Achy Nova :)
TULISAN ini bisa jadi AKU ataupun KAMU. Tapi bisa jadi TULISAN ini Bukan AKU ataupun KAMU!!!
Wednesday, February 6, 2019
TERUNTUK DIA; KAKAK ANGGOTA BEM
Friday, June 15, 2018
Kelak
Kelak, apabila Aku memiliki anak semoga aku bisa menjadi ibu yang sangat baik buat mereka. Kuharap aku tak kan pernah membuat anakku sakit hati. Semua harus memiliki porsi yang sama. Tak ada istilah "anak emas".
Orang tua sering tak menyadari sudah melukai perasaan anak sedemikian rupa. Entah karena sikap, ucapan, atau tentang kebohongan-kebohongan yang dibentangkan. Mereka lupa ada kebenaran yang terungkap yang justru membuat luka semakin lebar.
Ada cara yang salah yang entah memang tak disengaja atau memang sengaja.
Saya merasakan perubahan sikap. Perubahan emosi yang menarik diri saya menjadi orang yang tidak mempercayai apapun yang orang tua saya katakan. Karena apa? Karena mereka terlalu banyak membuat kebohongan kepada saya. Sehingga meskipun mereka berkata jujur saya merasa mereka masih berbuat bohong kepada saya.
Lalu, mungkin maksudnya tidak demikian tapi yang saya rasakan adalah apa yang dilakukan atau ada hal apa selalu terkait pada si "anak emas". Contoh kasus mau pinjem maskara ke si anak emas. Pinjem kerudung ke anak emas. Pinjem tas ke anak emas. Giliran pinjem ke bukan anak emas si anak biasa membalikkan perkataan dengan pinjem aja ke dia, malah tersinggung. Barangkali orang tua lupa bahwa si anak yang bukan anak emas ini juga menahan gejolak emosi yang untuk meluapkan pun tak mampu.
Dan ini yang lucu ketika si anak biasa ini menangis di keramaian. Si orang tua dengan enteng bilang "selalu begitu selalu jadi biang kerok".
Dan ketika pemberian si anak biasa tak diterima dengan baik. Darisana saya memahami bahwa hanya pemberian si anak emas yang akan diterima dengan berbesar hati.
Astaghfirullah.
Yah namanya orang nangis kadang air mata gak bisa ditahan. Emosi sudah terlanjur mengacak-ngacak perasaanya. Dan yang terjadi adalah si anak biasa tak lagi memiliki empati bahkan kepada orang tuanya.
Ya alloh semoga aku tidak jadi orang tua yang begitu.
Monday, April 30, 2018
Sudah Satu Tahun
Setahun lalu di malam nisyfu syaban aku kehilangan sesuatu yang penting bagiku. Segala macam doa selalu kuupayakan di perkenalan pertama kami. Segalanya. Berharap perkenalan ini tak berakhir menyakiti. Hingga memang sesuatu yang pasti terjadi jugalah yang merenggutnya dariku. Kematian.
Aku mencoba mengikhlaskan semuanya. Berusaha sedih sesedikit mungkin dan tampil dihadapan banyak orang bahwa aku baik-baik saja.
Aku tak ingin mebebanimu. Kamu harus pergi dalam damai walau jujur kuakui ini sulit bagiku.
Nyatanya setelah di tinggalkanmu kehidupan tak berjalan baik. Rentetan luka masih mengikutiku entah sampai kapan. Semua serba tak mudah hingga detik ini, hingga detik dimana kutuliskan ini untukmu.
Sayang, apa yang harus aku lakukan? Aku masih berharap berita kepergianmu itu bohong belaka. Tak apa jika dengan berbohong padaku kau sembuh. Tak apa jika dengan membohongiku kau bahagia. Aku ikhlas. Tapi aku tak tahu kebenarannya. Terlalu banyak hal yang kamu tutupi. Terlalu banyak.
28 Februari 2018 seharusnya kau genap berusia 32 tahun jika masih ada. Sengaja aku tak menuliskan apapun di berandamu. Aku tak ingin lagi menulis tentang betapa aku cinta atau bahkan tentang betapa aku merindukanmu.
19 Februari 2018 seharusnya juga kita merayakan 2 tahun hubungan ini. Lagi-lagi aku tak menuliskan apapun. Karena kenyataannya aku mungkin tak pernah benar-benar memiliki kamu. Mungkin juga tak benar-benar memiliki hati kamu saat kamu masih ada.
Kamu terlalu meragu padaku. Kamu bahkan tak meyakini bagaimana apa yang kupunya, bagaimana perasaan ini tulus adanya untuk kamu.
Mungkin hingga detik terakhir nafas kamu aku tak pernah bisa menggantikan posisi sahabat wanita yang paling kau cintai. Sedari awal bukankah aku memang sudah kalah darinya. Hati kamu tak benar-benar kamu berikan untukku.
Lalu aku menjadi yang paling menderita. Kehilanganmu tak pelak menjadikan hidupku tetap tak baik-baik saja. Aku lelah pram. Aku lelah.
Masih dengan cinta, 1 Mei 2018.
Tuesday, March 6, 2018
=prolog=Mencintai dokter 1
Tuesday, July 4, 2017
Pada 51 hari kepergianmu.
3 Juli 2017.
Entah harus bahagia, entah harus terluka, yang jelas tepat di hari ke lima puluh satu kepergianmu, kamu datang menemuiku.
Segalanya terasa begitu nyata, aku yakin tidak dalam kondisi bermimpi. Kamu datang, menggunakan kemeja berwarna biru muda. Kulitmu putih bercahaya, rambutmu ikal rapi dan kamu tersenyum.
Setahuku jika seseorang yang sudah tidak ada mendatangi yang masih hidup dan dia tidak berbicara sepatah kata pun tandanya dia memang datang. Dan itu yang terjadi padamu. Dan aku percaya kamu memang mengunjungiku. Kuharap itu bukanlah sebuah kunjungan perpisahan. Itu adalah kunjungan selamat datang. setelahnya seringlah mengunjungiku, aku merindukanmu.
Aku tak bisa berkata banyak lagi tentang ini. Aku hanya ingin mengingat setiap moment mengenaimu.
I LOVE YOU PRAM, ALWAYS LOVE YOU.
Thursday, June 22, 2017
40 Hari ditinggalkanmu
Hari ini, 40 hari sudah kamu pergi meninggalkan banyak mimpi yang tidak pernah terealisasi. Aku masih berusaha percaya bahwa ini memang terjadi padaku. Ditinggalkan kekasih yang selama lima belas bulan menjadi sang tambatan hati.
Aku merasa menjadi wanita yang menyedihkan. Bagaimana tidak, kepergianmu tanpa mengucapkan kata pamit padaku. Tapi kamu tak perlu khawatir, sayang, hanya sebagian orang yang tahu kisah ini saja yang mampu melihat betapa terlukanya aku setelah kepergianmu. Sebagian lagi percaya aku baik-baik saja dan masih bisa tertawa. Terkadang aku merasa cocok menjadi seorang ahli peran, setidaknya beberapa bagian sedih yang terjadi dalam kehidupanku mampu kusembunyikan dengan sempurna.
Hari ini, hari dimana 40 hari kamu pergi, aku tak bisa berbicara lagi. Kelu rasanya untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kali. Aku yakin, saat ini kamu mungkin sedang berdiri disampingku, melihat aku dengan gamblangnya menuliskan ini untuk menghantarkan kepergianmu selamanya itu.
Aku merasa menjadi orang paling sengsara, mencoba mengingat setiap kejadian denganmu tahun lalu. Tahun lalu, kau mengabariku tentang kepulanganmu ke Bandung, tapi tahun ini kabar itu tak pernah kudapatkan lagi.
Namun sepertinya aku lupa sayang, ketika aku mencoba menjalin komunikasi dengan Mami, disana ternyata beliau lebih sedih daripada aku disini. Bagaimana tidak, lebaran yang tinggal dua hari lagi, justru semakin membalut luka hati mami. Kamu sudah pergi, lalu Vania sedang bertugas di Yogyakarta. Lebaran kali ini Mami merayakan idul fitri seorang diri. Andai saja aku mampu kesana, sayang, aku akan berkunjung untuk sekedar menemaninya. Menjadi penggantimu meski aku tahu aku bukanlah anaknya.
Aku ingin menguatkan dia, bagaimanapun kami sama-sama terluka setelah kepergianmu. Setidaknya kami bisa saling menguatkan satu sama lain.
Orang bilang, hari ke 40 itu adalah hari terakhir arwah seseorang berada disekitar orang-orang yang disayanginya. Hari ini juga hari terakhir kamu berada disekitarku. Berat rasanya melepaskanmu, meskipun selama 40 hari ini pula aku mencoba untuk tegar.
Entah ini tulisan yang keberapa mengenaimu. Seingatku diawal kita saling jatuh cinta hingga sekarang kamu pergi, selalu ada tulisan mengenaimu yang ingin kubagi.
Sayang, meski berat untuk mengatakan ini; pergilah ketempat dimana Tuhan sedang merentangkan pelukNya untukmu. Aku akan kirimkan doa untukmu disini. Berbahagialah disana. Sampaikan rasa terima kasihku pada Tuhan, sudah memberikan kamu dalam cerita singkatku.
Aku tahu kamu mebaca ini semua, Rasanya masih selalu sama untukmu; AKU MENCINTAIMU.
With love for you, Pramana Putra Evandra
dari kekasihmu,
Astrie