Setelah kepergianmu, ada dimensi yang berbeda masuk dalam
kehidupanku. Terkadang, aku perlu menerka hal luar biasa apa (lagi) yang
akan menjadi temanku.
Aku benci mengatakan ini, tapi, harus kuakui aku bahagia dengan
kesendirian. Aku menikmati pertemananku dengan kesepian. Aku berubah
menjadi manusia plegmatis yang menyebalkan.
Tiga hari aku berteman dengan kesendirian. Bersahabat akrab dengan
kenangan. Tak banyak yang aku lakukan; tepatnya tak ingin aku lakukan.
Aku abaikan semua rasa khawatir mereka, aku bukan inginkan mereka, aku
hanya ingin sendiri.
Banyak dari mereka memberikan petuah-petuah dahsyat, menyuruhku
bangkit dan mencoba berdiri lagi. Tapi, indra perasaku dalam hal ini
hati tengah tuli akan celotehan mereka. Sungguh, aku hanya ingin mereka
diam, bukan memberiku omongan besar.
Sesungguhnya aku tahu, semua karena Izin Tuhan. Ia mengizinkan aku
tersakiti, agar aku bisa menguatkan orang lain ketika tersakiti. Ia
megizinkan aku menangis, agar aku bisa menghapuskan air mata orang lain
saat bersedih. Dan aku hanya sedang berproses menjadi pribadi yang kuat
dan dewasa.
Tiba-tiba aku merasa ditarik kembali menuju kenangan terpahit yang
tengah kuhapus paksa. Aku bertemu dengan sosok muda yang seluruhnya ia
seperti penjelmaan kamu. Tuan muda itu menarik aku pada masa lalu.
Masa dimana hanya ada aku dan kamu. Masa
dimana aku bisa melihat raut wajahmu saat
bercanda denganku. Sungguh, tuan muda itu
penjelmaan kamu.
Perbincangan aku dan dia mengalir begitu lancar. Seperti kita sudah
saling mengenal lama. Namun tiba-tiba aku terhenyak, alis mata, hidung,
bahkan senyumnya sungguh seperti kamu. Seharusnya aku tak seperti itu,
tak boleh mengaitkan segala sesuatu padamu. Kamu dan Tuan muda itu
adalah 2 pribadi yang berbeda. 2 senyawa yang tak mungkin dileburkan
hanya dengan kemiripan saja.
Aku, kamu, dan Tuan muda pada akhirnya memiliki kisahnya sendiri.
With Love for You :')
@AchyNova
030413
No comments:
Post a Comment