Dear you,
Rasanya aku merasa iri pada wanita itu, dia yang sering kau sebut sahabatmu, adalah dia yang kau cintai dalam kurun waktu yang lama.
Dia mengenalmu lebih banyak daripada aku. Bahkan dia mendapatkan hatimu meski dia tak menginginkannya.
Banyak waktu yang dia dapatkan darimu. Disela kesibukanmu pun dia masih tahu kabar tentangmu. Bahkan dia bisa begitu sangat akrab dengan ibu dan juga adik perempuanmu.
Aku iri dengannya.
Ketidak beruntunganku membuatku aku iri pada wanita itu.
Aku yang kekasihmu saja pun tak seberuntung dia perihal kamu. Aku tak mengenalmu lebih baik. Aku tak bahkan belum bisa memiliki kesempatan untuk akrab dengan ibu juga adik perempuanmu.
Aku tak pernah benar-benar memiliki hatimu. Waktuku terlalu singkat bahkan untuk menjadi pemenang dalam hubungan ini.
Kenapa kau tak menjadikan aku seperti dia? Yang bisa selalu tahu kabarmu bahkan sesibuk apapun kamu.
Kenapa kau tak menjadikan aku seperti dia? Yang menggenggam hatimu karena itu yang aku inginkan.
Kenapa kau tak menjadikan aku seperti dia? Yang bisa bercengkrama dengan ibu dan adik perempuanmu
Kenapa kau tak menjadikan aku seperti dia? Yang disaat kepulanganmu ke Indonesia mendapatkan tempat kedua untuk kau temui setelah ibu dan adik perempuanmu.
Dan kenapa waktu menjadi begitu terasa kejam, bahkan sebelum semua itu kudapatkan darimu, kau justru ingin aku berhenti mencintaimu?
Aku tahu ini tak mudah kau percaya, wanita naif ini benar-benar jatuh cinta padamu. Benar-benar sedih ketika harus membayangkan kehilanganmu.
Aku sudah berhasil melawan rasa rindu karena jarak. Tak ada yang tahu rasanya terbunuh karena perasaan rindu yang menggebu. Tapi semuanya aku rasakan.
Lalu disaat satu per satu terampas dari hidupku, kau pun berusaha melepas diri dariku.
Bagaimana rasanya?
Jangan tanya karena hingga detik ini perih itu makin terasa.
Aku menangis disetiap doaku. Aku hanya ingin tahu dengan kabarmu. Dan bahkan masa lalu kamu dengan wanita itu membuatku belajar bahwa masa lalumu bukanlah hal yang ingin kuperdebatkan lagi.
Hanya saja yang tidak pernah kupikirkan, mengapa dia tak mau memberiku secuil informasi tentang keadaanmu.
Tak bisakah dia bayangkan bagaimana jika dia adalah aku?
Apakah dia akan sanggup tak mengetahui kabar orang dicintainya padahal dia tahu orang lain tahu kabar kekasihnya?
Tak bisakah dia mendekatkan aku pada adik perempuanmu, meski kau melarangnya?
Tak bisakah dia memberiku akses komunikasi denganmu meski kau tak menginginkan berkomunikasi denganku?
Sungguh tak mudah rasanya menjadi aku. Kamu sebagai kekuatanku, ternyata menjelma menjadi ketakutanku.
Aku takut kehilanganmu. Aku takut.
Saat aku bilang aku mencintaimu, aku sedang tak membercandai hidupmu. Pernyataan itu berlaku selamanya. Tak ada kebohongan. Perkara kau percaya atau tidak, biarlah itu menjadi urusanmu.
Setiap hari aku menyibukkan diri agar aku tak mengingat kamu dan apa yang sedang kamu hadapi. Tapi semua percuma. Semua tentangmu selalu melintas dikepalaku. Dan aku hanya terdiam pasrah.
Jika sudah mengingatmu rasanya aku ingin berlari, lalu bersujud meminta Tuhan menjagamu. Itu juga yang menjadi akhir dari rangkaian panjang doaku tentangmu, agar Tuhan selalu menjauhkanmu dari kesusahan.
Masa bodo dengan akankah nanti kamu menjadi milikku atau tidak, aku hanya ingin kamu dijaga Tuhan selalu.
Maka, jika aku tak bisa berada didekatmu, biarlah doa-doaku yang memelukmu.
Aku rindu kamu. Selalu. Itu saja.
Bandung, 8 Desember 2016
With love for you,
@AchyNova
03.49.
No comments:
Post a Comment