Nak, sedang apa kau di surga sana? Bermain-kah? Kurasa disana tak ada kesedihan seperti disini, ya, sayang, aku yakin Tuhan sangat menjamin kebahagiaanmu. Berjanjilah jangan nakal disana.
Nak, maaf kehadiranmu di rahimku agak tertunda, entah sampai kapan. Kekasihku kemarin memang mungkin bukan calon ayahmu. Beliau tak sungguh-sungguh berniat menjadikan aku istri dan ibu bagi anak-anaknya kelak. Aku mungkin masih belum pantas untuknya sehingga dia memilih pergi meninggalkanku dan berhenti memperjuangkanku.
Sudahlah, kamu jangan kecewa. Tuhan pasti sudah mempersiapkan pria terbaiknya untuk jadi ayahmu. Pria yang pasti menomor satukan kamu dan aku. Pria yang selalu merapalkan nama kita dalam doa-doanya. Pria yang menegaskan dirinya bahwa ia adalah seorang ayah yang baik bagimu dan suami yang penyayang bagiku.
Nak, beberapa waktu lalu aku menggendong sepupumu. Dia bernama Akmal. Menggendongnya sungguh membuat aku merasa menjadi ibunya. Barangkali seperti itu jika kau hadir dalam pelukanku. Kadang menangis manja. Kadang merengek minta susu. Kadang tertawa lucu. Tapi aku bahagia, kamu anakku (kelak).
Nak, sebenarnya kali ini aku sedang bersedih. Entah kenapa aku begitu takut kakekmu ataupun nenekmu tak bisa melihatku berjuang melahirkanmu. Padahal kamu adalah hal yang begitu mereka mimpikan. Nak, doakanlah kakek nenekmu sehat selalu. Agar aku bisa mewujudkan segala harap mereka dipundakku.
Ini memang tak mudah bagiku. Aku berdiri diantara harap kedua orang tuaku. Untuk bisa menikah, dan juga melahirkan. Aku pikir, aku bisa berbagi beban ini dengan kekasihku. Aku pikir dia memang calon terbaikku. Aku salah, nak, salah besar. Baru saja dia di tanya soal pernikahan, dia sudah memilih menyerah. Dan lagi-lagi aku harus berkorban hati dan terluka.
Tapi tak apa, nak, aku pasrahkan saja. Aku lelah. Kali ini kuserahkan calon ayahmu pada Tuhan. Biar Tuhan yang memilihkan.
Nak, aku tak bermaksud membebani kamu. Aku hanya ingin bercerita karena jika harus kukeluhkan pada nenekmu, aku takut beliau sedih. Dan aku tak kuat jika beliau menyaksikan aku meneteskan air mata. Air mataku adalah luka bagi beliau.
Nak, aku rasa sudah dulu keluh kesahku. Maafkan bunda yang belum bisa menghadirkan kamu bersamaku.
Peluk cium dariku,
Bunda
16 Desember 2014
@achynova