Delapan belas hari sudah aku berpredikat sebagai kekasihmu. Kekasih dari seorang pria yang belum kuketahui secara nyata sosoknya.
Ya, aku tahu, bagi sebagian orang aku sepertinya perempuan naif karena mau-maunya menjalin cinta dengan orang yang bagaimana dia dari bentuk fisik hingga hatinya tak pernah kuketahui. Tapi aku tak mau peduli. Mereka boleh mencibir tapi disini aku yang merasakannya. Aku juga tak mau ambil pusing, tentang hati mereka tahu apa?
Tuan, delapan belas hari bukanlah hal mudah untuk bisa kulalui. Kamu begitu tertutup tentang sosokmu. Kamu pun seperti tak terlalu peduli pada kehidupanku. Kamu tak banyak bertanya siapa aku, atau bagaimana keluargaku, ini membuatku juga tak berani bertanya banyak padamu. Aku takut terlalu banyak keinginan tahuanku membuatmu membenciku.
Tuan, ada hal yang paling aku takutkan dalam hubungan kita--adalah ketika kau menyamakan aku dengan perempuan-perempuan yang pernah mengejarmu karena hartamu, bahkan profesimu. Aku tak serendah itu untuk mencintaimu. Jika harus bersumpah, demi Tuhan, aku mencintaimu sebagai dirimu bukan sebagai profesi doktermu. Jadi semoga kau tak menilai aku serendah itu.
Aku semakin rendah diri ketika tahu bahwa keluargamu adalah keluarga terpandang. Bahkan adik perempuanmu pun ternyata saat ini sedang mengambil study kedokteran. Dan kau di Malaysia selain bekerja juga sedang menyelesaikan study spesialis dokter. Bagaimana bisa aku bisa setara denganmu? Kita seperti langit dan bumi, dan untuk bisa berharap bersamamu aku takut terlalu tinggi harap.
Lalu Umi mengingatkanku, bahwa hakikatnya kita manusia sama di mata Tuhan, pembeda nyata hanyalah amal. Ya, aku rasa Umi benar, dalam hal ini aku tak pernah mengejarmu. Tak pernah mengemis cinta padamu. Kau datang dengan sendirinya, lalu menyampaikan maksud bahwa kau ingin mengenalku lebih banyak, dan aku disini hanya menyambut niat baik darimu itu.
Tuan, harus kukatakan bahwa mencintaimu banyak mengajarkan kebaikan. Aku jadi sering tahajud, juga mengaji, aku ingin memintamu pada Tuhan yang menciptakanmu. Semoga Dia berbaik hati mengabulkannya.
Ah aku rasa delapan belas hari masih terlalu dini untuk menilai. Aku hanya berdoa semoga kita akan tampil sebagai pemenang melewati jarak yang menganga.
With love for you,
@novelisnova
No comments:
Post a Comment