Bandung, 7 Februari 2019
Memasuki tahun ke sembilan ini kukira semua perasaanku terhadapmu sudahlah usai. Tahun kesembilan sejak pertemuan pertama dan terakhir kita, perasaan itu tetaplah sama. Jika kamu tanyakan kenapa, sungguh pertanyaan itu juga yang selalu hinggap di kepalaku.
Beberapa waktu lalu kulihat postinganmu di situs berbagi foto, disana ada kamu dan anak perempuanmu yang cantik sedang saling berpelukan. Hatiku terasa menghangat melihat momen itu, momen yang aku harapkan bisa terjadi padaku.
Mungkin ada hal yang tidak kamu tahu selama ini, kamu adalah satu dari sekian doa yang aku panjatkan pada Tuhan. Ada beberapa bait mengenaimu yang tak bosan kuperbincangkan pada-Nya, bait-bait penuh pengharapan agar Tuhan berbaik hati memberikanmu untuk menemaniku hingga tua. Tiga tahun lamanya aku dengan gamblang menyebutkan namamu. Hingga semua doa dan pengharapan harus terhenti ketika kamu mengirimkan sebuah undangan pernikahan padaku.
Sedih? sedikit. Apapun yang membuatmu bahagia adalah kebahagiaanku.
Kini sudah memasuki enam tahun dari undangan yang kau kirimkan aku masih belum menemukan sosok yang seperti kamu. Mungkin aku terlalu muluk-muluk dalam meminta perihal pendampingku. Aku selalu berandai-andai jika saja kamu diciptakan dua. Aku masih ingin memiliki pendamping seperti kamu. Tidak--tidak--tidak, tentu saja bukan kamu, aku tak ingin merampas apa yang bukan bagianku.
Tentu saja Tuhan sangat tahu bahwa yang kamu butuhkan adalah dia, bukan aku. Dan meskipun aku memakai segala usaha --kala itu-- untuk mendapatkanmu, jika kamu tidak ditakdirkan untukku, tetap saja kita tak mungkin bersatu, bukan?
Kali ini aku hanya bisa mendoakanmu, semoga selalu bahagia dengan keluarga kecilmu. Rencana Tuhan yang tidak aku pahami ini hanya akan kujalani saja semampuku. Aku sangat percaya kamu memang sosok sempurna untuk menjadi ayah juga suami. Kuharap aku bisa mendapatkan sosok penyayang sepertimu. Sosok yang sangat mencintai keluarganya. Sosok pria yang bahkan dalam bertutur kata pun begitu lembut dan terasa nyaman ditelingaku. Sosok yang penuh kesederhanaan dan bersahaja.
Kuharap ini adalah tulisan terakhir mengenaimu. Aku sadar, sudah tidak boleh lagi mengagumi sosokmu. Perasaan ini pun sudah harus dituntaskan.
Berbahagialah selalu untukmu.
Dari aku; gadis di 2 November 2010.
No comments:
Post a Comment