Monday, December 26, 2016

Kenapa tak mempermudah hidupku?

Tuhan,
Kenapa Engkau tak mempermudah hidupku?

Aku tidak bermaksud mengeluh. Tapi harus aku akui aku lelah. Hidupku tak mudah.

Kenapa Engkau tak membiarkan ketika aku jatuh Cinta pada hambaMu, lalu aku berharap bersama dia, Kau persatukan saja kami. Bahkan saat itu aku yakin, aku dan dia sama-sama jatuh Cinta.

Kau pisahkan kami, dan kau beri dia pengganti dan mempersatukan mereka. Padahal yang terjadi dalam hidupnya saat ini adalah apa yang aku inginkan.

Perkara itu sungguh bukanlah perkara yang sulit bagiMu. Engkau yang merajai seluruh alam semesta, tak sulit jika engkau mengabulkan harapku ini.

Iya. Engkau pun memang memberi penggantinya, tapi dengan drama-drama yang melelahkan hati.

Aku masih tetap menerima, cerita hidup yang belum manis ini. Aku masih percaya di akhir aku pun akan menemukan kebahagiaan.

Kau mendekatkan aku dengan pria yang sungguh menjadi keinginanku. Tapi kenapa jalan cerita masih tetap tak mudah, Tuhan. Bahkan ketika kuharap dia yang terakhir untukku. Ketika kuharap Engkau mempersatukan kami dalam ikatan suci, aku masih harus menerima kenyataan lagi, Engkau belum mau membuat kami bersama.

Engkau beri dia sakit yang membuatnya memilih mundur demi kebahagiaan aku. Tapi perasaanku padanya tak pernah berkurang sedikitpun. Apakah ini akhirnya aku dan dia, tak bisa bersama?

Setelahnya cerita sulit apa lagi yang akan Kau beri untukku? Kenapa tak mempermudah hidupku, Tuhan?

Sunday, December 4, 2016

Kenapa aku tak seberuntung dia?

Dear you,

Rasanya aku merasa iri pada wanita itu, dia yang sering kau sebut sahabatmu, adalah dia yang kau cintai dalam kurun waktu yang lama.

Dia mengenalmu lebih banyak daripada aku. Bahkan dia mendapatkan hatimu meski dia tak menginginkannya.

Banyak waktu yang dia dapatkan darimu. Disela kesibukanmu pun dia masih tahu kabar tentangmu. Bahkan dia bisa begitu sangat akrab dengan ibu dan juga adik perempuanmu.

Aku iri dengannya.

Ketidak beruntunganku membuatku aku iri pada wanita itu.

Aku yang kekasihmu saja pun tak seberuntung dia perihal kamu. Aku tak mengenalmu lebih baik. Aku tak bahkan belum bisa memiliki kesempatan untuk akrab dengan ibu juga adik perempuanmu.

Aku tak pernah benar-benar memiliki hatimu. Waktuku terlalu singkat bahkan untuk menjadi pemenang dalam hubungan ini.

Kenapa kau tak menjadikan aku seperti dia? Yang bisa selalu tahu kabarmu bahkan sesibuk apapun kamu.

Kenapa kau tak menjadikan aku seperti dia? Yang menggenggam hatimu karena itu yang aku inginkan.

Kenapa kau tak menjadikan aku seperti dia? Yang bisa bercengkrama dengan ibu dan adik perempuanmu

Kenapa kau tak menjadikan aku seperti dia? Yang disaat kepulanganmu ke Indonesia mendapatkan tempat kedua untuk kau temui setelah ibu dan adik perempuanmu.

Dan kenapa waktu menjadi begitu terasa kejam, bahkan sebelum semua itu kudapatkan darimu, kau justru ingin aku berhenti mencintaimu?

Aku tahu ini tak mudah kau percaya, wanita naif ini benar-benar jatuh cinta padamu. Benar-benar sedih ketika harus membayangkan kehilanganmu.

Aku sudah berhasil melawan rasa rindu karena jarak. Tak ada yang tahu rasanya terbunuh karena perasaan rindu yang menggebu. Tapi semuanya aku rasakan.

Lalu disaat satu per satu terampas dari hidupku, kau pun berusaha melepas diri dariku.

Bagaimana rasanya?

Jangan tanya karena hingga detik ini perih itu makin terasa.

Aku menangis disetiap doaku. Aku hanya ingin tahu dengan kabarmu. Dan bahkan masa lalu kamu dengan wanita itu membuatku belajar bahwa masa lalumu bukanlah hal yang ingin kuperdebatkan lagi.

Hanya saja yang tidak pernah kupikirkan, mengapa dia tak mau memberiku secuil informasi tentang keadaanmu.

Tak bisakah dia bayangkan bagaimana jika dia adalah aku?

Apakah dia akan sanggup tak mengetahui kabar orang dicintainya padahal dia tahu orang lain tahu kabar kekasihnya?

Tak bisakah dia mendekatkan aku pada adik perempuanmu, meski kau melarangnya?

Tak bisakah dia memberiku akses komunikasi denganmu meski kau tak menginginkan berkomunikasi denganku?

Sungguh tak mudah rasanya menjadi aku. Kamu sebagai kekuatanku, ternyata menjelma menjadi ketakutanku.

Aku takut kehilanganmu. Aku takut.

Saat aku bilang aku mencintaimu, aku sedang tak membercandai hidupmu. Pernyataan itu berlaku selamanya. Tak ada kebohongan. Perkara kau percaya atau tidak, biarlah itu menjadi urusanmu.

Setiap hari aku menyibukkan diri agar aku tak mengingat kamu dan apa yang sedang kamu hadapi. Tapi semua percuma. Semua tentangmu selalu melintas dikepalaku. Dan aku hanya terdiam pasrah.

Jika sudah mengingatmu rasanya aku ingin berlari, lalu bersujud meminta Tuhan menjagamu. Itu juga yang menjadi akhir dari rangkaian panjang doaku tentangmu, agar Tuhan selalu menjauhkanmu dari kesusahan.

Masa bodo dengan akankah nanti kamu menjadi milikku atau tidak, aku hanya ingin kamu dijaga Tuhan selalu.

Maka, jika aku tak bisa berada didekatmu, biarlah doa-doaku yang memelukmu.

Aku rindu kamu. Selalu. Itu saja.

Bandung, 8 Desember 2016
With love for you,

@AchyNova
03.49.

Saturday, March 19, 2016

Sembilan Belas Yang Pertama

Dear Sweetheart,

Ini adalah sembilan belas yang pertama untuk hubungan kita. Masih dengan kesabaran yang harus dipupuk demi melewati jarak puluhan ribu kilo meter. Aku harap Tuhan memberi kesabaran yang maha tak berbatas untuk kita. Keikhlasan yang maha luas, sehingga kita bisa tampil menjadi pemenang.

Sayang, setiap hari aku selalu merindukanmu. Hubungan ini begitu menguras hati dan air mata. Bagaimana tidak, aku selalu mengkhawatirkanmu jika kamu belum memberiku kabar. Ketar ketir rasanya jika aku belum tahu tentang kamu, tentang keadaanmu.

Kau selalu bilang padaku, cara terbaik menyampaikan rindu adalah dengan doa, meski raga kita tak bersama, ada doa-doa yang kita panjatkan setiap harinya, cukuplah Tuhan saja yang menjaga kita, dan tugas kita hanya menjaga hati dan tetap saling mempercayai.

Sayang, aku mungkin belum memahami bagaimana cara kamu bekerja, sehingga terkadang kesibukanmu sering membuatku sedih--terlebih jika kau belum menyapaku. Namun, kau selalu mengingatkan aku untuk bersabar, kau selalu bilang bahwa aku harus bisa dewasa menghadapi kesibukan kita berdua. Pada akhirnya aku memang belajar terus memahamimu, aku meyakinkan diri bahwa kekasihku memang seorang superman bukan ordinary man. Kamu mendedikasikan hidupmu demi kesehatan orang. Dan aku harus memahami itu. Aku akan terus mendukungmu, sayang, selalu.

Kau tahu sayang, betapa bahagianya aku hari ini saat kau mengirimi aku pesan berisi kata "I love you", sungguh di sembilan belas yang pertama ini aku merasa bangga memiliki kamu dalam hidupku.

Percayalah padaku sayang, sejauh apapun jarak kita saat ini, aku selalu mencintaimu.

Kau pernah bilang padaku uhibbuki fillah,  aku pun uhibbuka fillah-- mencintaimu karena Allah.

Selamat sembilan belas yang pertama, aku mencintaimu.

Dari;  perempuan yang bahagia memiliki pria baik sepertimu.

Wednesday, March 9, 2016

Menahan rindu bersama hujan

Tuan, Sore ini Bandungku diguyur hujan cukup lebat. Aku duduk sambil menatap langit, bertanya dalam hati apakah di Malaysia juga sedang diguyur hujan yang sama?

Sudah dua hari kau tak bisa kutemukan. Sepertinya kau sedang sangat sibuk sehingga untuk sekedar berkabar pun kau tak bisa. Tak apa, aku memang harus lebih banyak memahami kamu daripada sebaliknya. Aku berusaha semampuku untuk tak banyak menuntut. Aku ingin hubungan ini bertahan lama bahkan aku ingin menjadi pemenang terhadap jarak.

Aku hanya berharap kau menjaga kesehatanmu. Jangan sampai kesibukan membuatmu lupa untuk makan. Aku tahu kau seorang dokter, kau pasti tahu obat yang harus kau minum jika sakit melandamu, tapi tolonglah jaga dirimu setidaknya demi aku.

Sejujurnya aku merindukanmu, ingin sekali bisa berbincang lama denganmu, tapi, ya, itu dia, kesibukanmu memaksamu tak bisa selalu ada untukku. Sekali lagi tak apa, aku bisa memakluminya.

Cepatlah hadir kembali dan setidaknya beri aku kabar jika dirimu baik-baik saja. Aku kalut. Aku rindu. Aku--cinta--kamu.

I love you sweetheart.
@novelisnova

Tuesday, March 8, 2016

Delapan belas hari setelah memilikimu

Delapan belas hari sudah aku berpredikat sebagai kekasihmu. Kekasih dari seorang pria yang belum kuketahui secara nyata sosoknya.

Ya, aku tahu, bagi sebagian orang aku sepertinya perempuan naif karena mau-maunya menjalin cinta dengan orang yang bagaimana dia dari bentuk fisik hingga hatinya tak pernah kuketahui. Tapi aku tak mau peduli. Mereka boleh mencibir tapi disini aku yang merasakannya. Aku juga tak mau ambil pusing, tentang hati mereka tahu apa?

Tuan, delapan belas hari bukanlah hal mudah untuk bisa kulalui. Kamu begitu tertutup tentang sosokmu. Kamu pun seperti tak terlalu peduli pada kehidupanku. Kamu tak banyak bertanya siapa aku, atau bagaimana keluargaku, ini membuatku juga tak berani bertanya banyak padamu. Aku takut terlalu banyak keinginan tahuanku membuatmu membenciku.

Tuan, ada hal yang paling aku takutkan dalam hubungan kita--adalah ketika kau menyamakan aku dengan perempuan-perempuan yang pernah mengejarmu karena hartamu, bahkan profesimu. Aku tak serendah itu untuk mencintaimu. Jika harus bersumpah, demi Tuhan, aku mencintaimu sebagai dirimu bukan sebagai profesi doktermu. Jadi semoga kau tak menilai aku serendah itu.

Aku semakin rendah diri ketika tahu bahwa keluargamu adalah keluarga terpandang. Bahkan adik perempuanmu pun ternyata saat ini sedang mengambil study kedokteran. Dan kau di Malaysia selain bekerja juga sedang menyelesaikan study spesialis dokter. Bagaimana bisa aku bisa setara denganmu? Kita seperti langit dan bumi, dan untuk bisa berharap bersamamu aku takut terlalu tinggi harap.

Lalu Umi mengingatkanku, bahwa hakikatnya kita manusia sama di mata Tuhan, pembeda nyata hanyalah amal. Ya, aku rasa Umi benar, dalam hal ini aku tak pernah mengejarmu. Tak pernah mengemis cinta padamu. Kau datang dengan sendirinya, lalu menyampaikan maksud bahwa kau ingin mengenalku lebih banyak, dan aku disini hanya menyambut niat baik darimu itu.

Tuan, harus kukatakan bahwa mencintaimu banyak mengajarkan kebaikan. Aku jadi sering tahajud, juga mengaji, aku ingin memintamu pada Tuhan yang menciptakanmu. Semoga Dia berbaik hati mengabulkannya.

Ah aku rasa delapan belas hari masih terlalu dini untuk menilai. Aku hanya berdoa semoga kita akan tampil sebagai pemenang melewati jarak yang menganga.

With love for you,

@novelisnova