Setahun lalu di malam nisyfu syaban aku kehilangan sesuatu yang penting bagiku. Segala macam doa selalu kuupayakan di perkenalan pertama kami. Segalanya. Berharap perkenalan ini tak berakhir menyakiti. Hingga memang sesuatu yang pasti terjadi jugalah yang merenggutnya dariku. Kematian.
Aku mencoba mengikhlaskan semuanya. Berusaha sedih sesedikit mungkin dan tampil dihadapan banyak orang bahwa aku baik-baik saja.
Aku tak ingin mebebanimu. Kamu harus pergi dalam damai walau jujur kuakui ini sulit bagiku.
Nyatanya setelah di tinggalkanmu kehidupan tak berjalan baik. Rentetan luka masih mengikutiku entah sampai kapan. Semua serba tak mudah hingga detik ini, hingga detik dimana kutuliskan ini untukmu.
Sayang, apa yang harus aku lakukan? Aku masih berharap berita kepergianmu itu bohong belaka. Tak apa jika dengan berbohong padaku kau sembuh. Tak apa jika dengan membohongiku kau bahagia. Aku ikhlas. Tapi aku tak tahu kebenarannya. Terlalu banyak hal yang kamu tutupi. Terlalu banyak.
28 Februari 2018 seharusnya kau genap berusia 32 tahun jika masih ada. Sengaja aku tak menuliskan apapun di berandamu. Aku tak ingin lagi menulis tentang betapa aku cinta atau bahkan tentang betapa aku merindukanmu.
19 Februari 2018 seharusnya juga kita merayakan 2 tahun hubungan ini. Lagi-lagi aku tak menuliskan apapun. Karena kenyataannya aku mungkin tak pernah benar-benar memiliki kamu. Mungkin juga tak benar-benar memiliki hati kamu saat kamu masih ada.
Kamu terlalu meragu padaku. Kamu bahkan tak meyakini bagaimana apa yang kupunya, bagaimana perasaan ini tulus adanya untuk kamu.
Mungkin hingga detik terakhir nafas kamu aku tak pernah bisa menggantikan posisi sahabat wanita yang paling kau cintai. Sedari awal bukankah aku memang sudah kalah darinya. Hati kamu tak benar-benar kamu berikan untukku.
Lalu aku menjadi yang paling menderita. Kehilanganmu tak pelak menjadikan hidupku tetap tak baik-baik saja. Aku lelah pram. Aku lelah.
Masih dengan cinta, 1 Mei 2018.
No comments:
Post a Comment