(Bian pov)
Entah kebodohan apa yang sudah aku lakukan pada wanita ini. Pada akhirnya dia memilih melepaskan aku. Perjuangannya yang tak pernah kulihat membuatnya memilih berhenti mencintaiku. Dia membebaskan aku. Padahal dibalik kisah ini, aku tahu dia ingin menjadi pemenang.
Ini terlalu rumit. Karena saat itu aku memang menjalin Kasih meski belum pernah sekalipun bertemu dengannya. Kupikir wanita ini sama seperti wanita lainnya, yang memandangku dari Harta juga tahtaku. Itulah penyebab aku menjalani hubungan dengan wanita ini biasa saja.
Aku tak pernah tahu betapa dia memperjuangkan aku seluar biasa ini. Dan aku, menyakitinya seluar biasa itu.
Hari itu, Sepuluh September Dua ribu enam belas, setelah dua hari pernikahan sahabat wanita yang aku cintai, aku memutuskan untuk mulai memperbaiki hubunganku dengan wanita ini.
Kuakui hubunganku dengannya memburuk. Sesaat setelah banyak kesalah pahaman terjadi. Aku membuatnya kecewa justru pada pertemuan yang pertama. Ya, aku salah, sangat salah. Seharusnya kepulanganku dari Malaysia tahun ini memang bertemu dengannya. Dia menantikan pertemuan itu, dan aku mematahkannya.
Hari dimana aku seharusnya memberi kabar bahwa aku telah sampai di Bandung, aku malah mengabaikannya. Aku tak pernah tahu jika selama delapan belas jam setelah aku mengabarinya akan pulang ke indonesia, dia menunggu kabarku. Keesokan harinya, aku malah lebih senang berangkat lagi menemui wanita sahabatku yang masih kucintai. Padahal jarak yang lebih dekat adalah aku menemui wanita itu.
Astaga, aku benar-benar jahat. Dan aku menyadarinya justru setelah kehilangan dia.
Setelah aku memutuskan akan mulai memprioritaskan dia, dia menghilang. Tak pernah lagi kutemukan dia disegala sudut. Termasuk satu-satunya cara ku berkomunikasi pada aplikasi messenger.
Dia tak pernah lagi menulis status, memposting foto, tak pernah. Aku ingat dia memiliki Tumblr, setidaknya satu hal yang aku tahu, dia ingin menjadi penulis. Barangkali disana aku temukan hal yang bisa memberiku petunjuk penyebab dia menghilang.
Aku buka akunnya, pada tulisan terakhirnya membuatku terperangah. Aku sedih, dan jujur aku menitikkan air mata membacanya.
Kepada seseorang yang selalu kupeluk dengan doa.
Hai, entah kau akan menemukan tulisan ini atau tidak. Jika tulisan ini kau temukan setidaknya aku tahu kau sempat mencariku hingga bisa menemukan tulisan ini.
Saat kutulis ini hatiku berdebum luar biasa. Aku menahan keperihan pada ulu hatiku. Aku akan tahan, aku pasti bisa.
Kamu, saat kau temukan tulisanku ini, aku pasti sudah pergi jauh dari hidupmu. Ya, pada akhirnya aku memilih melepaskanmu. Tak mengapa teriakkan pada semua orang bahwa aku pecundang. Yang pada akhirnya kalah juga. Tapi setidaknya aku telah memperjuangkanmu dengan berdarah-darah.
Apa kamu pernah berpikir bagaimana sulitnya menjalani semuanya? Tapi tak sedikitpun aku ingin berkata selesai. Aku bertahan pada ketidak pastian takdir Tuhan mengenai bagaimana akhir dari kisah ini. Semua masih serba abu, dan aku berdiri diantara warna yang tak pernah terlihat Indah untukku.
Ini bukanlah kali pertama aku menjalankan peran pada kisah terhampar jarak. Biasanya aku menjadi wanita egois yang akan menuntut kabar dari kekasihnya.
Tapi denganmu semua terasa berbeda. Aku bisa, bahkan sangat amat bisa menerima kamu yang sering lupa memberi kabar padaku. Aku menganalisa situasi ini sendiri, ya, kekasihku tengah sibuk menyelamatkan banyak jiwa. Selalu itu yang kutanamkan dalam diri, kekasihku milik pasiennya, baru setelahnya aku.
Kamu yang disana,
Di luar analisa tentang kamu, sepertinya ada hal yang tak bisa kupahami. Entah kenapa aku merasa kamu selalu lebih memprioritaskan sahabatmu daripada aku, bahkan ketika kamu menghilang dalam kurun waktu sepuluh hari, sahabatmu bisa mengetahui keberadaanmu dan itu langsung dari kamu.
Ini ada yang salah. Sepertinya kamu lupa memposisikan siapa kekasih siapa sahabat. Dari sana rasa cemburu yang selama ini tak pernah ada, tetiba menyeruak dengan hebatnya. Kutahan sebisa mungkin, tapi semakin kesini kamu semakin lupa diri.
Kau tahu, dua bulan lalu, sahabatmu mengenalkan aku pada pria temannya. Aku sudah mengatakan padanya, aku takut kamu marah, dan dengan lancar dia katakan padaku, bahwa ini hanya sekedar silaturahmi.
Silaturahmi. Kata itu seakan menyihirku. Aku pun berkenalan dengannya, tapi hanya sebatas pertemanan saja.
Tapi pria ini cukup gencar mendekatiku, dia sering mengirimkan pesan yang menurutku sungguh tak penting. Dan aku pun sering mengabaikannya.
Aku pikir, sahabatmu itu mengatakan hal ini padamu. Ternyata aku merasa dijebak. Entahlah, barangkali sahabatmu tak menyukai aku menjadi kekasihmu.
Dan pada saat hari dimana kita seharusnya bertemu, aku merasa sedang dia permainkan. Apa kau paham bagaimana bisa sahabatmu menyuruh temannya itu datang menemui aku yang sedang berjuang bertemu denganmu? Beruntung saat itu semua terbukti. Pria itu paham bahwa aku memang lebih memilihmu. Awalnya dia menanyakan apakah ditempat aku berada aku sedang bersama sahabatmu? Karena ternyata sahabatmu menyuruhnya menemuiku. Semua jelas karena dia mengirimkan screen capture percakapan dia dan sahabatmu. Aku bergetar hebat. Sejahat itukah dia padaku? Dan kamu yang seharusnya menemuiku malah pulang tanpa lebih dulu mencariku.
Tanpa kamu tahu, lagi-lagi aku harus menangis karena ulah kalian, kamu dan sahabatmu.
Kenapa tuan, tanpa mendengar penjelasanku, kamu malah lebih marah padaku karena telah memarahi sahabatmu? Apakah hanya dia yang kamu pikirkan perasaannya?
Dari perdebatan kita yang menguras emosi itu, dan selalu kamu yang membela dia, aku sadar, kamu ternyata masih mencintai dia. Kamu lebih takut kehilangan dia daripada aku. Aku merutuki kebodohanku. Dan kebodohan yang terus berlanjut karena aku masih mau berjuang hingga kisah kita berhasil di pelaminan.
Haruskah aku melepaskanmu, sayang? Haruskah itu kulakukan Dr. Bian?
Tapi sepertinya kamu memang perlu kulepaskan. Denganku kamu tak menemukan seseorang yang pantas kamu perjuangkan, bukan? Aku bukan prioritas untukmu. Aku paham dari seringnya kamu menghilang. Tak apa, aku baik-baik saja.
Sayang.
Aku pergi, ya, bukan karena tak mencintaimu. Tapi karena aku tahu jika denganku kamu tak bahagia. Dan Karena aku mencintaimu aku memilih melihatmu bahagia meski bukan denganku, Dr. Bian.
Saat menuliskan ini lagu Need You Now sedang berputar, tapi percayalah aku membutuhkanmu bukan hanya sekarang. Dari awal aku selalu menempatkanmu pada posisi penting, dan dari awal pula aku memang merasa membutuhkanmu.
Selamat tinggal Dr. Bian. Aku selalu mencintaimu.
Jasmine.
No comments:
Post a Comment