Monday, December 15, 2014

Surat Cinta; Nak, Bunda sedih

Nak, sedang apa kau di surga sana? Bermain-kah? Kurasa disana tak ada kesedihan seperti disini, ya, sayang, aku yakin Tuhan sangat menjamin kebahagiaanmu. Berjanjilah jangan nakal disana.

Nak, maaf kehadiranmu di rahimku agak tertunda, entah sampai kapan. Kekasihku kemarin memang mungkin bukan calon ayahmu. Beliau tak sungguh-sungguh berniat menjadikan aku istri dan ibu bagi anak-anaknya kelak. Aku mungkin masih belum pantas untuknya sehingga dia memilih pergi meninggalkanku dan berhenti memperjuangkanku.

Sudahlah, kamu jangan kecewa. Tuhan pasti sudah mempersiapkan pria terbaiknya untuk jadi ayahmu. Pria yang pasti menomor satukan kamu dan aku. Pria yang selalu merapalkan nama kita dalam doa-doanya. Pria yang menegaskan dirinya bahwa ia adalah seorang ayah yang baik bagimu dan suami yang penyayang bagiku.

Nak, beberapa waktu lalu aku menggendong sepupumu. Dia bernama Akmal. Menggendongnya sungguh membuat aku merasa menjadi ibunya. Barangkali seperti itu jika kau hadir dalam pelukanku. Kadang menangis manja. Kadang merengek minta susu. Kadang tertawa lucu. Tapi aku bahagia, kamu anakku (kelak).

Nak, sebenarnya kali ini aku sedang bersedih. Entah kenapa aku begitu takut kakekmu ataupun nenekmu tak bisa melihatku berjuang melahirkanmu. Padahal kamu adalah hal yang begitu mereka mimpikan. Nak, doakanlah kakek nenekmu sehat selalu. Agar aku bisa mewujudkan segala harap mereka dipundakku.

Ini memang tak mudah bagiku. Aku berdiri diantara harap kedua orang tuaku. Untuk bisa menikah, dan juga melahirkan. Aku pikir, aku bisa berbagi beban ini dengan kekasihku. Aku pikir dia memang calon terbaikku. Aku salah, nak, salah besar. Baru saja dia di tanya soal pernikahan, dia sudah memilih menyerah. Dan lagi-lagi aku harus berkorban hati dan terluka.

Tapi tak apa, nak, aku pasrahkan saja. Aku lelah. Kali ini kuserahkan calon ayahmu pada Tuhan. Biar Tuhan yang memilihkan.

Nak, aku tak bermaksud membebani kamu. Aku hanya ingin bercerita karena jika harus kukeluhkan pada nenekmu, aku takut beliau sedih. Dan aku tak kuat jika beliau menyaksikan aku meneteskan air mata. Air mataku adalah luka bagi beliau.

Nak, aku rasa sudah dulu keluh kesahku. Maafkan bunda yang belum bisa menghadirkan kamu bersamaku.

Peluk cium dariku,

Bunda
16 Desember 2014
@achynova

Sunday, December 14, 2014

Kekasih Terbaik

Teruntuk pria yang pernah menjadi ksatria pujaanku.

Aku menulis ini ketika rasa lelah menderaku. Kelelahan yang berhasil menguras habis hati dan jiwaku. Dan ini tak pernah kurasakan saat bersamamu, dulu.

Sayang, bersamamu dalam kurun waktu tiga tahun itu bukanlah hal yang bisa kulupakan begitu saja. Apalagi jika harus kuberikan peringkat diantara semua kekasihku, kau adalah yang menduduki juara umum. Kau baik, mereka juga baik, tapi kau berbeda, kau lebih tau cara membuatku tertawa. Kau selalu tahu jika ada hal darimu yang membuatku kecewa. Langsung saja kau meminta maaf dan tak pernah kau ulangi lagi hal yang membuatku kecewa itu.

Kau begitu paham cara meredam aku yang terkadang uring-uringan ketika merindukanmu. Kau selalu bilang padaku, "tunggu sayang, hari jumat masih dua hari lagi. Tolong bersabar sejenak, cinta kita memang memakan jarak ratusan kilo." Dan kata-kata itu selalu membuatku belajar memahami kalau kau dan aku memang sedang menjalankan kisah dimana jarak menjadi pembatasnya.

Seingatku, kau tak pernah tiba-tiba menghilang. Sebisa mungkin kau akan mengabari meski hanya sambungan telepon disela makan siangmu. Jika kau harus bekerja ekstra waktu, kau akan meminta maaf tak bisa menemani aku sampai aku terlelap dibuai mimpi melewati telepon. Padahal setiap malam, kau selalu bernyanyi A Thousand years sampai aku tertidur.

Aku selalu merindukan itu, sayang, selalu. Jika aku mengingatmu, aku selalu ingat jadwal lari yang biasa kau lakukan sewaktu di Bandung. Setiap selasa sore dan sabtu pagi kau pasti bilang padaku akan lari jika sempat. Aku tak pernah bisa menemani, padahal aku sangat ingin bisa lakukan itu. Dan sayangnya, sampai kau harus hijrah ke jakarta, aku masih belum bisa mewujudkannya.

Sayang, padahal kita tak mudah melewati kisah itu. Tapi, semua terasa sangat indah bahkan jika di banding kisahku kali ini yang tak berjarak. Kau lebih memahami daripada dia. Kau lebih nice daripada dia. Kau lebih wise daripada dia. Aku tahu kalian tak sama dan tak akan pernah sama, tapi dia memang tak pernah manis sepertimu, dia tak sepenuhnya mencintaiku.

Mungkin saja jika restu itu bisa kudapatkan dari ibumu, kita mungkin sudah menikah saat ini. Aku mungkin baru saja melahirkan anak kita. Dan ironinya ini hanya mimpi yang sudah menguap begitu saja.

Sayang, aku menulis ini, karena aku ingat kamu yang memang kekasih terbaik. Dan jika kamu mengerti, bisa kamu simpulkan bahwa kekasihku saat ini tak seperti kamu.

With love for you :')

@Achynova
15 Des 2014

Saturday, December 13, 2014

Aku hanya takut, Ayah...

Ayah, belum pernah aku merasakan ketakutan seperti ini. Belum pernah aku merasakan bayangan kehilangan seperti ini. Ini baru terjadi. Kali ini.

Ayah, semoga di sisa waktumu, aku bisa merasakan bagaimana saat kelak kau menggenggam tangan pria yang akan kusebut suami. Kau merapalkan namaku pada ijab kabul yang kelak berlangsung. Meski dengan terbata, kau tetap berusaha agar semuanya berjalan lancar.

Duduk diantara kita, ada perempuan cantik yang setia menunggu di barisan lainnya. Menahan haru karena bisa menyaksikan putri kecilnya bersanding dengan pria terbaik dari Tuhan. Perempuan yang selama beberapa dekade mengabdikan dirinya padamu, dan dengan penuh kasih sayang membesarkanku.

Ayah, ibu, berjanjilah kalian akan bertahan sampai aku bisa mewujudkan keinginan itu. Doakanlah aku agar keberkahan selalu menyertaiku.

Perihal pria yang baru saja menyakiti hati putrimu ini, berjanjilah untuk tak membencinya. Dia hanya belum siap menjadikan putrimu ini sebagai istrinya. Dia mungkin lebih mendamba gadis lain untuk menjadi istrinya, bukan aku. Tak apa, ayah, aku percaya, kelak tangan pria yang tepat yang akan mencium punggung tanganmu, kemudia dia akan berkata padamu, "izinkan aku menjaga putrimu dan menjadikannya istri juga ibu dari anak-anakku".

Ayah, sekarang aku senang memperhatikan tawa lepasmu saat sedang menyaksikan acara TV favoritmu. Agar kelak ketika aku merindukanmu, aku bisa mengingat tawa itu, walaupun mungkin kuingat dalam balutan tangis yang tak henti.

Ayah, aku hanya takut. Aku sedang sangat takut. Takut kehilanganmu. Takut kehilangan rasa cemasmu yang terkadang berlebihan dan menyebalkan. Takut jika Tuhan mengambilmu dariku.

Aku hanya takut, Ayah...

15 Desember 2014

@AchyNova

Thursday, December 11, 2014

Terbalik

Tiga hari sudah aku tak berstatus kekasihnya lagi. Ada kelegaan yang membuncah tatkala aku memutuskan untuk melepaskannya. Gadis yang empat bulan lalu menjadi kekasihku itu kulepaskan sudah. Aku memang tak terlalu mencintainya. Apalagi setelah saat dimana kakeknya secara tak langsung menyuruh kami segera untuk menikah, aku mulai merasa jengah padanya.

Ini memang bukan kali pertama aku merasa jenuh padanya. Di bulan pertama menjalin kasih dengannya pun aku sudah merasa jenuh. Hanya saja jika aku putuskan untuk meninggalkannya aku tak tega. Dia sudah menyukaiku cukup lama, aku tahu itu, hampir satu tahun lamanya. Dan saat waktu mempertemukanku lagi dengannya, aku berpikir tak ada salahnya mencoba menjalin hubungan dengan dia. Sekedar mengisi kekosongan saja.

Beberapa kali dia menghubungiku, kuacuhkan dia. Pesan BBm nya pun tak pernah aku baca. Kubiarkan saja semuanya. Aku muak padanya. Saat libur kerja pun, sengaja aku tak menghubunginya. Aku lebih suka diam dirumah dan menghabiskan waktu untuk main PES saja. Aku tahu, disana dia pasti sedang harap cemas menanti kabar dariku. Ah, aku tak peduli sama sekali.

Namun, entah kenapa, perasaan menyesal kini sedang menghantuiku. Aku merasa ada yang hilang setelah aku memutuskan sebelah pihak cintanya. Apalagi biasanya jika saat waktu kosong, aku sering menghabiskan waktu bersamanya.

Dulu, jika aku sedang olah raga lari, dia selalu ada menemaniku. Sambil duduk dan menunggu tas milikku, dia fokus memperhatikanku. Jika tanpa sengaja kami saling bertatap, dia tersenyum padaku dan menanyakan sudah berapa putaran aku berlari. Namun kali ini berbeda. Dia tak ada disana.

Aku ingat, bagaimana dia dengan telaten merawat wajahku. Dengan senang hati dia membersihkan wajahku dan memberikan masker wajah yang biasa ia gunakan. Tak jarang juga dia mau memijit kepalaku dengan lembutnya. Dia pun mau mencatok rambutku ketika baru selesai keramas di rumahnya.

Dia tahu jika kesukaanku adalah susu putih panas. Jika aku kerumahnya segelas susu itu selalu disajikannya dengan keikhlasan. Jika ada tukang bakso tahu lewat, dia selalu menanyakan apakah aku mau makan itu atau tidak. Jika iya, sepiring siomay, dengan beberapa kentang dan kol rebus dia belikan untukku. Dia tahu semua kesukaanku termasuk aku yang tak suka pedas.

Barangkali dia adalah kekasih yang secara sikap sangat memahami aku. Tapi entah kenapa aku malah menyakiti dia terus menerus. Tak ada kekasih yang sebaik dia saat mengurusku. Tak ada kekasih yang tahu aku lebih baik seperti dia. Tak ada kekasih yang demi aku mau mengorbankan idealismenya seperti dia. Dia memang baik, tapi aku bodoh melepaskannya. Dia memang baik, tapi aku bodoh menyia-nyiakannya. Inilah ketololan terbesarku. Inilah kesalahan yang entah apakah dia mau memaafkanku atau tidak. Yang pasti, aku menyesali semuanya.

Monday, December 8, 2014

Kisah beras dalam kantong plastik hitam

Selepas kerja segera aku bergegas pulang menuju kost ku. Dapat kubayangkan bagaimana berantakannya tempat tinggalku itu. Sudah tiga hari ayahku menginap disini. Dan baru senin ini beliau pulang ke rumah.

Sesampainya di kost ku aku bermaksud mengisi ulang wadah beras yang sudah mulai menipis. Aku tahu, dua hari yang lalu beras di masak oleh ayahku sehingga persediaan beras pun bisa dikatakan habis. Aku tak mempersoalkan beras itu sedikitpun, lagipula memang sudah waktunya aku mengisi beras lagi. Aku memang sempat agak meradang, ketika kubuka magic com masih tersisa nasi yang agak banyak. Kesal luar biasa, kenapa ayahku harus menanak nasi banyak. Ah, sudahlah, mau marah pun tak pantas. Segera saja aku bergegas ke dapur untuk mengambil wadah beras. Saat aku mengambilnya, aku sedikit heran ada bungkusan kantong hitam didalamnya. Saat aku buka ternyata isinya adalah beras. Ya Allah aku menangis sejadi-jadinya saat itu juga. Entah kenapa bayangan masa depan terasa begitu kelam di pelupuk mataku. Sedihnya lebih sedih daripada bayangan aku yang akan segera ditinggalkan kekasihku. Entah kenapa semua bayangan berseliweran di kepalaku. Bagaimana jika aku tidak bisa membahagiakan mereka? Bagaimana jika aku menikah tanpa di dampingi mereka? Bagaimana jika bukan ayahku yang menjadi wali dalam pernikahanku kelak. Bagaimana jika anak-anakku tak mengenal sosok kakek neneknya?

Seketika saja perasaan bersalah muncul. Aku merasa menjadi anak paling egois. Aku hanya memikirkan kebahagiaanku saja. Padahal orang tuaku masih saja memikirkan kondisiku di usiaku yang sudah besar ini. Benar kata pepatah, kasih orang tua sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Dalam keadaan yang serba seperti ini pun, beliau mungkin ketakutan jika anaknya akan kelaparan karena jauh dari mereka.

Ya Allah, sebelum aku sukses membahagiakan mereka, sehat dan panjangkanlah usia mereka. Aku ingin melihat rinai kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Aku ingin mendengar kata "ini cucuku" saat aku melahirkan anakku kelak. Jangan lagi ada tangisan untukku dari mata mereka, kecuali tangisan kebahagiaan ketika melihat aku menikah dengan pria terbaik pilihan-Mu.

Ya Allah, mereka berharga untukku. Aku sayang mereka. Jaga mereka dan berkahilah kehidupan mereka. Aamiin.

Bandung, 11 Desember 2014.

@AchyNova.

P.s.
Masih berbalut air mata kutuliskan ini. Tulisan yang kudedikasikan untuk kedua orang tuaku yang hebat. Aku sayang kalian.

Aku bukan pemenang

Kepada yang terhormat,
Tuan Masa lalu.

Hai, Tuan, bagaimana kabarmu kali ini? Baik-baik sajakah? Kuharap kau bisa menjaga diri setelah bukan aku lagi yang memperhatikan dirimu. Ya, pada bagian ini bukan aku yang tak memedulikanmu, tapi keinginanmulah yang menginginkan aku berhenti untuk manjadi penghuni kerajaan dalam kehidupanmu.

Ah, siapa aku bagimu, selain hanya kau pungut sejenak dan setelah tak diperlukan lagi kau buang aku dengan sangat tidak terhormat. Padahal, kukira aku adalah perempuan yang akan kau muliakan hidupnya. Yang sejatinya akan kau jadikan istri dan ibu bagi anak-anakmu kelak. Semesta pun sepertinya tahu, kau selalu berkelakar tentang pernikahan dan anak kita masa depan, bukan aku. Kau hanya meninggikan harap lalu kau hempaskan setelah bosan.

Hebatnya dirimu, Tuan, kau menyembunyikan aku dari keramaian dunia yang (menurutmu) menyenangkan itu. Meski kau berdalih jika kau malu memiliki hubungan denganku untuk apa kau selalu mengajakku jalan keluar? Ah, bisa saja, lagipula kau membawaku pada keramaian dunia dimana yang terdapat didalamnya bukanlah orang-orang yang kamu kenal. Realitanya aku memang kau sembunyikan. Aku memang tak berarti bagimu.

Sialan!! Kenapa aku harus bertekuk lutut pada pria sepertimu. Kenapa aku harus mencintai pria yang tak pernah tulus mencintaiku. Kenapa aku harus mau direndahkan oleh pria yang selalu kuagungkan keberadaannya.

Bahkan hingga akhirnya aku menangis oleh ulahmu, kau masih bisa tertawa dan bersenang-senang. Kau samasekali tak memedulikan bagaimana merasa terhinanya keluargaku oleh kamu. Apa salah mereka padamu, padahal jelas, ibu yang melahirkanku saja dengan terang mengatakan dia menyayangimu. Ibu yang tak bersalah ini pun harus mengubur harap ketika kau yang disayanginya tak akan jadi menantunya.

Aku bisa apa? Aku tahu diri, sakitku adalah sakit ibuku. Tangisanku adalah tangisan ibuku. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, aku harus bermain drama didepan mereka. Aku menyembunyikan tangisan kala kuingat kau sebegitu jahat padaku, tuan.

Bahkan hingga detik ini, aku rasa-aku sudah mahir memainkan peran ini, di depan semua orang pun aku seperti orang yang tak memikirkan sakit. Padahal kenyataannya, aku masih terseok-seok untuk kembali bisa bangkit.

Tuan, tenang saja, aku sudah memaafkanmu. Tapi, bukan berarti aku tak akan mengingat semua yang sudah kauperbuat padaku. Aku tak akan membencimu. Biar bagaimanapun, kau sudah lebih dulu pernah membuat aku bahagia.

Rasanya tak perlu aku membuang waktu mendoakan keburukan untukmu. Sekedar mengucapkannya pun aku malas. Semua perbuatanmu padaku, biarlah urusanmu dengan Tuhan, aku tak akan ikut campur lagi.

Terima kasih sudah mampir dalam kehidupanku, Tuan masa lalu.

Bandung, 30 Des 2014
©achynova

Friday, December 5, 2014

Terbiasa menjadi nomor dua

Aku mulai membiasakan diri menjadi nomor dua. Terlebih dalam urusan hati. Sekarang aku sudah terbiasa, sayang, memposisikan diri menjadi bagian kedua dalam hidupmu. Siapa sih, aku? Selain hanya perempuan yang memiliki predikat kekasih tapi tak menjadi perempuan spesial yang di utamakan. Apalah arti aku untuk kamu, entahlah?

Apakah kamu tahu, sayang, kamu selalu menjadi orang yang kunomor satukan. Aku bahkan sering membatalkan janji dengan temanku ketika kamu mengatakan akan kerumah. Semua demi kamu, sayang, demi kamu! Tapi kamu sering tak melakukan hal yang sama kepadaku.

Seperti waktu itu, saat PERSIB masuk di babak final. Semua warga Bandung, berencana untuk nonton bareng, entah itu di balai kota atau juga di taman film. Temanku mengajak nonton bersama, aku dengan kamu, dan dia dengan suaminya. Dengan harapan kau mau, kau bilang kau pun memang mau nonton bareng dengan teman-teman kantormu. Darisana aku tangkap kesan kau tak ingin aku ikut. Kau sama sekali tak mengajak aku, padahal tempat kita merencanakan nonton itu ada di tempat yang sama, di Taman Film. Mungkin bagimu aku hanya akan jadi pengganggu kesenanganmu saja, atau mungkin kau malu memperkenalkan aku pada temanmu. Samasekali aku tak memaksakan diri, aku hormati keputusan kamu itu. Hingga akhirnya aku merencanakan nonton dengan temanku itu tanpa kamu di Balai Kota.
Belum kubuka pinta rumahku, kau sudah menelponku. Kau mengatakan tak jadi nonton bareng karena teman-temanmu entah dimana. Bukankah kau baru mengingat aku setelah temanmu tak menepati janjinya? Kau hanya menjadikan aku cadangan tatkala yang pertama tak bisa jadi yang utama.

Dengan berat hati kubatalkan juga rencana nonton dengan temanku. Aku memilih menghabiskan waktu dengan kamu di rumah saja. Tapi aku senang, prioritasku memang kamu. Kamu yang selalu menjadi nomor satu meski aku pasti menjadi nomor dua. Tak apa, bagiku kebahagiaanmu menjadi yang utama daripada kepentinganku.

Sayang, terkadang aku pun ingin kaujadikan nomor satu. Menurutmu, apakah aku pantas jika kau prioritaskan juga? Aku rasa iya, aku pantas, bukankah hubungan kekasih itu hubungan timbal balik? Dan aku ingin kaupun berbuat hal yang sama sepertiku. Apa kau bisa?

Aku masih belum kehilangan harap. Aku yakin kamu bisa bersikap sepertiku.

Bandung, 5 Des 2014

©achynova