Saturday, January 31, 2015

Day 3 : aku sudah jauh lebih baik

Selamat siang, Tuan yang menyebut dirinya baik hati,

Sekarang aku sudah jauh lebih baik dibandingkan satu bulan yang lalu. Kali ini, senyuman selalu mengembang di wajahku. Cantik sekali. Aku sedang sangat tidak peduli pada apapun, termasuk kamu yang tak lagi terlalu jadi fokus utamaku.

Sedikit demi sedikit pemahaman tentang siapa yang terbaik dan tidak, sudah bisa kumengerti. Aku tak lagi melulu terluka bahkan menangis ketika mereka menyebut nama kamu. Pun ketika mereka mengingatkanku tentang hal yang terjadi saat dulu kita disebut pasangan kekasih. Aku sedang di posisi sangat-amat-tidak-peduli.

Kamu memang doa yang Tuhan kabulkan.

Kamu memang harapan yang jadi kenyataan.

Kamu memang mimpi yang ketika aku bangun sudah tak lagi jadi mimpi.

Tapi itu dulu, saat kau tak sebrengsek yang kukira. Aku mulai memahami, siapa yang baik dan yang tidak baik.

Sejatinya pria baik akan menepati janjinya. Tidak hanya berbicara untuk sekedar meninggikan harap. Pria yang baik akan mempertanggung jawabkan segala ucapannya, karena dia pria sejati. Tak akan sedikitpun ia membuat kecewa apalagi membuat tangisan pada wajah wanitanya.

Kamu dan kicauanmu tak lebih dari isapan jempol belaka, tak bisa dipegang dan dipertanggung jawabkan kebenarannya. Tentang mimpi masa depan yang sempat kau rajut bersamaku, itu hanyalah bualan tong kosong yang nyaring bunyinya.

Jadi menurutmu, apa kamu bisa kusebut pria sejati? Aku rasa tidak. Kamu tak lebih dari penipu, dan aku yang bodoh ini sudah berhasil kau berikan gelar sebagai korbanmu.

Ya, memang, aku terluka seterlukanya. Aku menangis saat kehilanganmu. Karena kau meninggalkanku disaat aku sedang cinta-cintanya. Kau pun tak mengizinkan aku untuk bertahan meski itu dalam nestapa. Kau itu jahat. Sangat amat jahat.

Tapi aku bersyukur, Tuhan menyembuhkan hatiku lebih cepat. Bukan dengan cara mempertemukanku dengan pria setelahmu, melainkan dengan menanamkan pemahaman bahwa pria baik itu bukan yang sepertimu.

Aku memang terluka. Setengah dari hatiku pun pecah berantakan. Itu karenamu. Tapi bersamaan dengan itu aku mengerti tentang siapa yang pantas diperjuangkan dan yang harus dilupakan.

Perihal andai perpisahan yang kauinginkan ini pada akhirnya kelak akan kembali dipersatukan Tuhan, biarlah itu menjadi urusan-Nya. Aku sedang tak ingin memikirkan hal itu untuk sekarang. Aku hanya membutuhkan sosok yang sejatinya tak sama seperti sikapmu.

Oh, iya, satu pesanku untukmu; jika kau pada akhirnya merasa jua seperti apa rasanya terluka ditinggalkan saat sedang cinta-cintanya, ingatlah! Jauh sebelum kau, aku pun pernah mengalaminya, dan pelakunya adalah dirimu. Jadi jangan menyalahkan dia yang menyakitimu, bercerminlah, dia adalah perwujudanmu saat bersamaku.

Dari aku,

@novelisnova

Friday, January 30, 2015

Day 2 : Untuk hati ; bersabarlah sejenak

Teruntuk
Yang terkasih;
Hati

Dear hati,

Bagaimana kabar kamu di dalam dada? Tempat segala tumpuan beban dan bahagia kucurahkan. Aku rasa kau sudah jengah. Disana, aku yakin kau berdesakkan bersama semua beban yang belum mampu kukeluarkan. Barangkali ada rasa lelah kala kau melihat betapa pekatnya warna masalah yang menghimpit denyutmu.

Hati,

Pahamilah sejenak, sebagai manusia aku memang tak luput dari berbagai persoalan yang selalu dan selalu berakhir menyakitimu. Demi Tuhan, andai aku mampu, tak sedikitpun kuinginkan kau menanggung luka atas sakitku. Tapi apa kuasaku, aku dan kau sudah disiapkan Tuhan sepaket. Tak bisa dipisahkan. Jika aku terluka, kau pun pasti merasa, juga sebaliknya.

Hati,

Bersabarlah sejenak saja, aku berjanji hal-hal yang menghimpitmu akan kuselesaikan segera. Apa saja yang membuatmu berdarah akan kuenyahkan secepatnya. Aku pastikan hal yang membuat kita harus menangis, akan segera tersingkirkan. Mendung itu akan kurubah jadi pelangi, bersabarlah barang sejenak saja.

Hati,

Pada saatnya, Tuhan akan menyembuhkan kita. Obat terbaik bagiku juga kamu adalah waktu. Kau yang berdarah akan segera sembuh. Aku yang terluka akan segera tersenyum. Kita akan baik-baik saja, karena kita kuat, maka kita pasti akan bahagia.

Hati,

Untuk kesabaranmu yang luar biasa selama ini, aku bangga. Penghargaan terbaik dariku untukmu. Percayalah, kebahagiaan terbaik sudah dikemas Tuhan. Jadi, mari kita bersabar bersama.

Dari aku,

Ragamu
@novelisnova

Tuesday, January 27, 2015

Jika ada yang harus dilupakan; itu adalah aku.

Jika memang harus ada yang dilupakan, maka itu adalah aku.

Itulah kata yang aku baca pada catatan terakhir Alena. Sejak saat itu aku tak pernah menemukan dia di manapun. Aku tak mengerti, sejak terakhir kali aku baca status BBm nya itu, Alena tak pernah lagi muncul di recent updates aplikasi BBm. Dia juga tak pernah mengganti display pictures nya. Dia benar-benar hilang, entah kemana.

Alena adalah kekasih yang kutinggalkan sebulan lalu. Kekasih baik hati yang dengan kebodohanku kusia-siakan dia. Sejak itu, kami tak pernah bertegur sapa. Alena benar-benar menepati janjinya untuk tak pernah menggangguku. Aku merasa bersalah padanya. Jujur kuakui, aku kehilangan dia dan menyesal meninggalkannya. Aku ingat betul, bagaimana kata terakhir yang aku katakan padanya: "aku sudah tak mencintai kamu lagi, jangan pernah ganggu aku." Tak aku pedulikan bagaimana dia menangis dan meminta untuk tak meninggalkannya. Aku tetap meninggalkannya. Dan kali ini aku benar-benar merasa kehilangan Alena.

***

3 bulan kemudian.

Sudah tiga bulan aku seperti orang tak ada. Tanpa merubah display picture, juga tanpa status apapun. Aku juga sudah jarang menyentuh aplikasi bbm, path, facebook atau media sosial lainnya. Aku hanya fokus pada dua aplikasi itu adalah tumblr dan blog. Ya, aku fokus untuk menulis. Aku memang memilih menghilang, dan mungkin berakhir dilupakan. Aku memang sudah menduga jika akan dilupakan. Dan jika memang harus ada yang dilupakan itu adalah aku.

Rasanya hatiku masih tersayat. Aku belum bisa lupa bagaimana Bisma meninggalkanku. Dia bisa dengan tega membuat aku yang masih mencintainya seakan dibunuh perlahan. Dengan luar biasa juga, secara gamblang dia katakan jika dia sudah tak mencintaiku dan meminta aku untuk tak mengganggunya lagi. Dan kali ini aku tepati permintaannya itu. Di akhir perbincanganku dengannya, aku memang menyetujui dan berjanji tak akan pernah mengganggunya, apapun alasannya.

Dengan masih terseok-seok aku bangkit. Pada akhirnya juga setelah satu bulan perpisahan kami, aku memutuskan untuk menghilang. Aku benar-benar hilang dari hidupnya. Aku benar-benar menjauhi dunia yang berhubungan dengannya. Bagaimana kabarnya sekarang? Aku tak peduli.

Aku pun sama sekali tak pernah mau menginjak lagi tempat makan dimana aku dan dia pernah berjalan. Aku hanya takut, takut jika tak sengaja kami bertemu. Dan itu bukan keinginanku.

"Tuhan, jika pun kami memang harus bertemu, setidaknya butakan aku agar tak melihat sosoknya".

***
Dari kejauhan kulihat sosok yang begitu ku kenali. Gerai rambutnya, mimik wajahnya saat kesal menunggu masih sama seperti terakhir aku melihatnya. Ya, aku tak salah lihat, dia adalah Alena.

Dia berjalan kearahku. Kami akan berpapasan sebentar lagi. Apa yang harus kulakukan, apakah aku harus menyapanya. Dia sedikit kurusan. Badannya lebih berbentuk di bandingkan terakhir kali aku melihatnya. Wajahnya lebih cantik, fresh, dan ada beberapa hal yang berbeda.

Tiga langkah lagi saja, dan aku putuskan untuk menyapa Alena, belum sempat ku sapa dia, ponselnya berbunyi, dia mengangkatnya dan berjalan melewatiku. Untuk beberapa saat aku terpaku. Melihatnya berjalan, tanpa memperhatikanku ada di dekatnya, terfokus pada seseorang di ujung sana, entah siapa, rasanya menyesakkan.

"Iya, aku kesana sekarang." sayup terdengar perbincangannya olehku. Aku hanya bisa melihatnya hingga punggungnya menghilang tak terlihat.

Aku lemas. Kenapa ada perasaan rindu yang memukul-mukul perasaanku. Aku ingin memeluknya lagi. Aku ingin menggenggam tangannya lagi. Aku ingin mengecupnya lagi. Oh, Tuhan, kenapa ini?

***
Sudah dua minggu ini aku mencoba membuka hati untuk pria bernama Dinata. Dia seorang karyawan di salah satu perusahaan terkemuka di Bandung. Postur tubuhnya tinggi. Wajahnya cukup menarik perhatianku. Perkenalan kami penuh anomali. Sebenarnya aku pernah menyukainya sebelum menjadi kekasih Bisma, tapi hanya sesaat dan aku putuskan menerima Bisma. Dinata kini hadir kembali, setelah aku tak lagi bersama Bisma. Entah ini kebetulan, atau di sengaja, yang pasti dia mendekat ketika aku tak berstatus lagi kekasih Bisma.

"Ngopi dulu, yuk? Di cafe jalan Tamblong aja, gimana?" ajaknya padaku, setelah sempat mengelilingi Bandung seharian ini.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Rasanya aku tak ingin banyak mendebatnya. Walaupun aku sebenarnya enggan ke cafe itu, masih ada kenangan yang tersisa disana, tapi aku rasa ini tak perlu kusampaikan padanya.

Selang sepuluh menit kemudian kami sampai di cafe yang di maksud. Aku turun dari mobil. Dan dia mencari tempat parkir. Aku tak tahu jika ada Bisma dan teman-temannya di dalam. Aku hanya fokus dan menunggu Dinata.

"Yuk!" ajaknya. Aku hanya mengikutinya. Dia mempersilakanku jalan di depannya. Tangannya merangkul bahuku dari belakang, masih dengan sopannya. Kemudian mengarahkan aku untuk duduk di satu sofa yang cukup nyaman.

Kebetulan, ada live music malam itu. Suara biduan wanita cantik menambah kehangatan suasana malam ini. Sesekali aku memperhatikan wajah serius Dinata saat memilih menu. Aku tersenyum simpul. Dia terlihat mempesona. Sekilas aku seperti melihat Rio saat berwajah serius. Astaga, aku tak boleh mengingat Rio, dia hanya mantan kekasihku - kekasih terbaikku.

"Kamu mau pesen apa, Al?" aku terkesiap, saat itu aku yang melamunkan Rio, seolah disadarkan oleh suara Dinata.

"Hah? Itu, eh, apa? Aku pesen cappucino dingin aja." jawabku sedikit gelagapan. Aku harap Dinata tak melihat keanehan dalam diriku.

"Kamu kenapa, Alena?" tanya Dinata. Harus kuakui dalam hal-hal kecil seperti ini, Dinata memang peka. Aku tak tahu harus menjawab apa, tak mungkin rasanya jika harus berkata jujur aku memikirkan kekasih masa lalu.

"Hmmmh, enggak, aku baik-baik saja." jawabku sambil tersenyum.

Beruntung, dia tidak memperpanjang masalah ini, aku cukup terselamatkan dengan hal ini.

***

Aku berkumpul bersama teman-temanku. Ada Ikhsan, Deri, dan juga Ozy, empat sekawan yang selalu bersama-sama. Di cafe di bilangan Tamblong kami menghabiskan waktu. Banyak hal yang ingin aku ceritakan kepada mereka, termasuk pertemuanku dengan Alena, tiga hari lalu.

"Terus, terus, lo sapa Alena?" tanya Ikhsan setelah aku jelaskan kronologi bagaimana aku melihat Alena.

"Kagak. Pas mau disapa, dia malah ngangkat telpon dan fokus pada seseorang yang di telponnya. Gak tau siapa." jelasku.

"Lo, mulai ngerasa kehilangan dia, ya, Bis?" tiba-tiba Deri bertanya. Diantara semuanya cuma Deri yang tak mengenal Alena, saat kuperkenalkan Alena, Deri memang tidak ikut berkumpul, jadi dia tidak mengenal Alena dengan baik. Tapi, pertanyaan dia kali ini memang sedikit mengusikku. Dia benar, aku sudah merasa kehilangan Alena. Kentara sekali perbedaan ketika dia tak ada disisiku.

Melihatku yang hanya terdiam, Deri mengulangi lagi pertanyaannya, " bener ya, lo mulai ngerasa kehilangan dia? Gue yakin, lo sekarang ngerasa menyesal kehilangan doi?"

Kutarik nafas dalam-dalam, dan aku hanya mengangguk. "Lo bener, gue udah ngerasa nyesel banget. Ga tau kenapa, gue lihat dia itu sebenarnya cantik, baik, gak banyak nuntut, tapi kenapa gue bisa dengan bodoh lepasin dia. Gue nyesel, Der, asli nyesel banget."

"Gue, kan udah pernah bilang sama lo, pikir dulu sebelum ngambil tindakan. Sorry, Bis, gue emang ga terlalu mengenal Alena, ya, gue cuma kenal saat itu aja, tapi sekali pandang saja gue tau doi orang baik. Tapi, lo saat itu bersikeras mau putus, andai gue jadi lo, Bis, cewe sebaik dia gak akan pernah gue lepasin. Apalagi sih yang lo cari, orang tuanya udah welcome banget sama lo, bahkan lo sendiri yang bilang, orang tuanya sayang ke lo sebegitunya. Jarang bro nemuin orang tua yang asyik kaya gitu." tiba-tiba Ikhsan berkomentar.

"Sudah, sudah, jangan memojokkan Bisma kaya gitu, anggap aja ini efek yang harus dia jalani. Ini yang akan menempa dia jadi dewasa. Memang harus gue akui, Bis, Alena memang terlihat baik. Bahkan mungkin tanpa lo sadari, kita udah nyakitin Alena." Ozy pun angkat bicara.

”Maksud lo, Zy? Kita?" tanyaku.

"Lo inget, lo pernah screen capture percakapan kita bertiga?"

"Yang mana, Zy?" tanya Ikhsan.

"Yang isinya tentang kita rayain putusnya Bisma dan Alena. Ga mungkin rasanya Alena gak baca itu. Gue juga gak ngerti, Bis, maksud lo jadiin percakapan kita DP Bbm lo. Yang jelas kalo gue telaah lagi dari cerita lo, Alena menghilang setelah itu, kan? Dia ga aktif lagi di path, di twitter juga gak ada, bahkan untuk ukuran kecilnya saja di bbm pun dia menghilang."

"Oh, iya, lo bener, Zy, gue rasa itu hal terkejam yang tanpa sadar udah kita lakuin ke Alena. Wah, kalo gue ketemu doi, gue kudu minta maaf. Gue ga enak, dan gue rasa doi pasti nganggap kita jahat juga, Zy."

"Sebenernya apa yang lo cari saat itu, Bis? Percakapan itu harusnya ga jadi masalah kalo lo ga capture itu. Kadang lo emang ga jaga perasaan dia. Harusnya lo gak pernah pasang itu ke muka umum." timpal Deri.

Aku terdiam. Mengingat aku memang pernah melakukan itu terhadap Alena. Tapi, Alena tak pernah bergeming. Dia diam. Bungkam. Padahal mungkin saat itu aku terus melukai Alena tanpa kusadari. Hingga akhirnya Alena tak kutemukan lagi jejaknya hingga kini.

"Gue ke toilet bentar, ya, kebelet." tiba-tiba Ikhsan meminta izin kepada kami. Tanpa menunggu jawaban, dia langsung pergi.

10 menit kemudian.

Ikhsan terlihat lebih santai, jelas terlihat beban menahan pipisnya sudah lenyap. Wajahnya seperti menahan pertanyaan yang entah apa, tiba-tiba dia pun berceloteh ria, "kayanya gue lihat Alena, tapi gue ngga yakin itu Alena apa bukan, soalnya dia lebih kurus dibanding pertama kali gue lihat dia."

"Serius, San? Dimana?" tanyaku heran.

"Ya, gue gak yakin, tapi yang gue lihat kaya dia. Cuma dia gak lihat gue, pas gue keluar toilet dia nunduk dan trus masuk ke toilet bekas gue. Bentar lagi dia lewat, Bis, bener gak menurut lo itu dia apa bukan?" jelasnya.

Kita semua melihat ke arah dimana Alena akan terlihat. Tak ada suara diantara kami. Hening. Semua fokus menunggu kehadiran perempuan yang disangka Alena oleh Ikhsan barusan.

Tak berapa lama, lewatlah perempuan memakai baju terusan selutut. Dan benar saja, itu memang Alena. Cara dia berjalan. Cara dia membenahi jam tangan, rambutnya yang tergerai, itu semua memang dimiliki Alena. Dia sepertinya tidak tahu jika ada kami berkumpul disini. Kami semua terus mengikuti dimana dia duduk. Aku terkejut, dia duduk di sofa pojok. Ada pria tinggi dan cukup menarik duduk bersamanya. Rasanya jutaan anak panah melesat secepat kilat dalam ulu hatiku, perih.

Dia tersenyum cantik pada pria itu, siapakah dia? Apakah itu kekasih baru Alena.

"Itu Alena?" tanya Deri membuyarkan pandangan kami.

Aku hanya mengangguk pelan.

"Cantik, ya? Bahkan lebih cantik dari foto yang lo pernah lihatin ke gue."

Sesak rasanya mendengar ucapan Deri. Tapi memang benar, Alena sungguh terlihat cantik dan begitu anggun. Ini semakin membuatku menyesal meninggalkannya.

"Sabar, Bis, ya, lambat laun memang Alena harus bisa move on dari lo. Sepertinya lo pun harus segera bisa move on juga." ujar Ozy berusaha menenangkanku.

Untuk beberapa saat aku tak banyak bicara. Aku terus melihat Alena. Kemudian menunduk pasrah. Teman-temanku menepuk bahuku, menguatkanku yang memang rapuh.

"Ya, baiklah, kebetulan ada yang mau menyumbangkan suaranya, silakan, mas." suara biduan wanita menyadarkan kami semua.

Sontak saja, kami melihat ke arah panggung. Pria yang tadi bersama Alena, sekarang sedang berada diatas panggung, dia akan semakin membuat Alena jatuh cinta padanya.

Sungguh sempurna pria ini. Tingginya sedikit lebih tinggi dariku. Badannya tegap dan lebih berisi. Dengan mengenakan kemeja warna hijau tosca dengan lengan yang dilipat hingga sikut. Aku tahu, Alena sungguh menyukai pria yang mengenakan kemeja seperti itu. Dan pria ini tahu cara merebut hati Alena.

"Lagu ini, untuk wanita cantik yang berhasil membuat saya jatuh cinta, semoga kamu paham, Alen, aku mau kau jadi teman hidupku." ucap pria itu sebelum bernyanyi.

Semua pengunjung langsung terkesima oleh keberanian pria ini mengutarakan cinta di depan umum. Dan dulu, aku justru tak pernah memiliki keberanian seperti dia demi Alena.

***continued***

Saturday, January 17, 2015

Day 19 : Demi Tuhan, aku mencintai putramu, Ibu.

Hai, ibu kekasihku.

Perkenalkanlah, aku gadis yang dicintai putramu.. Gadis sederhana yang tak lebih cantik dari sebagian wanita lain di belahan bumi ini. Aku hanya gadis sederhana yang hanya tahu menempatkan diri pada posisi diri sebagai kekasih saja.

Ibu, pada pandangan pertama saja aku jatuh cinta pada putra bungsumu. Di pelataran parkir kampus mataku tak sengaja melihat sosok pria tegap mengenakan kaos putih tas berwarna kuning hitam, dia ternyata putramu, ibu. Pria yang pada kesempatan yang tak pernah kubayangkan akhirnya bersamaku membelah bumi Bandung dengan motor hitam yang diberi julukan satria baja hitam..

Ibu, dengannya aku sungguh bahagia. Putra bungsumu itu begitu sopan dan menggemaskan. Tutur katanya begitu halus, dan berbudi pekerti luhur. Senyumnya sungguh memukau dan membuatku terpesona berulang kali. Rasanya pantaslah dia begitu ku kagumi. Aku mendambanya. Aku jatuh cinta padanya.

Ibu, Tuhan begitu baik padaku. Bukan hanya Ia mengizinkan aku bersamanya. Tuhan juga mengizinkan mataku menyaksikan kala dia menjadi imam pada pertemuan petangku. Suaranya begitu lirih terdengar kala dia mengumandangkan surat al-fatihah. Aku tergetar hebat, bahkan ketika ucapan "aamiin" menggema menyambut akhir bacaan al-fatihah-nya. Seusai sholat pun, aku masih dengan jelas melihat punggungnya, begitu khusyuk dia menengadahkan tangan. Oh, Tuhan, aku sungguh jatuh cinta padanya.

Ibu, kau pasti bangga padanya, sama sepertiku, putramu bukan hanya terlihat cerdas, tapi harus kuakui dia memang cerdas. Memiliki IPK dengan predikat cum laude, akhirnya aku dan dia dipersandingkan jua di wisuda akbar. Kala itu-lah, kau akhirnya tahu siapa aku - kekasih putra kesayanganmu.

Ibu, terima kasih, akhirnya aku merasakan kelembutan tanganmu. Kau begitu baik ketika mengatakan "kau cantik sekali, nak.", sambil membelai lembut pipiku. Ah, itu membuatku bangga bisa diterima baik oleh ibu kekasihku. Rasanya, jutaan kupu-kupu sedang beterbangan mengitariku.

Ibu, demi Tuhan, aku mencintai putramu, dan aku pun sangat amat menyayangimu.

Astrie Nova Akbar

Friday, January 16, 2015

Day 1 : untuk si penulis puisi

Hai penulis puisi,

Pada sajak-sajakmu aku tenggelam bersama angan. Kuibaratkan diri adalah aku didalamnya. Jangan heran padaku, aku sedang sangat jatuh cinta pada setiap tulisan-tulisanmu. Aku begitu larut pada tiap bait prosa karyamu. Ku katakan lagi dan lagi, aku sedang sangat jatuh cinta pada puisimu.

Penulis,

Kau tahu, aku tenggelam kala kau dan aku saling bercerita. Pada senja yang selalu kita nantikan. Pada hujan yang selalu kita bicarakan. Juga pada pelangi yang senantiasa mengundang decak kagum yang tak tertahankan. Aku mengagumimu. Aku jatuh cinta pada sajak-sajak senjamu. Maka, perkenalkanlah aku; pecinta hujan dalam aksara, pengagum pelangi selepas hujan.

Aku rasa tak banyak yang ingin aku sampaikan. Kau dengan karya-karyamu selalu berhasil menarik aku yang mengagumimu. Meski aku tahu bukan aku yang menjadi inspirasi dalam puisimu.

Dari aku yang selalu mengagumi hasil karya penulis hebat sepertimu.

@novelisnova