TULISAN ini bisa jadi AKU ataupun KAMU. Tapi bisa jadi TULISAN ini Bukan AKU ataupun KAMU!!!
Saturday, October 19, 2013
Feel it!
DARI: PEREMPUAN YANG MENYEBUTMU CINTA PERTAMANYA.
Masa Orientasi Peserta Didik, Juni 2004.
Untukmu, pria yang kucari sosoknya selama lima tahun.
Barangkali, tulisan ini tidak akan kaubaca. Barangkali, tulisan ini akan terabaikan dan dimakan rayap. Barangkali juga, tulisan ini akan terbakar, menjadi abu, dan akhirnya hilang tak berbekas. Kemungkinan yang lain bahwa tulisan ini akan hilang sebelum sampai padamu, terkalahkan oleh banyaknya hal yang harus kauperhatikan. Apalagi kalau bukan masalah pekerjaanmu sebagai seorang Perencana Tata Letak Kota.
Aku memang tak berharap lebih kauakan membacanya, apalagi berharap kauakan memberikan tulisan balasan untukku. Aku sudah cukup bahagia, jika saat membaca ini ada simpul senyum yang terlukis sempurna disudut bibirmu. Hal itu jauh lebih baik daripada tak dibaca sama sekali dan kemudian diabaikan begitu saja. Lupakan siapa yang telah menulis ini dengan lancangnya! Lupakan siapa sosok dibalik ini semua yang mungkin saja menggelitik hatimu dan mengganggu kehidupanmu! Aku hanyalah gadis biasa yang sosoknya tak terlalu menarik keingintahuanmu. Gadis biasa yang diam-diam berani dengan lancang menjadi pengagum rahasiamu.
Untukmu, pria yang pernah berdebat denganku tentang hijab.
Awalnya, aku hanya mengenal sosokmu sebagai kakak kelas pembimbing di kelas X-4. Tapi, setelah kuketahui kamu dari temanku, aku menjadi gadis rajin yang mencari tahu sosokmu yang nyata. Ternyata, kamu dua tingkat diatasku, siswa yang duduk di kelas XII IPA 2. Kamu juga aktif pada kegiatan ekstra kurikuler bidang olah raga basket dan sepak bola, aku jadi ingin terus memperhatikanmu. Seketika saja kaurenggut habis perhatianku hingga celah terkecilnya.
Siapakah dirimu wahai pecinta sosok Sherlock Holmes? Apakah sosokmu begitu memukau seperti Sherlock Holmes saat memecahkan sebuah kasus? Aku tak ingin kehilangan jejakmu, sama sekali tak ingin. Akan kumaknai setiap jengkal hadirmu didekatku.
April 2009, itulah saat takdir menyudutkan kita dalam jengkal tatap maya yang biasa kita sebut kebetulan. Kebetulan saja aku dengan keisenganku memasukkan nama lengkapmu pada kolom pencarian aplikasi facebook. Keisenganku saja, mengirimkan permintaan pertemanan dan menggantung harap kauakan segera menerimanya. Dan lagi-lagi karena keisenganku juga, aku membuka profilmu dan menemukan nomor ponselmu tertera disana. Lalu, dengan setengah keberanianku, kukirimkan tiga huruf ajaib untuk menyapamu “Hai!”, meski harus kuterima balasan ketus darimu, “Siapa, ya??”.
Hal yang kusebut sebagai kebetulan dan keisengan ini ternyata telah membawaku terlalu jauh. Hari berganti minggu, siapa yang menyangka ternyata bayangmu mampu menyebabkan rasa penasaranku semakin bertambah. Sepotong kisah bernama kebetulan itu membawaku pada keberanian untuk mengakui, bahwa aku terus mencarimu selama lima tahun ini, meski harus dengan menurunkan rasa malu dan juga harga diri.
Untukmu Mahasiswa Ilmu Planologi yang kucintai.
Mungkin, kau akan tertawa membaca ini. Atau justru kauakan mengingat kembali hal-hal yang pernah terjadi pada kita sebelumnya. Kita pernah saling berbagi cerita melalui suara tanpa tatap. Jutaan pengakuan meluncur deras dari bibirku. Tak ada lagi rasa canggung, yang kupikirkan hanya ingin kamu mengetahui bagaimana berjuangnya aku menemukanmu. Ini tentu bukanlah mauku, menyimpan rasa suka yang berkepanjangan kepada pria dua tingkat diatasku. Apa menurutmu, aku gila karena sudah mencintaimu selama lima tahun ini? Andai hati adalah hal yang bisa kukendalikan, tentu saja, aku tak ingin berlama-lama mencintai pria yang sosoknya tak terlalu kuketahui. Dan inilah yang tak kupahami, cinta bisa dengan leluasa menguasai hatiku, meski kita tak pernah dekat sama sekali.
Aku sangat berharap bahwa saatnya nanti, Tuhan akan memberiku kesempatan untuk memiliki hatimu. Tapi, ternyata harapanku terbang terlalu jauh. Nyatanya, kita hanya bisa dekat lewat suara, bukan lewat tatap, ataupun tangan yang berjabat.
Realitanya, aku tak pernah tahu sosokmu dan dimana keberadaanmu saat ini. Aku begitu sulit mengetahui semua hal tentangmu, sekeras dan sekuat apapun usahaku. Meskipun bisa saja aku menerobos dengan kegilaanku untuk mengenalmu lebih jauh. Sayangnya, aku terlalu lemah untuk itu. Bagiku, janjimu yang tak pernah kaupenuhi padaku, jauh membuktikan bahwa aku memang tak menarik perhatianmu, sehingga tangisan kita yang pecah diujung telepon pada pengakuan itu, seperti menguap dan tak berbekas sedikitpun dihatimu.
Pada akhirnya aku memang memilih mundur. Meninggalkan harapanku. Berhenti untuk mengikuti bayang-bayangmu, dan memutuskan untuk melupakanmu.
Maafkan aku, karena sudah lancang mengusik kehidupanmu.
Maafkan aku, karena dengan lancang menulis ini untukmu.
Dari seseorang yang mungkin tak kaukenal.
Seseorang yang pernah bermimpi memilikimu.
With Love For You :')
@AchyNova™
120913
WANITA PILIHANMU.
Di setengah pagi yang sebuta ini, aku terbangun dari tidurku yang tak terlalu nyenyak. Kusingkap selimut tebal yang menutupi hingga bahu, yang menghangatkanku dari dinginnya malam yang mencekam. Ini salahku jika tidurku tak senyaman seperti biasanya, karena terbebaninya kepalaku untuk memahami keinginanmu.
Saat menulis ini, aku terus memperhatikan kicauanmu untuk wanita yang tak kukenal. Seseorang yang tergambar begitu sempurna melewati kata-kata diantara seratus empat puluh karakter yang terbatas. Aku menebak-nebak dan karena teka-teki itulah aku terluka parah. Seharusnya aku tak perlu mengikuti rasa keingintahuanku yang menggebu. Tak perlu lagi kucari-cari kabarmu dari sudut keabstrakan dunia maya, tempat segala tumpuan keinginanmu terjalin tanpa kuketahui, apakah itu realita atau hanya drama belaka.
Begitu kerasnya keinginanmu yang satu ini, Sayang. Sementara disini, aku masih menunggu kamu pulang. Hampir setiap malam, atau bahkan setiap saat, aku masih sering merindukanmu. Mengingat betapa dulu kita begitu dekat tanpa sekat. Aku merasa pernah kaubahagiakan, kauberi senyuman, kaubuat tertawa, juga terluka. Pada pertemuan kita enam minggu lalu, kamu duduk didepanku. Dengan lancarnya kaujelaskan wanita mana yang saat ini tengah kaucintai sosoknya. Wanita baik yang dengan senyumannya membuatmu terpesona seketika. Dia begitu spesial, dan begitu penting untukmu. Dan, inilah salahku, mengharapkanmu yang terlalu tinggi.
Jujur, mungkin saat ini aku memang tengah mencintaimu. Tapi, sisa-sisa dari harapan yang kutahu salah ini masih ada. Aku belum mau menerima kenyataan, kamu mencintai wanita lain, bukan aku. Mengapa aku tak bisa ikhlas mengetahui pilihanmu. Padahal, siapa aku untukmu. Selain hanya seorang teman tempatmu bersandar dan mengeluarkan keluh kesah. Tuan, sungguh aku tak paham maumu. Apa matamu begitu buta untuk melihatku, sehingga pandanganmu selaku tersekat bayangan wanita itu?
Aku hanya bisa melapangkan dada, nyatanya kaulebih memilih wanita yang mengalungkan salib dilehernya. Wanita yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan keyakinanmu. Bukan aku, wanita yang memiliki persamaan denganmu.
With Love For You :')
@AchyNova™
130913
Kekasih 3 hari, 2 jam, 5 jam, dan 6 jam.
Penghujung hujan senja hari, September 2013
Untuk, pria penyuka warna putih dalam hidupnya.
Entahlah, harus kemana aku mengalamatkan surat ini, kualamatkan sengaja kerumahmu atau cukup ke hatimu? Hanya saja aku merasa takut kalau saat membaca surat ini kamu malah mengernyitkan keningmu, dan kemudian menggelengkan kepala berulang kali, menahan rasa marah yang tak mampu kausampaikan padaku. Atau bisa saja, kamu malah menahan tawa, mendelik tajam, dan melemparkan candaan khasmu mengenai surat ini. Kau mungkin menganggapnya hanya lelucon lucu penghibur disela kesibukanmu sebagai seorang dokter. Ah, aku tak bisa begitu saja melupakan delik serta candaanmu padaku waktu itu, saat mie ramen yang kita santap menemani obrolan kita yang tak terlalu penting sebenarnya. Kamu yang tepat berada disamping kiriku, berhasil dengan cepat mencuri hatiku.
28 Desember 2012, itulah tanggal awal pertemuan kita, kamu tak perlu heran mengapa aku begitu mengingat setiap detail pertemuan kita? Aku ingat saat tubuhmu yang kurus tinggi terduduk manis sambil memandang kearah hiruk pikuknya jalanan ibu kota. Tanganmu memegang kendali sebungkus cemilan, lengkap dengan minuman ringan yang tegak berdiri diatas meja. Barangkali saat itu kaubeberapa kali melihat jam tanganmu, menungguku datang yang agak terlambat.
Perkenalan kita memang sedikit anomali. Melewati dunia maya, kita mengembangkan obrolan tanpa tatap. Kamu bertanya, dan aku menjawab. Sekat tak berbatas itu mendekatkan kita meski tanpa sebuah jabatan tangan. Aku memahami, kita adalah sepenggal kisah yang entah sampai kapan waktunya tiba kita akan bertemu.
Dari kejauhan aku memerhatikanmu. Tak sulit bagiku menebak sosokmu, kamu dan fotomu di facebook terlihat sama, tak berbeda. Kaumenghela nafas sembari menata kembali rambutmu. Tahukah kamu, sejak saat itu aku memperhatikan setiap inci pergerakanmu? Tahukah kamu, sejak saat itu mataku hanya ingin menatapmu?
Kepada kamu, yang meminjamkan jaketnya saat hujan turun.
23 Agustus 2013. Sore hari saat matahari bersiap pulang, kita berada pada satu meja yang sama. Kamu dan aku duduk berhadapan, ditemani semangkuk mie ramen berkuah kari lengkap dengan jus mangga kesukaanku, dan jus melon kesukaanmu. Aku ingat, saat itu kamu mengenakan kaos jersey kesebelasan FC. Barcelona, tim favoritmu. Kamu banyak bercerita bagaimana hebatnya Lionel Messi saat berhasil mencetak gol ke gawang lawan. Matamu begitu ekspresif saat menjelaskan, menjadikanku sedikit mulai mencari tahu siapa itu Lionel Messi ataupun Fabregas. Ah, lucu, aku yang sama sekali tak menyukai bola, tiba-tiba saja terenggut perhatiaanya berkatmu.
Sejak senja hingga malam hari, kita terus saling bicara, mata kita saling menatap, hanya tangan kita yang sesekali bersentuhan. Aku bahagia. Denganmu aku tahu rasanya cinta. Meski harus kukatakan, aku menahan diri untuk tidak jatuh cinta padamu.
Kepada, pria yang mengulurkan tangannya untukku.
Aku terus memikirkanmu. Sejak saat itu, aku tahu rasanya bahagia. Kamu menjadi bagian yang kusebutkan dalam doaku. Jauh dalam hatiku, kamu sudah jadi segalanya. Aku berharap, kamu diciptakan untuk kumiliki, memberikan banyak pelajaran, juga pemahaman.
Untukmu, pria yang selalu kusebut dalam doa, yang bisa membuatku tertawa, yang membuat debar jantungku menggema, semoga kamu tak menjadi orang yang berpeluang menyakitiku. Semoga nanti, pada akhirnya, ada kisah manis diantara kita yang bisa kita ujarkan disela-sela cerita sebelum tidur untuk anak kita.
Dari wanita yang berhasil kaubuat jatuh cinta
Diam-diam berharap pertemuan baru denganm
Diam-diam mencintaimu
With love for you :')
@AchyNova™
Ketika Aku (akhirnya) menyerah.
Beberapa kali aku dengan sengaja selalu mengikuti setiap kicauanmu pada akun Path-mu. Hampir setiap hari juga dengan setia aku selalu mengunjungimu, kubuka setiap momentmu dan melihat siapa saja yang sudah melihat semua yang kausampaikan. Kaumungkin jengah dengan prilakuku ini. Setiap kali (sepertinya) tanda lonceng itu memberi peringatan bahwa aku pernah (dengan sengaja) mengunjungi path-mu.
Aku minta maaf, aku memang bersalah. Tapi hanya itu jalanku satu-satunya untuk merasa dekat denganmu. Aku tak memiliki banyak alasan untuk sekedar menyapamu pada aplikasi whatsapp, apalagi dengan sengaja mengirimkan pesan singkat pada kotak masuk diponselmu. Demi apapun itu, aku tak berani. Karena Kau itu berbeda. Itulah yang tak aku mengerti. Dunia nyata dan dunia maya sangat kontras dimataku. Kau, yang dalam dunia nyata pernah sengaja bertatap muka, memiliki tutur kata yang lembut. Kau yang pernah berjalan beriringan denganku, nyatanya memiliki sikap yang ramah dan menyenangkan. Tapi, dunia seakan terjungkir tiga ratus enam puluh derajat ketika kita bersua di dunia maya, kau yang lembut, tak kutemukan sosoknya. Kau yang ramah, seakan tak pernah terlahir didunia ini, membuatku bertanya manakah sosokmu yang sebenarnya?
Mungkin tanpa kausadari, beberapa kali komentarmu membuatku terisak pelan. Mungkin bagimu sepertinya biasa saja, tapi tidak denganku. Aku terluka. Sangat. Termasuk bagaimana gamblangnya statusmu untuk seseorang yang tak kuketahui sosoknya.
Hey, sebenarnya kamu siapa? Aku ingin tahu sosokmu yang sesungguhnya. Apa maksud dibalik kedatanganmu dalam hidupku. Hanya sekedar mampirkah, atau sedang menjadikan aku sebagai peserta calon pendampingmu. Sebentar, sebentar, andai jika benar dugaanku tentang calon pendamping, sungguh ironi nasibku. Kau mungkin tak pernah mengetahui, aku memang mengharapkan kau menjadi pendampingku kelak. Tapi tak sedikitpun kumasukkan kamu dalam daftar “calon”.
Ada yang mengatakan bahwa kita adalah pasangan yang aneh. Menurut mereka, kamu dan aku bertemu dalam sebuah peristiwa yang disebut sebagai kebetulan. Sepenggal kisah yang kebetulan itu menjadikan satu hari kebersamaan kita seperyi sepasang kekasih. Ya, pandangan orang mana mau tahu benar atau tidaknya. Menurut mereka, saat kita bersama adalah saat dimana sepasang kekasih sedang memerankan peranannya. Padahal yang sebenarnya kita hanyalah teman. Hanya teman. Tapi, dilain hari setelah kita tak bertatap, kita seakan disibukkan dengan perang status di berbagai social media. Ya, ya, ya, kalau dipikirkan pantaslah kita disebut pasangan aneh, karena cinta hanya hadir ketika kita saling menatap.
Aku kecewa padamu, Tuan. Aku pernah melihat fotomu dengan seorang perempuan duduk berdua. Entah dia siapa. Foto yang dengan sengaja kau upload pada akunmu. Meski terlihat kaku, tapi, harus kuakui, aku cemburu. Kutekankan sekali lagi, aku cemburu. Padahal, sebelumnya kita pun memiliki foto berdua, bahkan terlihat lebih luwes tanpa kekakuan. Tapi, kau tak meng-uploadnya bukan? Apakah kau malu, atau?? Ah, sudahlah. Aku tak mau membahas prediksiku. Aku takut salah.
Sudahlah, kalau harus kuceritakan berbagai kekecewaanku disini, aku khawatir kepalaku tak mampu menampungnya. Aku harus memutarnya kembali, merunutnya, dan kemudian menuliskannya. Cukuplah hatiku yang tahu perihnya seperti apa, kamu, berbahagialah dengan duniamu yang tak pernah mampu kusentuh.
Aku menyerah sudah. Aku menyerah untuk berharap bisa memilikimu. Aku menyerah untuk terus bermimpi tentangmu. Aku menyerah.
Kau tak pernah tahu, bukan, setiap kali nada inbox ku berbunyi, ada harapan bahwa pesan singkat itu dari kamu. Atau ketika whatsapp ku bernyanyi, kuharap kaulah yang menyapaku. Namun, lagi-lagi aku harus menelan kecewa itu sendiri. Terima kasih, Tuan, aku sadar, aku bukan wanita yang tepat untukmu.
Terhitung dari hari ini, aku berhenti berharap. Aku berhenti menunggumu. Aku berhenti mengusikmu.
Dan terhitung dari hari ini, aku memulai mencintaimu dalam diam. Aku memulai merindukanmu dalam sepi. Aku memulai bertahan dengan rasa ini, tanpa kamu ketahui.
Aku menyerah.
With Love for You :')
@AchyNova
23 September 2013
DARI: PEREMPUAN YANG TAKUT BERJUANG DENGANMU.
Siang yang terik, September 2013.
Untukmu, pria yang selalu berjalan denganku.
Aku menulis ini bersama rasa yang tak terlalu banyak orang pahami. Barangkali, diantara milyaran orang dimuka bumi ini hanya segelintir saja yang memahami apa yang kita rasakan saat ini. Saat menuliskan ini juga, Peri Cintaku sedang mengalun merdu disini. Entah sudah berapa kali lagu ini kuputar dan kuulang. Liriknya begitu menyayat gendang telingaku, mengingat kau dan aku merasakannya. Mengingat bagaimana kita yang berbeda, juga Tuhan kita yang tak sama.
Tuhan memang satu,
kita yang tak sama…
Sejak mengenalmu, sejak saat dimana kita semakin dekat dalam tatap, sejak waktu mendekatkan kita dalam perjumpaan tanpa sekat, sejak itu aku tahu kita tak sama. Sesekali aku menyesalinya, kenapa kamu dan aku harus berbeda. Kenapa aku harus terlahir sebagai gadis Sunda,sedang kamu pria keturunan Tionghoa? Realitanya, kita memang tak sama. Perbedaan nyata yang kasat mata. Yang dengan satu kali pandang saja, mereka tahu kita berbeda.
Beberapa kali tatapan mereka membuatku merasa menjadi seorang terdakwa. Aku merasa didunia yang seluas ini, hanya kita yang paling bersalah. Kita layaknya seorang manusia paling cacat moral, pelanggar norma yang sangat krusial, agama. Tapi, dengan senyum manismu, kaubisa membuatku kembali tenang, meski hanya sementara saja.
Sayang, apakah menurutmu kita bersalah? Mengapa kisah kita harus tercipta sedemikian rumit. Bukankah, Tuhan memang satu? Meski caramu, caraku dalam berdoa memang berbeda. Mungkin, ketika kutengadahkan tangan, berdoa, kaupun sedang terduduk, memejamkan mata, dan melipatkan tangan. Doa yang kita panjatkan rasanya sama, meski untuk Tuhan yang berbeda. Doa yang kita minta agar Tuhanmu, Tuhanku, membantu kita keluar dari masalah yang melelahkan ini.
Rasanya aku ingin bertanya pada siapa saja yang bisa mejawabnya; mengapa cinta harus mempertautkanku denganmu?
Jika saja cinta adalah sesuatu hal yang bisa kupilih kepada siapa ia menjatuhkan pilihannya, tentu saja, aku tak akan memilih untuk mencintaimu. Bisa saja, aku memilih pria dengan banyak persamaan denganku. Seorang pria yang tak memiliki sekat batas yang menghalangiku. Pria yang dalam tempo sedekat-dekatnya adalah pria yang akan berjalan beriringan denganku.
Namun, pada akhirnya, setiap cerita-cerita yang kausampaikan membuatku tertarik. Pada akhirnya rasa bahagia mengenalmu membuatku juga takut kehilanganmu. Dan pada akhirnya aku memang jatuh cinta padamu.
Saat menuliskan ini, aku tengah menunggu adzan Isya berkumandang. Dan kau baru saja memberiku kabar, kau sedang mengikuti misa di gereja. Aku menghela nafas, berat, nyatanya perbedaan kita tak bisa dengan mudah disangkalkan dengan jentikan jemari.
Beberapa kali aku harus menyembunyikan kepedihanku. Setiap melihatmu, Cina, aku semakin merasa sedang dalam ketakutan. Aku takut tak mampu bertahan saat kita sedang berjuang untuk bersama. Kini, aku sudah terlalu larut dalam perasaanku untukmu, aku enggan melepaskanmu.
Aku takut, suatu saat, ketika kau dan aku sudah tak lagi beriringan bersama. Saat kau sudah mampu bangkit tanpa aku, kemudian menemukan penggantiku, aku bisa saja masih terkungkung dengan perasaan yang tak mudah kuhilangkan. Aku mungkin akan terus merindukan suara jernihmu melalui sambungan telepon. Aku akan rindu kamu yang selalu mendelik tajam saat aku mengganggu hobi membacamu. Atau, aku akan rindu saat dimana kita berjalan bersama dibawah rintik hujan senja hari.
Ah, kini aku semakin takut dengan perbedaan kita. Apakah menurutmu, kita akan bisa melewatinya, Sayang?
Dari perempuan yang selalu mencintai dalam ketakutan.
Diam-diam memperhatikanmu dalam sendunya.
Aku. Wanita yang kaucintai.
With Love For You :’)
@AchyNova
25092013
PRIA SETELAH KAMU!
Ketika menulis ini, beberapa menit sebelumnya aku melihat kicauan barumu pada akun path itu. Seperti biasa moment yang kautinggalkan seperti sengaja mengayunkan pedang dan menebaskannya tepat dihatiku.
Seperti sekarang, betapa dengan gamblangnya kau menyebutkan bagaimana indahnya candle light dinner dengan gadis yang selalu berhasil membuatku cemburu itu. Dan lagi-lagi, aku harus bisa ‘legowo’ menahan perih itu sendiri.
Sudah sebulan ini aku memang tak seintensif dulu. Aku tak pernah lagi sengaja membuka dan mengunjungi profilmu. Pada akhirnya, wanita seperti aku memang lebih memilih menyerah. Mengingat betapa kamu, pria yang akan kuperjuangkan, bukanlah pria yang baik bagiku. Aku mulai memahaminya-sedikit. Tapi aku juga mulai merasakan lelah itu. Ya! Aku memang lelah, memperhatikanmu dari sudut dunia abstrak, nyatanya membuatku menyerah juga. Segala kicauanmu tak lagi menjadi prioritasku, kini. Aku mulai tak peduli dan jengah. Dan memang inilah aku sekarang.
Dua minggu lalu, melalui aplikasi Wechat, aku berkenalan dengan sosok laki-laki tampan. Tapi bukan itu intinya. Si pria ini mulai mencuri perhatianku dari lelahnya mencintaimu. Mungkin, dia memang tak seromantis kamu; Yang akan memberikan jaketnya, atau mungkin mengulurkan tangannya. Dia hanya pria biasa yang memprioritaskan kehidupan anak jalanan. Bahkan, akupun memang berada pada urutan terbawah dibandingkan dengan anak jalanan yang dia cintai. Tapi itulah uniknya pria ini, ketika kami hanya berdua dalam tatap, seluruh perhatiannya tercurah untukku semata.
Saat hujan turun, dia kirimkan pesan, memastikan bahwa aku dalam posisi aman. Tanpa aku sadari, arti romantis sebenarnya aku dapatkan dari pria ini.
Aku pernah diajaknya ke suatu tempat. Sebuah tempat yang menurutnya adalah dunia yang sesungguhnya. Aku baru memahami, disela kesibukannya, ia masih mau membaktikan diri pada anak jalanan yang dicintainya. Ia mengingatkanku untuk belajar bersedekah. Ia juga merangkulku untuk bersama bersujud pada Tuhan sang Pemilik Semesta.
Sekarang menurutmu, apa masih harus aku menguntitmu? Menguntit pria yang nyatanya hanya bisa memberikan sayatan luka daripada rasa bahagia? Yang tak pernah benar-benar ingin mengajak dan merangkulku masuk ke dunianya. Sudahlah, yang pasti aku memang sudah tak ingin peduli padamu.
With love for you :’)
@AchyNova™
02 Oktober 2013
KAMU DAN PRIA INI!!
Sudah tiga pekan aku mulai menyelami dunianya. Dengan tangan terbuka, pria ini mempersilakanku menjamah dan ikut bergabung dengan dunia kecilnya. Sebuah dunia sederhana yang berisi gelak tawa para anak jalanan. Setiap petang, saat senja bersiap pulang keperaduan, pria ini sudah siap menjemputku. Dengan senyuman manisnya, dia menungguku di halte sebrang jalan, dan segera melaju ke tempat singgah yang sudah menjadi bagian duniaku juga.
"Ya, seperti ini, Cha, ini dunia Key. Demi Tuhan, mereka adalah harta yang paling Key cintai didunia, selain ibu tentunya."
ucapnya lembut seraya menjelaskan.
Aku hanya tersenyum, pria ini benar-benar membuatku jatuh cinta dengan sosoknya. Aku merasa malu, sekaligus bangga. Tuhan tahu cara-cara terindah untuk mengenalkan makhluk ini padaku.
Key, begitulah pria ini disapa. Seorang penata musik yang dimiliki kotaku tercinta. Ya, Paris van Java memang memiliki manusia-manusia berkualitasnya. Termasuk dia. Key, sang penata suara.
Kehadirannya mulai memenuhi hatiku. Kini, sosok pria yang kupuja bukan lagi kamu - pria yang selalu kujelajahi dunianya dari sudut keabstrakan dunia maya. Pria yang saat ini dihadapanku, adalah pria yang penuh kharisma. Aku tak lagi melulu terpusat dengan ocehanmu. Tak lagi berkutat dengan kabarmu. Tentu saja, tak lagi dengan rutin mengunjungi akun path-mu. Semua berubah! Dan aku mengikuti perubahan itu. Aku fikir hal ini yang kamu inginkan. Saat aku benar-benar pergi menjauh bahkan menghilang dari kehidupanmu.
Mungkin ini terlalu cepat, tiga pekan mengenalnya, nyatanya sudah membuatku jatuh cinta. Aku hanya berusaha memahami, kadang cinta hadir tak mesti melulu menunggu waktu yang lama. Dan inilah yang kurasakan. Jatuh cinta dengan sangat kepada pria yang tepat. Rasanya menyenangkan. Aku tak perlu sibuk dengan rasa khawatir saat aku mencintainya. Kepada pria ini, setidaknya kami masih sama-sama dengan tegas melempar rindu dan cemas. Berbeda dengan kamu, rindu dan rasa cemas itu hanya setia kurasakan sendiri.
Ah, kenapa aku harus sibuk membandingkan pria ini dengan kamu, ya? Padahal sudah jelas, pria ini melebihi apapun dari kamu.
Semoga kamu berbahagia sepertiku, (yang pernah ku) cinta(i).
With love for you :’)
@AchyNova™
14 Oktober 2013.