Friday, January 27, 2017

Dicintai wanita keras kepala

Hai sayang,

Masih bolehkah aku memanggilmu sayang? Setelah berulang kali kamu menyuruhku untuk pergi menjauh dan mencari kebahagiaan dari orang lain.

Aku seperti wanita tak punya harga diri ya? 

Keras kepala. Teguh dengan apa yang menurutku benar. Pun perihal kamu. Berulang kali kamu selalu bilang lupakan, berulang kali juga aku tetap bertahan.

Aku tak peduli seperti apa keadaan kamu. Aku tetap dengan pendirianku; aku mencintai kamu.

Berulang kali kamu menyakiti,  berulang kali aku memaafkan? Adakah Cinta yang setulus ini, sayang?

Aku bahkan tak peduli bagaimana orang berkata bahwa wanita ini bodoh. Ya, aku memang bodoh karena terjerat pada Cinta yang aku tahu untuk kamu. Jadi ocehan mereka aku jawab dengan senyuman saja. Mereka tahu apa sih tentang aku.

Ini juga sebagai pembuktian bahwa mencintai kamu kulakukan bukan karena kamu punya kendaraan mewah, bukan kamu yang seorang dokter, bukan kamu yang seorang anak orang kaya sekalipun. Ini aku,  yang mencintai sosok lelaki yang saat saling mengenal keadaannya sehat, lalu karena sakit memintaku menjauhinya.

Aku hanya tahu aku ingin bahagia dengan kamu. Sampai saat Tuhan berkata "cukup dan selesai".

Sayang, takaran nyawa seseorang tak diukur dari apakah dia sehat atau sakit. Orang sehat pun bisa mendahului orang yang sakit parah sekalipun. Kenapa kamu selalu berpikir takut aku akan sedih.

Iya, aku pasti akan sangat sedih jika kehilangan kamu. Tapi biarkan Kesedihanku itu terjadi saat aku bersama kamu. Berada di sisi kamu. Dan andaikata kamu yang harus pergi lebih dulu, biarkan aku yang ada disisi kamu. Begitupun sebaliknya.

Jika menurutmu kamu hanya akan membuatku sedih kenapa tak berpikir untuk membuatku bahagia? Dengan bersama aku bahagia.

Maafkan sayang, wanita ini masih keras kepala untuk bertahan mencintaimu.

Bandung, 28 Januari 2017

No comments:

Post a Comment