Hari ini, hari ke dua puluh tujuh kamu pergi. Jika dibilang tegar, barangkali, iya. Semua melihatku masih bisa tertawa lepas bahkan tiga hari sejak kepergianmu. Aku hanya tidak ingin dikasihani. Meskipun di awal aku kehilanganmu, aku membutuhkan sosok sahabat yang mendengarkan aku. Tapi mereka yang kusebut sahabat tak pernah ada, tidak untuk menguatkan, apalagi hanya sekedar menjadi pendengarku pun mereka tak ada. Padahal Seingatku, saat mereka memiliki masalah, aku ada untuk mereka. Sementara problem mereka hanyalah putus cinta, bukan selamanya ditinggalkan seperti aku.
Sayang,
Aku sedih ditinggalkanmu, dan beberapa kesempatan Tuhan yang tak diberikan kepadaku di detik-detik kamu pergi. Tapi aku harus berpikir baik bukan? Aku harus berpikir bahwa Tuhan itu baik.
Karena Tuhan baik pulalah, dia mengambilmu dariku. Tuhan tak mau kau merasakan sakit terlalu lama. Sekarang bukan hanya jiwamu yang telah pergi, seluruh kesakitan yang ada padamu pun telah hilang. Kamu tak perlu lagi kemoterapi yang katanya sangat menyakitkan. Tak ada lagi transfusi darah. Juga tak perlu ada kursi roda untuk menopangmu.
Kamu selalu bilang padaku, kamu ingin bertemuku di surga. Ya, semoga. Semoga kita dipertemukan di Jannah -Nya.
Kau sudah kembali ke pelukan Tuhan. Melihatku dari kejauhan. Aku merindukanmu, sayang. Setelah dua puluh tujuh hari kamu pergi, kenyataannya aku tak pernah baik-baik saja.
Ini adalah untuk kebahagianmu. Tidak apa-apa, aku tak kuasa menahanmu lebih lama. Tuhan terlalu mencintaimu meskipun kupikir aku yang lebih mencintaimu.
Baik-baik sayang, aku mencintaimu dengan segala perasaanku. Aku mencintaimu dengan segala kemampuanku. Aku tahu disana sudah kau minta Tuhan untuk memberikan penggantimu untuk menjagaku, entah siapa dia.
Sampaikan salamku pada Tuhan, semoga Ia selalu menjagamu, sayang.
With love for you,
AchyNova
No comments:
Post a Comment