Wednesday, February 6, 2019

TERUNTUK DIA; KAKAK ANGGOTA BEM

Bandung, 7 Februari 2019

Memasuki tahun ke sembilan ini kukira semua perasaanku terhadapmu sudahlah usai. Tahun kesembilan sejak pertemuan pertama dan terakhir kita, perasaan itu tetaplah sama. Jika kamu tanyakan kenapa, sungguh pertanyaan itu juga yang selalu hinggap di kepalaku.

Beberapa waktu lalu kulihat postinganmu di situs berbagi foto, disana ada kamu dan anak perempuanmu yang cantik sedang saling berpelukan. Hatiku terasa menghangat melihat momen itu, momen yang aku harapkan bisa terjadi padaku. 

Mungkin ada hal yang tidak kamu tahu selama ini, kamu adalah satu dari sekian doa yang aku panjatkan pada Tuhan. Ada beberapa bait mengenaimu yang tak bosan kuperbincangkan pada-Nya, bait-bait penuh pengharapan agar Tuhan berbaik hati memberikanmu untuk menemaniku hingga tua. Tiga tahun lamanya aku dengan gamblang menyebutkan namamu. Hingga semua doa dan pengharapan harus terhenti ketika kamu mengirimkan sebuah undangan pernikahan padaku.

Sedih? sedikit. Apapun yang membuatmu bahagia adalah kebahagiaanku.

Kini sudah memasuki enam tahun dari undangan yang kau kirimkan aku masih belum menemukan sosok yang seperti kamu. Mungkin aku terlalu muluk-muluk dalam meminta perihal pendampingku. Aku selalu berandai-andai jika saja kamu diciptakan dua. Aku masih ingin memiliki pendamping seperti kamu. Tidak--tidak--tidak, tentu saja bukan kamu, aku tak ingin merampas apa yang bukan bagianku.

Tentu saja Tuhan sangat tahu bahwa yang kamu butuhkan adalah dia, bukan aku. Dan meskipun aku memakai segala usaha --kala itu-- untuk mendapatkanmu, jika kamu tidak ditakdirkan untukku, tetap saja kita tak mungkin bersatu, bukan?

Kali ini aku hanya bisa mendoakanmu, semoga selalu bahagia dengan keluarga kecilmu. Rencana Tuhan yang tidak aku pahami ini hanya akan kujalani saja semampuku. Aku sangat percaya kamu memang sosok sempurna untuk menjadi ayah juga suami. Kuharap aku bisa mendapatkan sosok penyayang sepertimu. Sosok yang sangat mencintai keluarganya. Sosok pria yang bahkan dalam bertutur kata pun begitu lembut dan terasa nyaman ditelingaku. Sosok yang penuh kesederhanaan dan bersahaja.

Kuharap ini adalah tulisan terakhir mengenaimu. Aku sadar, sudah tidak boleh lagi mengagumi sosokmu. Perasaan ini pun sudah harus dituntaskan.

Berbahagialah selalu untukmu.

Dari aku; gadis di 2 November 2010.

Friday, June 15, 2018

Kelak

Kelak, apabila Aku memiliki anak semoga aku bisa menjadi ibu yang sangat baik buat mereka. Kuharap aku tak kan pernah membuat anakku sakit hati. Semua harus memiliki porsi yang sama. Tak ada istilah "anak emas".

Orang tua sering tak menyadari sudah melukai perasaan anak sedemikian rupa. Entah karena sikap, ucapan, atau tentang kebohongan-kebohongan yang dibentangkan. Mereka lupa ada kebenaran yang terungkap yang justru membuat luka semakin lebar.

Ada cara yang salah yang entah memang tak disengaja atau memang sengaja.

Saya merasakan perubahan sikap. Perubahan emosi yang menarik diri saya menjadi orang yang tidak mempercayai apapun yang orang tua saya katakan. Karena apa? Karena mereka terlalu banyak membuat kebohongan kepada saya. Sehingga meskipun mereka berkata jujur saya merasa mereka masih berbuat bohong kepada saya.

Lalu, mungkin maksudnya tidak demikian tapi yang saya rasakan adalah apa yang dilakukan atau ada hal apa selalu terkait pada si "anak emas". Contoh kasus mau pinjem maskara ke si anak emas. Pinjem kerudung ke anak emas. Pinjem tas ke anak emas. Giliran pinjem ke bukan anak emas si anak biasa membalikkan perkataan dengan pinjem aja ke dia, malah tersinggung. Barangkali orang tua lupa bahwa si anak yang bukan anak emas ini juga menahan gejolak emosi yang untuk meluapkan pun tak mampu.

Dan ini yang lucu ketika si anak biasa ini menangis di keramaian. Si orang tua dengan enteng bilang "selalu begitu selalu jadi biang kerok".

Dan ketika pemberian si anak biasa tak diterima dengan baik. Darisana saya memahami bahwa hanya pemberian si anak emas yang akan diterima dengan berbesar hati.

Astaghfirullah.

Yah namanya orang nangis kadang air mata gak bisa ditahan. Emosi sudah terlanjur mengacak-ngacak perasaanya. Dan yang terjadi adalah si anak biasa tak lagi memiliki empati bahkan kepada orang tuanya.

Ya alloh semoga aku tidak jadi orang tua yang begitu.

Monday, April 30, 2018

Sudah Satu Tahun

Setahun lalu di malam nisyfu syaban aku kehilangan sesuatu yang penting bagiku. Segala macam doa selalu kuupayakan di perkenalan pertama kami. Segalanya. Berharap perkenalan ini tak berakhir menyakiti. Hingga memang sesuatu yang pasti terjadi jugalah yang merenggutnya dariku. Kematian.

Aku mencoba mengikhlaskan semuanya. Berusaha sedih sesedikit mungkin dan tampil dihadapan banyak orang bahwa aku baik-baik saja.

Aku tak ingin mebebanimu. Kamu harus pergi dalam damai walau jujur kuakui ini sulit bagiku.

Nyatanya setelah di tinggalkanmu kehidupan tak berjalan baik. Rentetan luka masih mengikutiku entah sampai kapan. Semua serba tak mudah hingga detik ini, hingga detik dimana kutuliskan ini untukmu.

Sayang, apa yang harus aku lakukan? Aku masih berharap berita kepergianmu itu bohong belaka. Tak apa jika dengan berbohong padaku kau sembuh. Tak apa jika dengan membohongiku kau bahagia. Aku ikhlas. Tapi aku tak tahu kebenarannya. Terlalu banyak hal yang kamu tutupi. Terlalu banyak.

28 Februari 2018 seharusnya kau genap berusia 32 tahun jika masih ada. Sengaja aku tak menuliskan apapun di berandamu. Aku tak ingin lagi menulis tentang betapa aku cinta atau bahkan tentang betapa aku merindukanmu.

19 Februari 2018 seharusnya juga kita merayakan 2 tahun hubungan ini. Lagi-lagi aku tak menuliskan apapun. Karena kenyataannya aku mungkin tak pernah benar-benar memiliki kamu. Mungkin juga tak benar-benar memiliki hati kamu saat kamu masih ada.

Kamu terlalu meragu padaku. Kamu bahkan tak meyakini bagaimana apa yang kupunya, bagaimana perasaan ini tulus adanya untuk kamu.

Mungkin hingga detik terakhir nafas kamu aku tak pernah bisa menggantikan posisi sahabat wanita yang paling kau cintai. Sedari awal bukankah aku memang sudah kalah darinya. Hati kamu tak benar-benar kamu berikan untukku.

Lalu aku menjadi yang paling menderita. Kehilanganmu tak pelak menjadikan hidupku tetap tak baik-baik saja. Aku lelah pram. Aku lelah.

Masih dengan cinta, 1 Mei 2018.

Tuesday, March 6, 2018

=prolog=Mencintai dokter 1

(Bian pov)
Entah kebodohan apa yang sudah aku lakukan pada wanita ini. Pada akhirnya dia memilih melepaskan aku. Perjuangannya yang tak pernah kulihat membuatnya memilih berhenti mencintaiku. Dia membebaskan aku. Padahal dibalik kisah ini, aku tahu dia ingin menjadi pemenang.

Ini terlalu rumit. Karena saat itu aku memang menjalin Kasih meski belum pernah sekalipun bertemu dengannya. Kupikir wanita ini sama seperti wanita lainnya, yang memandangku dari Harta juga tahtaku. Itulah penyebab aku menjalani hubungan dengan wanita ini biasa saja.

Aku tak pernah tahu betapa dia memperjuangkan aku seluar biasa ini. Dan aku, menyakitinya seluar biasa itu.

Hari itu, Sepuluh September Dua ribu enam belas, setelah dua hari pernikahan sahabat wanita yang aku cintai, aku memutuskan untuk mulai memperbaiki hubunganku dengan wanita ini.
Kuakui hubunganku dengannya memburuk. Sesaat setelah banyak kesalah pahaman terjadi. Aku membuatnya kecewa justru pada pertemuan yang pertama. Ya, aku salah, sangat salah. Seharusnya kepulanganku dari Malaysia tahun ini memang bertemu dengannya. Dia menantikan pertemuan itu, dan aku mematahkannya.

Hari dimana aku seharusnya memberi kabar bahwa aku telah sampai di Bandung, aku malah mengabaikannya. Aku tak pernah tahu jika selama delapan belas jam setelah aku mengabarinya akan pulang ke indonesia, dia menunggu kabarku. Keesokan harinya, aku malah lebih senang berangkat lagi menemui wanita sahabatku yang masih kucintai. Padahal jarak yang lebih dekat adalah aku menemui wanita itu.

Astaga, aku benar-benar jahat. Dan aku menyadarinya justru setelah kehilangan dia.
Setelah aku memutuskan akan mulai memprioritaskan dia, dia menghilang. Tak pernah lagi kutemukan dia disegala sudut. Termasuk satu-satunya cara ku berkomunikasi pada aplikasi messenger.

Dia tak pernah lagi menulis status, memposting foto, tak pernah. Aku ingat dia memiliki Tumblr, setidaknya satu hal yang aku tahu, dia ingin menjadi penulis. Barangkali disana aku temukan hal yang bisa memberiku petunjuk penyebab dia menghilang.
Aku buka akunnya, pada tulisan terakhirnya membuatku terperangah. Aku sedih, dan jujur aku menitikkan air mata membacanya.

Kepada seseorang yang selalu kupeluk dengan doa.

Hai, entah kau akan menemukan tulisan ini atau tidak. Jika tulisan ini kau temukan setidaknya aku tahu kau sempat mencariku hingga bisa menemukan tulisan ini. 
Saat kutulis ini hatiku berdebum luar biasa. Aku menahan keperihan pada ulu hatiku. Aku akan tahan, aku pasti bisa.


Kamu, saat kau temukan tulisanku ini, aku pasti sudah pergi jauh dari hidupmu. Ya, pada akhirnya aku memilih melepaskanmu. Tak mengapa teriakkan pada semua orang bahwa aku pecundang. Yang pada akhirnya kalah juga. Tapi setidaknya aku telah memperjuangkanmu dengan berdarah-darah.
Apa kamu pernah berpikir bagaimana sulitnya menjalani semuanya? Tapi tak sedikitpun aku ingin berkata selesai. Aku bertahan pada ketidak pastian takdir Tuhan mengenai bagaimana akhir dari kisah ini. Semua masih serba abu, dan aku berdiri diantara warna yang tak pernah terlihat Indah untukku.

Ini bukanlah kali pertama aku menjalankan peran pada kisah terhampar jarak. Biasanya aku menjadi wanita egois yang akan menuntut kabar dari kekasihnya.
Tapi denganmu semua terasa berbeda. Aku bisa, bahkan sangat amat bisa menerima kamu yang sering lupa memberi kabar padaku. Aku menganalisa situasi ini sendiri, ya, kekasihku tengah sibuk menyelamatkan banyak jiwa. Selalu itu yang kutanamkan dalam diri, kekasihku milik pasiennya, baru setelahnya aku.

Kamu yang disana,
Di luar analisa tentang kamu, sepertinya ada hal yang tak bisa kupahami. Entah kenapa aku merasa kamu selalu lebih memprioritaskan sahabatmu daripada aku, bahkan ketika kamu menghilang dalam kurun waktu sepuluh hari, sahabatmu bisa mengetahui keberadaanmu dan itu langsung dari kamu.
Ini ada yang salah. Sepertinya kamu lupa memposisikan siapa kekasih siapa sahabat. Dari sana rasa cemburu yang selama ini tak pernah ada, tetiba menyeruak dengan hebatnya. Kutahan sebisa mungkin, tapi semakin kesini kamu semakin lupa diri.

Kau tahu, dua bulan lalu, sahabatmu mengenalkan aku pada pria temannya. Aku sudah mengatakan padanya, aku takut kamu marah, dan dengan lancar dia katakan padaku, bahwa ini hanya sekedar silaturahmi.

Silaturahmi. Kata itu seakan menyihirku. Aku pun berkenalan dengannya, tapi hanya sebatas pertemanan saja.

Tapi pria ini cukup gencar mendekatiku, dia sering mengirimkan pesan yang menurutku sungguh tak penting. Dan aku pun sering mengabaikannya.

Aku pikir, sahabatmu itu mengatakan hal ini padamu. Ternyata aku merasa dijebak. Entahlah, barangkali sahabatmu tak menyukai aku menjadi kekasihmu.

Dan pada saat hari dimana kita seharusnya bertemu, aku merasa sedang dia permainkan. Apa kau paham bagaimana bisa sahabatmu menyuruh temannya itu datang menemui aku yang sedang berjuang bertemu denganmu? Beruntung saat itu semua terbukti. Pria itu paham bahwa aku memang lebih memilihmu. Awalnya dia menanyakan apakah ditempat aku berada aku sedang bersama sahabatmu? Karena ternyata sahabatmu menyuruhnya menemuiku. Semua jelas karena dia mengirimkan screen capture percakapan dia dan sahabatmu. Aku bergetar hebat. Sejahat itukah dia padaku? Dan kamu yang seharusnya menemuiku malah pulang tanpa lebih dulu mencariku.

Tanpa kamu tahu, lagi-lagi aku harus menangis karena ulah kalian, kamu dan sahabatmu.
Kenapa tuan, tanpa mendengar penjelasanku, kamu malah lebih marah padaku karena telah memarahi sahabatmu? Apakah hanya dia yang kamu pikirkan perasaannya?

Dari perdebatan kita yang menguras emosi itu, dan selalu kamu yang membela dia, aku sadar, kamu ternyata masih mencintai dia. Kamu lebih takut kehilangan dia daripada aku. Aku merutuki kebodohanku. Dan kebodohan yang terus berlanjut karena aku masih mau berjuang hingga kisah kita berhasil di pelaminan.

Haruskah aku melepaskanmu, sayang? Haruskah itu kulakukan Dr. Bian?
Tapi sepertinya kamu memang perlu kulepaskan. Denganku kamu tak menemukan seseorang yang pantas kamu perjuangkan, bukan? Aku bukan prioritas untukmu. Aku paham dari seringnya kamu menghilang. Tak apa, aku baik-baik saja.

Sayang. 
Aku pergi, ya, bukan karena tak mencintaimu. Tapi karena aku tahu jika denganku kamu tak bahagia. Dan Karena aku mencintaimu aku memilih melihatmu bahagia meski bukan denganku, Dr. Bian.

Saat menuliskan ini lagu Need You Now sedang berputar, tapi percayalah aku membutuhkanmu bukan hanya sekarang. Dari awal aku selalu menempatkanmu pada posisi penting, dan dari awal pula aku memang merasa membutuhkanmu. 

Selamat tinggal Dr. Bian. Aku selalu mencintaimu.


Jasmine.

Tuesday, July 4, 2017

Pada 51 hari kepergianmu.

3 Juli 2017.

Entah harus bahagia, entah harus terluka, yang jelas tepat di hari ke lima puluh satu kepergianmu, kamu datang menemuiku.

Segalanya terasa begitu nyata, aku yakin tidak dalam kondisi bermimpi. Kamu datang, menggunakan kemeja berwarna biru muda. Kulitmu putih bercahaya, rambutmu ikal rapi dan kamu tersenyum.

Setahuku jika seseorang yang sudah tidak ada mendatangi yang masih hidup dan dia tidak berbicara sepatah kata pun tandanya dia memang datang. Dan itu yang terjadi padamu. Dan aku percaya kamu memang mengunjungiku. Kuharap itu bukanlah sebuah kunjungan perpisahan. Itu adalah kunjungan selamat datang. setelahnya seringlah mengunjungiku, aku merindukanmu.

Aku tak bisa berkata banyak lagi tentang ini. Aku hanya ingin mengingat setiap moment mengenaimu.

I LOVE YOU PRAM, ALWAYS LOVE YOU.

Thursday, June 22, 2017

40 Hari ditinggalkanmu

Jumat, 23 Juni 2017

Hari ini, 40 hari sudah kamu pergi meninggalkan banyak mimpi yang tidak pernah terealisasi. Aku masih berusaha percaya bahwa ini memang terjadi padaku. Ditinggalkan kekasih yang selama lima belas bulan menjadi sang tambatan hati.

Aku merasa menjadi wanita yang menyedihkan. Bagaimana tidak, kepergianmu tanpa mengucapkan kata pamit padaku. Tapi kamu tak perlu khawatir, sayang, hanya sebagian orang yang tahu kisah ini saja yang mampu melihat betapa terlukanya aku setelah kepergianmu. Sebagian lagi percaya aku baik-baik saja dan masih bisa tertawa. Terkadang aku merasa cocok menjadi seorang ahli peran, setidaknya beberapa bagian sedih yang terjadi dalam kehidupanku mampu kusembunyikan dengan sempurna.

Hari ini, hari dimana 40 hari kamu pergi, aku tak bisa berbicara lagi. Kelu rasanya untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kali. Aku yakin, saat ini kamu mungkin sedang berdiri disampingku, melihat aku dengan gamblangnya menuliskan ini untuk menghantarkan kepergianmu selamanya itu.

Aku merasa menjadi orang paling sengsara, mencoba mengingat setiap kejadian denganmu tahun lalu. Tahun lalu, kau mengabariku tentang kepulanganmu ke Bandung, tapi tahun ini kabar itu tak pernah kudapatkan lagi.

Namun sepertinya aku lupa sayang, ketika aku mencoba menjalin komunikasi dengan Mami, disana ternyata beliau lebih sedih daripada aku disini. Bagaimana tidak, lebaran yang tinggal dua hari lagi, justru semakin membalut luka hati mami. Kamu sudah pergi, lalu Vania sedang bertugas di Yogyakarta. Lebaran kali ini Mami merayakan idul fitri seorang diri. Andai saja aku mampu kesana, sayang, aku akan berkunjung untuk sekedar menemaninya. Menjadi penggantimu meski aku tahu aku bukanlah anaknya.

Aku ingin menguatkan dia, bagaimanapun kami sama-sama terluka setelah kepergianmu. Setidaknya kami bisa saling menguatkan satu sama lain.

Orang bilang, hari ke 40 itu adalah hari terakhir arwah seseorang berada disekitar orang-orang yang disayanginya. Hari ini juga hari terakhir kamu berada disekitarku. Berat rasanya melepaskanmu, meskipun selama 40 hari ini pula aku mencoba untuk tegar.

Entah ini tulisan yang keberapa mengenaimu. Seingatku diawal kita saling jatuh cinta hingga sekarang kamu pergi, selalu ada tulisan mengenaimu yang ingin kubagi.

Sayang, meski berat untuk mengatakan ini; pergilah ketempat dimana Tuhan sedang merentangkan pelukNya untukmu. Aku akan kirimkan doa untukmu disini. Berbahagialah disana. Sampaikan rasa terima kasihku pada Tuhan, sudah memberikan kamu dalam cerita singkatku.

Aku tahu kamu mebaca ini semua, Rasanya masih selalu sama untukmu; AKU MENCINTAIMU.


With love for you, Pramana Putra Evandra

dari kekasihmu,

Astrie

Friday, June 9, 2017

Dua Puluh Tujuh Hari Setelah Kamu Pergi

Hai sayang,

Hari ini, hari ke dua puluh tujuh kamu pergi. Jika dibilang tegar, barangkali, iya. Semua melihatku masih bisa tertawa lepas bahkan tiga hari sejak kepergianmu. Aku hanya tidak ingin dikasihani. Meskipun di awal aku kehilanganmu, aku membutuhkan sosok sahabat yang mendengarkan aku. Tapi mereka yang kusebut sahabat tak pernah ada, tidak untuk menguatkan, apalagi hanya sekedar menjadi pendengarku pun mereka tak ada. Padahal Seingatku, saat mereka memiliki masalah, aku ada untuk mereka. Sementara problem mereka hanyalah putus cinta, bukan selamanya ditinggalkan seperti aku.

Sayang,

Aku sedih ditinggalkanmu, dan beberapa kesempatan Tuhan yang tak diberikan kepadaku di detik-detik kamu pergi. Tapi aku harus berpikir baik bukan? Aku harus berpikir bahwa Tuhan itu baik. 

Karena Tuhan baik pulalah, dia mengambilmu dariku. Tuhan tak mau kau merasakan sakit terlalu lama. Sekarang bukan hanya jiwamu yang telah pergi, seluruh kesakitan yang ada padamu pun telah hilang. Kamu tak perlu lagi kemoterapi yang katanya sangat menyakitkan. Tak ada lagi transfusi darah. Juga tak perlu ada kursi roda untuk menopangmu. 

Kamu selalu bilang padaku, kamu ingin bertemuku di surga. Ya, semoga. Semoga kita dipertemukan di Jannah -Nya. 

Kau sudah kembali ke pelukan Tuhan. Melihatku dari kejauhan. Aku merindukanmu, sayang. Setelah dua puluh tujuh hari kamu pergi, kenyataannya aku tak pernah baik-baik saja. 

Ini adalah untuk kebahagianmu. Tidak apa-apa, aku tak kuasa menahanmu lebih lama. Tuhan terlalu mencintaimu meskipun kupikir aku yang lebih mencintaimu. 

Baik-baik sayang, aku mencintaimu dengan segala perasaanku. Aku mencintaimu dengan segala kemampuanku. Aku tahu disana sudah kau minta Tuhan untuk memberikan penggantimu untuk menjagaku, entah siapa dia. 

Sampaikan salamku pada Tuhan, semoga Ia selalu menjagamu, sayang. 


With love for you, 


AchyNova