Wednesday, October 22, 2014

Karena Aku Perempuanmu

Hujan masih turun dengan setianya. Membasahi bumi pertiwi yang seakan rindu akan rintik raksasanya. Ia berhasil membuat ribuan orang terdiam. Menjegal langkah-langkah mereka menuju tujuannya. Beberapa orang ada yang menggerutu, ada pula yang terdiam bungkam dengan pandangan kosongnya melihat hujan manis ini. Dan aku dengan beberapa orang yang entah siapa justru bahagia dengan hujan ini, karena aku bisa menangis tanpa diketahui orang-orang.

Beberapa hari ini kegelisahan mulai membelai manja kebahagiaanku. Entah kenapa ia seperti sedang memberikan pertanda bahwa ada sesuatu dengan kekasihku. Sudah dua minggu aku tak bertatap mata dengannya, tak ada teguran sapa ataupun ucapan selamat pagi yang mampir di ponselku. Semua serba datar, abu-abu, dan tak lagi berwarna.

Sebagai kekasihnya aku seperti tak memiliki hak mutlak untuk merindukannya. Aku seperti di paksa untuk menahan rindu dalam diam. Di matanya aku tak lebih dari perempuan lebay dan menyebalkan jika ku-orasikan rasa rindu dan khawatirku padanya.

Perlahan juga, aku mulai terbiasa dengan kicauan pada personal messege BBm nya. Bagaimana dia dengan gamblang memuja perempuan yang itu bukan aku. Bagaimana dia berharap keadaan dimana hanya ada dia dan perempuan itu. Atau ketika dia berkata tentang ketidakmampuannya untuk bangkit jika dia masih mencintai perempuan itu.

Rasanya aku ingin menjerit sekencang-kencangnya. Aku sungguh iri pada perempuan itu. Meski sudah tak berstatus kekasihnya, perempuan itu masih memiliki tempat yang istimewa di hati kekasihku. Sedangkan aku, hanya jadi pelengkap saja ketika sepi menghampirinya.

Ini memang salahku, aku terlalu lebih mencintai dia sebelum dia mencintaiku. Sehingga mungkin rasa yang dia balas padaku tak lebih dari rasa iba melihatku, bukanlah sepenuhnya perasaan cinta.

Dalam hati aku masih berharap dia bisa menempatkan aku di posisi yang paling istimewa di hatinya. Mungkin saat ini dia hanya belum saja tersentuh dengan kebaikan dan ketulusanku saja-semoga. Barangkali perempuan itu memang memiliki pesona lain bagi kekasihku. Tapi aku percaya ketulusanku jauh di atas segalanya.

Hujan sudah mulai berhenti, kuputuskan untuk segera beranjak dari sini. Rasanya aku tak suka tangisanku mulai di ketahui orang. Mereka sepertinya mulai menyadari ada gurat tangis dalam diamku ini.

Tuesday, October 14, 2014

Pernah ada kamu di sujud terakhirku

Beberapa waktu lalu, tak sengaja kulihat kau berteman dengan kekasihku pada sosial media path. Aku tahu itu kamu, meski saat itu foto yang digunakan adalah bayi kecil mungil yang cantik. Ada debaran-debaran kecil yang kurasa, berusaha meyakinkan diri itu memang kamu. Ada hasrat yang memaksa untuk aku menambahkanmu juga sebagai temanku. Namun kuurungkan jua niat itu. Aku rasa tak perlulah kali ini aku berteman denganmu, belum tentu kamu masih ingat aku. Kita sudah empat tahun tak bertemu.

Aku seperti memutar kenangan yang sudah terjadi empat tahun silam. Aku ingat dengan jelas bagaimana tanggal dua November Dua ribu sepuluh, kita pernah bercengkerama dan bertatap dalam sekat tak berbatas. Duduk ditemani tarian-tarian ikan koi dipinggir kolam tempat kita makan. Sambil menikmati kwetiaw goreng seafood, cappucino float, dan juga cah kangkung seafood lengkap beserta nasi yang kausantap. Itu adalah moment indah bagiku, tuan.

Kau adalah keindahan yang Tuhan izinkan kunikmati. Tuhan begitu baik, sehingga tanpa sadar kusebut namamu dalam tiap akhir sujudku. Aku lupa, apakah saat kusebut namamu itu ada tangisan yang menyapa pipiku atau tidak, yang jelas aku hanya mendamba dan ingin agar Tuhan mempersatukan kamu dan aku.

Tuan, aku pernah mencintaimu selama hampir tiga tahun. Meski kau memperlakukan aku tak ubahnya seperti pengemis yang mencari-cari sesuap informasi tentang dirimu. Aku bingung, kemana lagi aku bisa menemukan kabarmu. Sedangkan nomor ponselmu saja sudah kau ganti dan tak memberi tahuku.

Ini memang tolol, aku tahu itu, gadis yang baru pertama kali bertemu denganmu itu, nyatanya sudah jauh lebih dulu jatuh cinta padamu saat masih menjadi mahasiswa. Kau mungkin tak habis pikir, bagaimana bisa si gadis dungu ini bisa menyukai kamu yang saat itu sudah berstatus kekasih orang lain.

Eh, tapi apa bedanya, ya, saat bertemu denganku pun kau tetap berstatus sebagai kekasih gadis lain yang kini menjadi istrimu.

Ah, tuan, aku terkadang aku merasa iri hati pada istrimu. Posisinya kini adalah posisi yang sempat ku impikan. Aku begitu ingin orang tuamu menjadi mertuaku. Aku begitu mendamba, menjadi adik ipar bagi kedua kakak laki-lakimu. Aku begitu bermimpi menjadi tante bagi dua keponakan laki-laki, dan satu keponakan perempuanmu yang cantik.

Dan maaf, aku sedikit memperhatikanmu kini, kenapa kali ini kau tak setampan saat kita bertemu? Kau tak terlihat lagi begitu mempesonaku? Sepertinya istrimu - jika aku tak salah prediksi, istrimu tak terlalu pandai mengurusimu. Kau terlihat lebih tua enam tahun dariku. Padahal usia kita sama dan hanya berjarak tiga bulan saja. Istrimu tak pandai memilihkan pakaian yang cocok untukmu, tuan. Maaf aku harus mengatakan ini. Ini hanya prediksiku saja.

Andai aku adalah istrimu, akan kubuat kau sesempurna mungkin. Tak akan pernah ku izinkan kau menggunakan kemeja kotak-kotak lengan pendek, itu hanya membuatmu tampak tua, sungguh. Aku pun tak akan membiarkan ada rambut-rambut halus memenuhi bagian diantara bibirmu. Kau harus menggunakan kemeja lengan panjang dengan ukuran slim fit yang pas dibadan atletismu. Kau harus terlihat lebih menarik karena kau memang menarik. Kau harus rapi tapi tidak meninggalkan kesederhanaanmu.

Ah, sudahlah, itu hanya hal yang aku sayangkan. Apapun kamu saat ini, bukan urusanku. Dan kembali pada paragraf awal, tanpa aku sangka, kau ternyata masih mengingatku. Kau ingat dengan jelas, tempat kita pernah makan berdua. Kau bahkan (pada akhirnya) mengucapkan selamat ulang tahun, pada perayaan hari lahirku.

Akhir kata, aku memang pernah menyebut namamu di akhir sujudku, dan aku tak menyesali itu. Bukankah terkadang Tuhan hanya mempertemukan saja, bukan mempersatukan. Setidaknya aku pernah mencecap rasa bahagia bersamamu. Terima kasih untuk kenangan manis empat tahun lalu. Aku bangga pernah mencintai pria sepertimu.

Bandung, 31 Desember 2014
With love for you,

@achynova™

Monday, October 13, 2014

Ketika kuasa Tuhan berbicara

"Sah!!" Begitulah suara yang bergema dari para saksi pada akad pernikahan kita. Aku masih belum percaya bahwa aku dan kamu kini sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Padahal masih jelas dalam ingatanku, bagaimana kamu untuk pertama kalinya mengajakku berbincang pada dunia abstrak tak bersekat.

Sayang, begitu manis Tuhan menautkan kita. Bahkan dengan cara yang tak kumengerti. Andai aku tahu sebelumnya jika kamu adalah jodohku, kenapa Dia tak persatukan kita saat kita masih menjejak lantai dan gedung yang sama? Kenapa kita harus dipisahkan dulu jarak, bahkan hingga detik menuju pernikahan kita. Kita harus melalui jarak jutaan mil, melewati hamparan daratan dan samudra yang membentang. Kau berlayar, dan aku terduduk di depan komputer.

Tak pernah sedikitpun aku berani bermimpi, bahkan membayangkan kita akan benar-benar bertemu, sayang. Meski kau menjanjikan pertemuan saat kau berlabuh nanti, tapi sejujurnya saja aku tak berani memegang janjimu itu. Jujur saja aku takut,  takut jika janji itu tak pernah engkau penuhi dan aku terlanjur berharap banyak.

Dan harus kuakui, kamu memang pria sejati yang memegang janjimu itu. Tiga hari sebelum kau berlabuh dan memutuskan pulang dulu ke Cirebon; kota kelahiranmu, kau mengabariku dan meminta PIN juga nomor ponselku, aku hanya mengikuti permintaanmu tanpa banyak berfikir tentang pertemuan.

Dan hebatnya kau datang tepat didepan mataku, memberi senyuman dan lambaian tangan pertanda sapaan di teriknya matahari.

"Hai, Tiara."

Seperti itulah sapaan pertamamu untukku. Uniknya, kau dan aku tak lagi kaku seperti saat dulu. Kita sudah sedikit saling mengenal, aku dan kamu.

Intensitas pertemuan kita berujung pada caramu mengkhawatirkan aku. Rasanya ada hal yang berbeda setiap kali mata kita saling beradu. Rasaku padamu dulu, kini bertumbuh lagi. Aku mencintaimu lagi,  aku mengagumimu lagi, dan aku menginginkanmu lagi.

Luar biasanya caramu membuktikan cinta padaku membuatku tak bisa menolak pinanganmu. Di sisa akhir tiga bulan cutimu, kau memperkenalkanku pada kedua orang tuamu. Kau dan keluargamu pun langsung melamarku pada orang tuaku. Padahal belum pernah sekalipun kau bilang kau mencintaiku. Dan sama sekali aku merasa tak memiliki hubungan cinta denganmu. Yang aku tahu, kita hanya dekat, namun harus disebut apa kedekatan kita? Entahlah.

Febri, enam bulan setelahnya kupersiapkan pernikahan kita sendiri. Hanya email yang membantuku untuk bisa bertukar pikiran denganmu. Bagaimana dekorasinya, design undangan, hingga gedung dan penata riasnya. Tapi, tak apa, semua memang membuatku stress luar biasa. Tapi hasilnya pun luar biasa.

Mengingat hal itu aku jadi senyum sendiri. Memang benar, ketika kuasa Tuhan bertindak, apa yang tak mungkin pun bisa jadi mungkin.

Kini, resmi sudah aku jadi istrimu. Resmi sudah ku sebut kau suamiku. Terima kasih untuk semuanya.

With love for you ;)

@achynova

Saturday, October 11, 2014

Surat cinta: TITIP RINDU UNTUK CALON ANAKKU

Hai Tuhan, bagaimana kabar surga hari ini? Pastinya lebih indah daripada di bumi, ya?

Bukan itu sebenarnya yang ingin aku perbincangkan dengan-MU. Tapi tentang rasa rinduku pada calon anakku. Tolong sampaikan surat ini pada dia, ya, semoga dia bahagia mendengar calon ibunya sudah merindukan kehadirannya.

Dear Calon buah hatiku,

Sayang, perkenalkanlah siapa aku ini. Aku adalah perempuan yang begitu rindu memilikimu. Begitu bermimpi untuk segera menimangmu dalam pangkuanku. Barangkali aku akan tersenyum ketika melihatmu dengan lahap menyedot air susuku. Tak akan kulepaskan engkau dari pangkuanku. Mungkin dengan sigap ku ganti popokmu yang basah. Meski terkantuk, kupaksakan membuka mata saat tangisanmu menggemparkan malam-malamku. Tapi tak apa, sayang, aku ikhlas. Sama seperti keikhlasanku yang meski harus mempertaruhkan nyawa untuk melahirkanmu.

Ah, baru membayangkannya saja aku tersipu sendiri. Padahal, seperti apa rasanya mengandung saja aku tak tahu, sayang.

Nak, aku tak tahu apakah kekasihku saat ini adalah calon ayahmu atau bukan, semuanya masih menggantung dalam persetujuan Tuhan.

Namun, siapapun Ayahmu kelak, dia pun pasti sangat menyayangimu. Sama sepertiku, dia akan mengorbankan sebagian waktunya demi kamu, nak.

Saat jam kerja selesai, aku yakin dia pasti tergesa untuk pulang. Setiap detiknya dia pasti amat merindukanmu. Senyumanmu, kuyakin akan selalu terbayang di pelupuk matanya. Dia bisa bertindak lebih protective dari aku, sepertinya satu nyamuk saja akan dibantainya habis-habisan jika dia berani menyentuhmu.

Tuh, kan, lagi-lagi aku tersenyum sendiri membayangkannya. Lucu sepertinya jika semua sudah terjadi. Ah, sayang, doakanlah bunda disana, ya, agar kau bisa segera terlahir dari rahimku. Agar rasa rinduku ini segera terobati untuk menimangmu.

Sayang, sekian dulu surat dari bunda. Baik-baik disana. Jangan nakal, ya. Kita sama-sama berdoa, agar aku segera menikah, dan kau segera hadir dalam keluarga kecilku kelak.

Sampaikan terima kasihku pada Tuhan, ya.

Love you, sayang.

Bunda.