cinta kita tak lain karena kita masih terlalu egois menyikapi keadaan.

Setelah kita berpisah, masih bolehkah aku menyimpan rindu untukmu? Masih bolehkah aku menyebutmu dalam doa-doaku? Kuharap kamu masih izinkan semua itu padaku.

Aku hanya ingin kamu tahu, aku masih sangat mencintai kamu. Meski perpisahan ini menguraikan KITA menjadi hanya AKU dan KAMU.
Setidaknya, perpisahan menorehkan sejarah panjang dalam hidup kita. Dan masing-masing dari kita memilikinya dalam hati. Kenangan yang sempat kita pahat bersama, akan menjadi coretan manis dalam senyum kita.

Ah.. Sudahlah. Perpisahan ini bukan akhir dari kita. Melainkan awal untuk KITA yang baru. Meski hanya sebagai teman biasa atau pun sebatas adik dan kakak.

With love for you :')

@AchyNova

Sunday, May 5, 2013

Hanya Kisah Yang Biasa Saja.

Aku masih merasakan sakit yang sama. Aku tahu bahwa pada akhirnya aku akan sesedih ini, aku terus berusaha menghindari air mata semampu yang aku bisa. Tapi, kau pasti tahu, aku adalah perempuan yang tak betah berpura-pura bahagia. Kamu menyaksikan dan mendengar ceritaku tentang pria itu kan? Aku selalu menceritakan hal yang sama dan berulang padamu. Tentang pria yang kucintai itu, seberapa dalam perasaanku untuknya, sekuat apa rasa cinta menerkam hari-hariku, dan betapa hebat senyumnya yang bisa meneguhkan hatiku.

Kamu tentu tahu, betapa dalamnya rasa cintaku dan begitu ketakutannya aku melihat dia dimiliki orang lain. Benar, aku memang tak memilikinya, sehingga tak pernah terpikirkan olehku seperti apa lukisan perpisahan itu. Kau memang benar, aku dan dia tak pernah memiliki. Kau pun benar, saat kau katakan seharusnya aku melupakan dia dan menata hidupku sendiri. Tapi sungguh, aku rela terluka asalkan aku tahu dia bahagia, aku rela menukarkan kebahagiaanku asal aku bisa melihat dia tetap tersenyum.

Memang, sapaannya tak lagi sehangat saat pertama kali menyapaku lewat pesan singkatnya. Senyumnya tak setulus saat pertama kali Ia mengajakku makan dan berbincang. Sikapnya sudah banyak berubah, itu benar. Dia membohongiku, juga benar. Dia melanggar janjinya padaku, sangat benar. Tapi tetap saja, dia laki-laki berbeda yang berhasil (lagi) membuatku jatuh cinta.

Kesalahanku hanya satu, aku tak memiliki keberanian untuk sekedar menyapanya. Padahal apa yang salah dari sebuah sapaan, jika sebenarnya sapaan bisa menjadikan aku dan dia lebih dekat. Penyesalan ini sudah tak berguna karena ia dan aku sudah semakin jauh.
Kamu bahkan menyaksikan juga bagaimana air mata yang selalu kuhindari ini pada akhirnya mencengkramku juga. Ya, 18 jam aku bertahan untuk bersikap biasa, aku kalah juga, aku menangis juga, pertahananku tak cukup kuat untuk bersandiwara lagi dihadapanmu.

Mengetahui kenyataan yang mencekam seperti itu, aku jadi malas untuk tersenyum. Semua yang kulakukan untuknya seolah sia-sia. Dia yang dalam baktiku kucakapkan pada Tuhan, tetap memilih gadis lain. Mulutku yang tak henti mengucapkannya dalam rapalan doa, tetap tak kumiliki. Dan rasa sesakku semakin bertambah ketika dia menyapaku dengan undangan pernikahannya.

Kamu benar, seharusnya aku meniti masa depanku dengan bijak. Seharusnya aku tak berlebihan mengagumi sosoknya. Seharusnya aku mundur teratur ketika dia memiliki kekasih, bukan bertahan untuk mencintainya.

Tenanglah, aku sudah mulai melupakannya. Sudah ada seorang pria baru, yang tak begitu kucintai, tapi kehadirannya bisa sedikit mengundang senyum di bibirku. Aku tak tahu, apakah perasaanku pada pria baru itu adalah cinta. Aku tak berusaha memahami, apakah hubungan yang kami jalani selama ini adalah ketertarikan sesaat atau hanya sarana untuk menyembuhkan luka hatiku? Kami tertawa bersama, menghabiskan waktu berdua, tapi segalanya terasa biasa saja. Tak ada letupan yang begitu menyenangkan ketika mata kami saling menatap.

Pria yang selalu kuceritakan padamu, memang hanya sekumpulan bayang-bayang. Semakin aku berusaha melawan, semakin aku tak bisa menerima bahwa segalanya tak lagi sama. Aku tak mau kenangan dan perasaanku yang dulu begitu besar pada masa lalu menjadi cambuk luka untuk pria baru yang ingin membahagiakanku kelak. Aku hanya berusaha memahami semua yang terjadi padaku dan berusaha pasrah dengan kenyataan yang memang harus kuketahui. Aku tak ingin dibayangi oleh kesemuan yang membahagiakan, lebih baik kenyataan pahit yang penuh kejelasan.

Dan untuknya wanita yang menjadi pilihan pria itu: Aku mohon, jagalah Ia dengan sekuat tenagamu. Aku ingin kamu menjamin kebahagiaannya. Aku ingin dia bahagia dan selalu tersenyum bersamamu. Aku tak bisa
berbuat banyak, selain membantu dalam doa-doaku. Aku tak memiliki kesempatan membuat dia tersenyum. Kumohon, ini permintaanku yang terakhir. Bahagiakanlah dia, buatlah dia terus tersenyum.

---------------------------------------------------
150413

Perpisahan didepan Mata..

Semua yang kutakutkan akhirnya terjadi. Kini, bukan lagi jarak yang memisahkan kita saat ini. Bahkan, hati kita pun sudah tak lagi saling bertaut. Aku sedih, semua terjadi secepat ini. Secepat waktu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

Tak bijak rasanya jika masih mempersalahkan jarak, sementara kita mampu melewatinya di 2 tahun kebersamaan kita yang istimewa. Secepat itukah perasaan kita berubah? Aku masih berharap semua ini mimpi. Dan ada seseorang yang berbaik hati membangunkan aku dari mimpi buruk ini.

Sungguh, aku tak kuasa menahan perih ini. Aku benci kenapa perpisahan ini terjadi juga. Padahal, aku masih berharap bisa memanggilmu 'hubby' suatu saat nanti. Tapi pengharapan itu memang tak akan terjadi sampai kapanpun.

Mungkin benar tweet pagi hari itu yang berisi tentang segala sesuatu yang berlebihan akan menyakiti diri. Ya, aku merasakannya kini.

Don't trust too much.
Don't love too much.
Don't hope too much.
Because that too much can hurt you so much.

Aku memang terlalu mempercayaimu, terlalu mencintaimu, dan terlalu berharap padamu. Dan inilah hasil yang kudapat, menyakitiku terlalu banyak.

Aku benci kamu, benci ketidaktegasanmu. Bukankah kamu berkata akan terus memperjuangkan cinta kita bersama? Inilah yang paling kusesali darimu, ketidaktegasanmu!!

Sekarang aku harus merunut pagi tanpa suaramu diujung telpon. Kini, tak akan ada lagi pesan singkatmu yang mampir di inbox ku untuk mengatakan selamat pagi.

Sudahlah, kamu tak usah merasa bersalah. Tak perlu risaukan rasa sakitku ini, aku disini baik-baik saja. Hanya butuh waktu saja untuk bisa ikhlas menerimanya. Aku tahu, Tuhan yang Maha Penyayang sedang memelukku dalam pelukan terhangatNya.

With Love for You :')

@AchyNova

Aku Bangga Mencintaimu.

Aku bangga bisa mencintaimu. Ada hal-hal indah yang kurasakan ketika aku mencintaimu dalam rasa senduku. Sungguh. Meski lebih banyak tangis daripada tawa yang dihadirkannya. Tapi aku begitu menikmatinya. Kepadamu aku merasakan lagi, seperti apa rasanya rindu yang membabibuta. Untukmu, kubiarkan air mata mengalir lembut di pipiku. Aku menikmati semuanya dan membiarkan kamu hadir sebagai bayangan yang menampar hari-hariku.

Aku tahu kamu tak merasakan hal yang sama sepertiku. Terlebih saat ini hatimu sudah dimiliki gadis cantik yang sungguh beruntung bisa menjadi kekasihmu. Kenalkanlah dia padaku. Sungguh, aku hanya ingin tahu kebaikannya yang membuatmu bisa jatuh cinta. Aku tak akan membencinya. Aku justru ingin berterima kasih padanya, karena sudah mampu membuat jutaan kebahagiaan hadir dalam barisan hari-harimu. Hingga menciptakan kedamaian dalam hatiku, yang menyaksikan lukisan garis lengkung di wajahmu; senyummu.

Tak jadi soal bagiku, siapa orang beruntung yang mendapatkan hatimu. Asalkan dia selalu bisa membuatmu bahagia, maka aku pun turut berbahagia.

Selama aku masih bisa memelukmu dalam doa. Akan selalu kupeluk engkau dalam selipan percakapanku dengan Tuhan. Aku ingin Tuhan menjamin kebahagiaanmu untukku. Aku tak ingin Tuhan membiarkan sosok jahat melukai perasaanmu. Karena ketika kamu terluka, aku tau, aku tak akan pernah bisa menjadi obat penghilang rasa sakitmu. Dan aku lebih rela, aku yang tersakiti, asal bukan kamu.

Tenanglah. Aku masih terus berusaha menata kembali hidupku sambil mencintaimu. Meski perlahan, aku berusaha bangkit menjadi aku yang dulu sebelum mengenalmu. Jadi kamu tak usah risau. Meski kupeluk engkau dalam doaku. Aku tak pernah meminta agar Tuhan membuat kalian berpisah.

Mungkin itulah alasan kenapa aku tak pernah berusaha mencari tahu tentang hubungan kalian. Ya. Karena aku takut. Begitu takut menjadi orang pertama yang bertepuk tangan dan bersorak sorai diantara konflik cinta kalian.

Itu pula yang menjadi penyebab, kenapa aku begitu enggan menyapamu dalam pertemuan maya kita. Karena aku juga takut, rasa ingin memilikimu lebih besar daripada rasa untuk melepaskanmu.

Kembali pada pembahasan awal. Aku cukup bangga mencintaimu. Aku cukup bahagia bisa menyapamu dalam mimpiku.
Tak peduli dengan banyaknya rasa sakit daripada tawanya. Aku bangga.

With love for you :')

@AchyNova

Berusaha Mensyukuri Jarak..

Hai Sayang... Sedang apa sekarang? Sudah makan? Jangan sampai kamu tak makan, karena terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Karena jika iya, aku akan menegurmu sekeras ibumu menegurmu.

Aku benci dengan keadaan ini. Kita seakan tak memiliki ruang untuk bisa saling bersentuhan dan saling menatap. Rasanya menyakitkan, jika keterbatasan kita menjadi penyebab kita tak banyak tahu dan tak banyak bertemu. Setiap hari, kita berjuang menahan rindu yang semakin menggebu dan tak mereda. Inikah cara cinta menyiksa kita? Melalui jarak puluhan kilometer?

Aku menghela nafas, membayangkan jika aku bisa berada disisimu. Mungkin, tak ada air mata ketika hanya suara saja yang menguatkan kita. Dan tentu saja tak akan ada ucapan rindu ribuan kali yang terlontar dari mulut kita, demi meredamkan kerinduan yang semakin membabibuta.

Aku ingin disana bersamamu. Agar aku bisa menegurmu ketika kamu sengaja tak makan hanya karena sibuk, bahkan jika perlu aku yang menyuapimu :). Dan aku bisa menjadi perawat pribadimu ketika demam menyerangmu. Hmmmm.. Ayolah sayang, jangan buat aku khawatir dengan kelalaianmu yang sering mengabaikan kesehatanmu.

Apalah arti puluhan kilometer kita, jika aku masih bisa mendengar suara lembutmu dipenghujung petang kita. Jika aku masih bisa melihatmu tersenyum saat video call kita di Yahoo Messenger. Apa yang mesti diragukan dari kita? Sedangkan aku dan kamu masih setia menunggu pertemuan manis kita di minggu kedua dan keempat setiap bulannya.

Bukankan suatu kebodohan jika kita masih mempersalahkan jarak? Sedangkan kita sudah mampu mengatasinya di 2 tahun kebersamaan kita.

Jarak hanyalah angka. Selama kita masih berjuang untuk cinta kita yang sama.

Love is Me ^_^

AchyNova

Andai Dia itu Aku!!!

Aku seperti di jejali jutaan anak panah yang melesat. Sakit, ketika menghadapi kenyataan pahit bahwa kau akan menikah. Padahal baru saja aku meginjakkan kakiku di bumi pertiwi. Di kota kelahiranku, tempat aku menjadi dewasa, dan menemukan cinta, Paris Van Java.

Aku sengaja disini, dirumahmu. Bercanda dengan orang tua dan juga kedua kakakmu. Membawa buah tangan spesial dari Ohio. Buah tangan yang khusus kusiapkan hanya untuk kamu.

Demi Tuhan, aku merasa sesak. Kamu cinta pertamaku, sebentar lagi akan disebut sebagai suami. Sementara aku, aku hanya tetap menjadi teman sedari kecil, tak lebih, tak memiliki arti.

Sungguh beruntung gadis itu, dalam sekejap saja mencuri hatimu dariku. Aku yang selama 25 tahun ingin menggapai hatimu, harus pasrah menerima kekalahan. Kini, tak mungkin aku bisa menjadi menantu. Tak mungkin keponakanmu akan memanggilku tante. Bahkan, aku tak mungkin bisa menjadi dia, calon istrimu.

Aku hanya bisa menahan perih itu dalam diam. Mencoba menutupinya dengan senyuman. Tak tahukah kamu, selama ini aku memperjuangkan kamu?

Esok! Ya esok kau akan menikah. Aku yakin malam ini kau tengah berbalut kecemasan luar biasa menghadapi hari esok. Setiap detiknya seakan meintimidasi hentakan napasmu yang memburu. Aku juga yakin, hari yang biasanya cepat dilalui, mendadak begitu lama setiap putarannya.

Saat ini kau mungkin tengah berkumpul bersama kedua kakak laki-lakimu, menanyakan pengalaman mereka saat pertama kali memegang tangan ayah mertuanya untuk kemudian mengucapkan ijab kabul. Pastinya mereka membantu mengurangi kecemasanmu, kecemasan saat esok engkau pun akan seperti mereka.

Saat ini mendadak matamu tak dapat terpejam, meski selalu dan selalu kau usahakan. Kau tak sabar menanti esok tiba. Saat kau akan meluruhkan masa lajang dan berubah status menjadi suami.

Kau mungkin tengah menghapal ijab qobul, mempertegas namanya dalam bait-bait doa. Dan berharap esok berjalan lancar. Sungguh beruntung gadis itu, dia berhasil memiliki kamu seutuhnya, ragamu dan juga hatimu. Dan sungguh malang diriku, hingga detik ini pun hanya bisa memiliki predikat sebagai pemujamu-tak lebih.

Tak apa, aku memang terhenyak, aku memang tersentak. Siapa yang tak akan bersedih dengan itu? Aku bahkan harus menyaksikan semuanya secara nyata. Esok aku menjadi anggota yang ikut dalam acara hantaran. Esok, aku akan melihat sendiri, bagaimana kamu mengucapkan ijab kabul. Sungguh, aku merasa menjadi makhluk termalang.

Aku akui aku kalah, kalah untuk bisa menjadi menantu di tengah orang tuamu. Kalah untuk menjadi adik ipar, dan kalah untuk menjadi seorang tante. Bahkan kalah, untuk bisa menjadi ibu dari anak-anakmu. Sudahlah.. Hal ini membuatku banyak belajar. Manusia memang memiliki 2 sisi berlainan dalam hidupnya. Saat kamu bahagia, maka sisi lain kehidupan yang bersinggungan denganmu tengah bersedih. Dan itu memang aku.

Tak perlu menanyakan kapan aku mulai jatuh cinta. Karena apapun yg kujawab, tak kan pernah mengubah keputusan menikahmu.

Aku ingin belajar tega sekali-kali. Aku sesungguhnya ingin berdoa, supaya ada badai yang membuat kalian tak jadi menikah. Tapi, doa itu sendiri begitu menakutkan untuk kuucapkan.

Akhirnya, aku memilih diam. Menghapuskan namamu dalam rapalan doaku. Membuang semuanya tentangmu. Aku cukup baik-baik saja saat ini. Benar, aku memang menangis olehmu. Menangis dalam pelukan Tuhan, membaitkan doa terakhir untuk kebahagiaanmu.

Dan mungkin setelah ini aku akan kembali lagi ke Ohio, USA. Hidup harus terus berjalan, dan program pascasarjana pun harus tetap kurampungkan.

Aku begitu merindukanmu Rayhad, teman masa kecil sekaligus cinta pertamaku. Dari masa sekolah taman kanan-kanak sampai SMA kita selalu bersama. Semoga kau berbahagia selalu.

Dari Teman masa kecil yang mencintaimu dulu, kini dan selamanya.

With Love for You :')

@AchyNova
020413

Aku, Kamu dan Mereka.

Langkah kita setiap detiknya terasa semakin menyesakkan jiwa. Hingga sejauh ini, kita masih saling memperjuangkan cinta. Cinta agung yang didalamnya tak memiliki restu dan doa.

Tangan kita masih saling menggenggam. Hati kita masih saling bertaut. Juga dengan KITA, masih terus bertahan untuk saling memiliki. Tapi mengapa realita kisah kita tak semanis cara kita untuk mencintai?

Sering aku bertanya, kenapa cinta kita tak semulus cinta orang-orang diluar sana? Apa yang salah dari kita? Mengapa tak kita dapatkan anggukan kepala tanda setuju dari orang tuamu, dari orang tuaku, dari orang tua kita? Naifkah kita, sayang? Menjalani hubungan layaknya sang pencuri ayam; sembunyi-sembunyi juga diam-diam.

Mengapa mereka tak melihat ketulusan kita? Mereka masih terus berusaha memisahkan kita. Tak mungkin jika mereka tak tahu kita saling mencinta, kecuali mereka memang sengaja menjadi orang-orang yang buta dan tuli hati.

Sesungguhnya aku ingin marah dengan keadaan kita yang menyedihkan seperti ini. Tapi apakah dengan kemarahanku, membuat mereka pada akhirnya memberi restu? Entahlah sayang, kisah kita terlalu rumit meski sekedar untuk dipahami.

Sayang, jika kita bersikap keras untuk menghadapi mereka, bukankah kita sama saja seperti mereka? Batu tak harus dilawan dengan batu kan? Kita hanya perlu menjadi air untuk melunakkan kerasnya hati mereka.

Tak apa sayang, ikutilah dulu mau orang tuamu untuk menjodohkanmu dengan gadis yang menurut mereka baik. Temuilah dulu dia. Meski sesungguhnya aku sangat tahu, berat langkahmu menemuinya, sama seperti hatiku yang berat melihat punggungmu menjauh dari tatapanku; kepergianmu menuju wanita itu.

Hingga detik ini, masih tak kita temukan jawaban logis dari ketidak restuan orang tua kita. Bukankah aku dan kamu hanya menjalani skenario Tuhan terhadap kita. Bukan tanpa maksud pertemuan kita dalam hingar bingar keramaian orang. Tentu saja, tangan Tuhan yang menempatkan kita pada pertemuan manis yang berulang. Hingga pada akhirnya kita bersama saling mencinta, semua karena campur tangan Tuhan didalamnya.

Kenapa kita harus selalu dipersalahkan dan ditentang, sayang? Selama ini, kita hanya saling bertemu, saling bercerita, saling menggenggam, tak ada yang lebih dari itu. Bukankah sejauh ini pun kita bisa bertahan untuk tak melanggar norma-norma yang ada?

Sayang, kuharap kita akan terus saling menguatkan. Kuharap kita akan tetap saling berpegangan tangan. Kuharap kita akan terus berjuang, hingga hati orang tua kita bisa mencair dan melunak.

---------------------------------------------------
@AchyNova
220413

Sepiring Kwetiau Goreng Dan Kamu....

Masih, telepon genggam itu masih menempel ditelinga kananku. Suara khas diujung sana membuatku menyadari bahwa aku memiliki janji dengannya. Spontan, aku langkahkan kakiku dengan sedikit tergesa-gesa. Tak kupedulikan dunia sekitar, tak kulihat kanan-kiri, selain fokus pada tujuanku yang satu, segara menemukan taxi dan secepatnya pergi meninggalkan kantor ini demi menemui dia yang diujung sana.

Bodoh. Tolol. Oon. Mungkin itulah Kata yang paling pas menggambarkan aku saat ini. Hampir saja, hampir saja aku lupa bahwa aku memiliki janji dengan tunanganku ini. Hampir saja, aku melakukan kesalahan yang sudah 4x berulang - dan dia masih memberiku maaf dengan senyumnya. Padahal tak banyak yang dia minta dariku pada janji hari ini, selain hanya pertemuan petang hari demi melepaskan rasa rindunya; tidak denganku.

Dari kejauhan dapat kulihat dia duduk sendiri dengan ditemani jus jambu favoritnya. Telunjuknya berpetualang diatas layar sentuh androidnya. 45 menit aku terlambat, semakin lengkap sudah perasaan bersalahku padanya. Segera kuhampiri dia dan meminta maaf atas keterlambatanku yang kesekian kalinya ini. Dan selalu saja, senyuman tulus menjadi wakil satu-satunya untuk menjawab betapa dia tidak marah dengan keterlambatanku.

Jujur saja, sekali-kali aku ingin dia marah. Aku ingin melihat dia yang emosional dengan kesalahan-kesalahanku. Jika perlu, gebrakan meja pun aku mau menerimanya. Dan apa yang aku dapatkan? Nihil. Tak pernah ada bentakan, tak pernah ada amarah, sekedar melihat mukanya memerah karena emosi tertahanpun tak pernah ada. Benarkah dia itu manusia? Atau malaikatkah dia? Ah sudahlah, mungkin dia tak memiliki limit untuk sebuah kesabaran.

"aku sudah pesankan makanan untuk kamu, sama seperti yang aku pesan juga" dengan semangat dia menjelaskan hal itu. Hal yang sebenarnya amat tidak penting bagiku. Hanya anggukan dan senyuman simpul yang kuberikan, tentu saja, karena aku memintanya memesan makanan yang sama dengannya diakhir pembicaraan kami di telepon.

Tak lama berselang, makanan itu kini tersaji diatas meja kami. 2 piring kwetiau goreng seafood dan 2 gelas cappuccino float. Menu yang sama yang pernah tersaji 3 tahun lalu. Aku terdiam, memperhatikan yang ada didepan mata hari ini. Aku mengingatnya lagi. Mengingat orang yang 3 tahun lalu memilihkan menu ini. Orang berbeda dan tempat yang berbeda. Dan selama 3 tahun juga, aku tak pernah mau memakan kwetiau goreng lagi. Karena aku ingin melupakannya.

Dan hari ini tunangankulah yang mempersiapkan semuanya untukku. Dia memang tidak tahu, aku memiliki kenangan manis dengan dua hal ini. Tapi, bagaimana bisa setepat ini? Entahlah. Aku masih belum mau menyentuh makanan itu, sementara dia sudah menyantapnya dan meresapi setiap helai yang masuk ke mulutnya.

"Aku tahu, kamu memiliki kisah dengan kwetiau ini 'kan?" ucapnya tiba-tiba, masih dengan mulut yang mengunyah dan sumpit yang berada disela jari-jari tangan kanannya, hingga apa yang dimulutnya beralih ke perutnya, dan dia pun menyimpan sumpitnya diatas piringnya. Tiba-tiba tangan kanannya meraih tanganku dan menggenggamnya, dengan menarik nafas panjang ia melanjutkan lagi kata-katanya, "Maaf kalau aku memaksa kamu mengingat semua ini, bukan maksud ingin membuat kamu terluka, tapi berharap kamu bisa bahagia. Jika ini mengandung kenangan manis, kenapa akupun tak menghadirkan kenangan yang sama? Aku ingin kamu tahu, aku rela jadi dia asal aku tetap bisa melihat lengkung senyum dibibirmu. Akan kukolaborasikan kenangan kamu bersamanya dengan aku yang berbeda, sehingga aku tetap jadi aku yang memberi warna yang sama seperti dia."

Hening, aku hanya terdiam dalam kebisuan. Sungguh, hatiku tertohok mendengar semuanya. Dia yang ada dihadapanku adalah orang dengan hati yang lembut. Dia, dia membiarkan dirinya tahu semuanya tanpa pernah meminta penjelasan apapun dariku. Apa yang aku fikirkan sebenarnya, sudah jelas dialah yang dikirimkan Tuhan untuk menggantikannya. Kebaikannya, tutur katanya, senyumannya lebih indah daripada orang itu. Aku hanya harus bersyukur dan membiarkan hatiku berjalan dengannya.

Terima kasih Azka Fahlevi.
Terima kasih telah bersabar menungguku.
Terima kasih untuk senyuman yang memaafkanku.
Dan untuk cincin yang sudah melingkar manis ini,
aku berjanji akan menjaganya.

With Love for You :')

@AchyNova

Entah harus disebut apa Kisah Ini?

Saya hanya mampu mengucapkan kata "sabar" pada perbincangan kami di ujung telpon. Dapat kubayangkan matanya sudah bengkak saat ini, dengan ujung hidung yang sudah memerah menahan isak tangis yang membebani hatinya. Setiap cerita yang mengalir deras dari mulutnya, cukup menggambarkan luka hatinya yang tak kasat mata. Dan, melalui ceritanya, saya bisa merasakan sakitnya mencintai pria salah yang memberi harapan kosong padanya.

Padahal, wanita ini sesungguhnya mengetahui cerita cintanya akan seperti ini. Dia amat paham, jika pria yang ia cintai sudah bertunangan dengan wanita lain, dan akan menikah. Namun, teman saya ini sungguh keras kepala, entah dimana pikirannya saat cinta menyentuh dan mempertemukannya dengan pria yang salah.

Sebuah keadaan mendesak menjadi pembuka jalan kisah cintanya dengan pria itu. Harus saya akui, saya ikut mengambil peran (meski tak langsung) dalam kisah mereka yang begitu rumit untuk dipahami. Saya masih ingat, teman saya itu begitu tergesa menghubungi saya. Dia memohon supaya membantunya mengenalkan dengan teman saya anak Teknik Informatika (TI). Saat itu, wanita ini sedang menghadapi tugas untuk membuat kamus bahasa sunda dengan menggunakan program yang membuatnya kesulitan dan membutuhkan bimbingan dari anak TI. Dia hafal kalau saya memiliki akses penghubung dengan anak jurusan TI yang secara tingkat intelektualnya bisa dikatakan jenius. Akhirnya saya pun luluh. Saya selalu merasa tak tega jika harus melihat teman saya menderita dengan tugas-tugas kampus yang membebaninya. Saya rekomendasikan wanita itu pada pria teman masa kecil saya. Dengan catatan, wanita ini harus berusaha membujuknya sendiri, bukan oleh saya. Beruntung, teman saya ini bersedia membantu wanita ini. Saya pun merasa lega dan membiarkan mereka bekerja sama tanpa saya; meski teman saya meminta untuk menemaninya, dan saya tolak, karena saya enggan bertemu dengan mantan saya yang juga temannya.

Diluar yang saya kira, teman saya ternyata mengajak salah satu temannya untuk ikut membantu wanita ini. Entah apa yang terjadi, hanya yang saya tahu pada akhirnya wanita ini memiliki hubungan perasaan dengan pria teman saya. Jelas, saat itu wanita ini tak mengetahui jika pria itu sudah bertunangan. Karena pria itu selalu meyakinkan wanita ini jika dia tak memiliki kekasih.

Hari-hari mereka selalu dihiasi cinta. Saya sungguh tak paham, bagian mana dari mereka yang membuatnya saling jatuh cinta. Saya biasanya hanya kebagian peran menjadi seorang pendengar saja - tak lebih.

Sumpah! Saya pun bisa merasakan sakit yang wanita ini rasakan. Saat dengan tegas pengakuan nyata statusnya meluncur tanpa hambatan dari mulut sang pria. Siapa yang tidak terkejut. Siapa yang tak merasa dibohongi. Siapa yang akan sanggup dengan itu. Siapapun pasti akan menangis mendengar kenyataan yang tak semanis kisah mereka sebelum pengakuan itu. Jelas, andai wanita itu adalah saya, saya akan maki dan mulai menjauh dari pria brengsek itu.

Sekali lagi, pria ini lebih beruntung karena mengenal teman saya, bukan saya. Setidaknya pria ini hanya mendapat senyuman tulus dari sang wanita, bukan makian yang seharusnya dia dapatkan.

Pria ini hanya mahasiswa yang biasa saja. Tak pintar apalagi jenius, dan wanita yang kudengarkan ceritanya tadi sangat jatuh cinta pada setiap hal terkecil tentang pria ini. Cinta semakin mengambil perannya, mereka sama-sama larut dalam cinta yang terlalu membabi buta. Meski status nyata si pria seakan-akan menjadikan mereka buronan cinta.

Yah mungkin memang begitulah cinta buta, akal dan logika tak berlaku dalam aturan cinta mereka. Dan saya, lagi-lagi hanya bisa mengatakan "sabar" pada wanita ini.

@AchyNova
040513