Saturday, September 27, 2014

Aku rindu cinta yang berjarak

Hai sayang, tetiba saja aku ingat kamu. Sudah satu tahun lebih kita berpisah. Pasti banyak yang berubah dari kamu. Aku memang sengaja tak mencari kabarmu. Semua tentang kamu sudah kututup rapat dalam kotak masa lalu. Enggan kubuka kembali, karena aku tahu itu kelemahanku.

Selama ini aku tak bisa melupakan kamu sepenuhnya. Kenangan yang tercipta dalam kisah kita terlalu banyak sehingga sulit buatku menghapuskannya. Sayang, kali ini aku menjalani hubungan tanpa jarak. Kapanpun aku bisa bertemu dengannya. Tapi, sensasinya terasa berbeda, padahal kami masih berada di kota yang sama.

Mungkin aku belum bisa menerima kenyataan bahwa dia bukan kamu. Aku harus bisa menerima bahwa dia tak seperti kamu. Dia tak selalu mengabariku. Dia pun tak menjadikan aku tahu seperti apa kegiatannya. Dia terlalu cuek. Dan aku terkadang merasa dia tak terlalu mencintaiku.

Keadaan ini memaksaku membandingkan dia dengan kamu. Padahal aku tahu kalian sungguh berbeda. Tapi sikap-sikapnya justru menarik aku pada masa-masa saat bersama kamu. Padahal dulu tak mudah bagi kita menjalankan kisah. Melewati jarak ribuan kilo meter yang membentang kita bisa berjalan seirama. Dulu, aku harus menunggu empat belas hari supaya bisa bertatap denganmu. Setiap jam delapan malam dengan setia kita selalu bercerita via telepon, menceritakan kejadian atau hanya sekedar bersenda gurau, hingga tanpa sadar salah satu dari kita sudah tertidur lelap. Terkadang juga, kau menelpon hanya sekedar menyanyikan lagu a thousand years buatku. Dan itu sangat indah, sayang, indah.

Sekarang, aku sedang berusaha menerima dia bukan kamu. Aku pun mulai terbiasa jika dia tak mengabari aku. Dia memang bukan kamu. Tapi setidaknya mimpiku saat bersamamu sudah terselip juga bersamanya - menikah.

Entah kenapa, sayang, kali ini aku rindu cinta yang berjarak. Aku rindu saat kita saling melempar rindu dan cemas. Aku rindu!!

With love for you,


@achynova


Monday, September 8, 2014

Selamat tanggal 10 yang pertama

Hai sayang, hari ini adalah tanggal sepuluh September dua ribu empat belas. Tepat sebulan kita menjalani hubungan ini. Memang tak mudah, karena aku yakin kita masih terus beradaptasi untuk bisa saling memahami isi kepala kita yang terkadang tak sejalan.

Aku tahu, kamu pun masih sering dikagetkan dengan sikapku yang terkadang melontarkan permintaan yang menurut kamu 'gak jelas (baca: geje)' itu. Seperti hari minggu kemarin, aku memaksamu untuk membuka blog ku tepat ditanggal delapan. Kau bersikeras menanyakan alasan kenapa harus ditanggal delapan kaubuka blog-ku. Dan aku hanya menjawab "pokoknya buka aja". Kau mengernyitkan kening, tanda betapa kau merasa heran dengan sikapku itu.

Kau juga terkadang harus memahami (lagi dan lagi), ketika kepalaku mulai beranalisa tentang korelasi antara perempuan mantanmu dan kisah gadis sebungkus roti dan teh kotak di pagi hari, apakah mereka sama atau berbeda. Meski sebenarnya bukan itu maksud aku. Bukan bermaksud membahas masa lalumu, hanya sekedar ingin tahu saja. Semuanya kulakukan tak lebih supaya aku tahu wanita seperti apa mereka itu. Barangkali ada hal baik dari mereka yang bisa kuambil dan kucontoh supaya kamu senang. Meski aku tahu, aku dan mereka berbeda.

Sayang, aku pun sekarang sedang belajar memahamimu. Karena hingga detik ini, sesekali perasaan kau belum sepenuhnya mencintaiku masih ada. Apalagi saat kita tak bertatap, aku merasa kau tak mencintaiku, karena tak adanya kata2 cinta dari percakapan blackberry messengermu. Dan keraguanku pun hilang ketika kita berjalan dan menghabiskan waktu bersama, aku merasa kau memang sayang padaku.

Mungkin kamu benar, kamu bukanlah tipe lelaki yang romantis. Kamu cuek, dan memang itulah kamu. Aku harus bisa memahaminya, meski terkadang aku mendamba kamu bisa romantis padaku. Aku berusaha tak banyak menuntut apapun dari kamu. Aku terus berusaha menjadi gadis yang bisa memahami keadaanmu. Aku tak mau terlalu menuruti ego. Karena aku paham, landasan sebuah hubungan adalah kepercayaan dan saling memahami.

Sayang, barangkali bukan lagi cinta yang aku rasakan untukmu sekarang. Melainkan sebuah rasa sayang dimana aku tak mau kehilangan kamu. Dan aku harap kamu pun memiliki perasaan yang sama untukku.

Maaf untuk aku yang masih menjadi gadis menyebalkan dengan analisa-analisa anehnya. Yang terkadang meminta sesuatu hal dengan ke-lebay-annya. Tetaplah memahami aku, dan tuntun aku menjadi lebih dewasa lagi dalam bersikap.

Selamat tanggal Sepuluh untuk yang pertama kalinya. Keep love me, and I hope our relationShip will long last.

With love for you ;)

@Achynova

Saturday, September 6, 2014

Selamat satu tahun untuk pertemuan ketiga kita

8 September 2014,

Tak terasa sudah satu tahun kita melalui pertemuan ketiga kita di delapan September dua ribu tiga belas. Semuanya masih terekam jelas dikepalaku bagaimana pertemuan tahun lalu berhasil membuatku jatuh cinta pertama kalinya padamu.

Tahun lalu, dengan gagah kau menjemputku di rumah teman yang keluarganya sudah kuanggap keluargaku sendiri. Saat itu hujan turun, dia seperti mempermainkan perasaanku yang sebenarnya tengah ketar-ketir menunggu kedatanganmu. Beberapa kali aku memperhatikan jam yang berputar, menunggu kabar darimu yang saat itu barangkali sedang berteduh di bawah rintik hujan. Sambil membenahi tatanan rambutku, aku terus memperhatikan layar ponsel yang sedang tergeletak manis didepanku. Berharap ada satu pesan masuk darimu.

"Hujan, aku berteduh dulu ya sampai kira-kira bisa meluncur kesana."

"Iya, gak apa-apa, tapi jadi, kan?" Balasku kemudian.

"Jadi, sekarang aku kesana, ya."

"Oke."

Kurang lebih seperti itu percakapan kita melalui pesan singkat. Aku sedikit tenang, karena perasaan waswas itu bisa berkurang setelah mengetahui kau sedang meluncur menjemputku.

Benar saja, tak berapa lama kau menghubungiku dan mengatakan kau sudah berada di depan. Segera saja aku bangkit membenahi beberapa hal yang bisa kubenahi dan segera menemuimu.

Kulihat, di depan sedang duduk seorang pria ber-helm full face di atas motornya, sembari memegang ponsel putih di tangannya. Segera saja kuhampiri pria itu (baca: kamu) dan mengajak untuk masuk sejenak ke rumah temanku.

Tak beberapa lama, kita memutuskan untuk pergi menuju kedai ramen. Sebuah kedai ramen favorit warga Bandung yang diperlukan kesabaran bagi kita untuk akhirnya bisa mendapatkan tempat duduk. Dengan antrian yang sebanyak dan selama itu, kita bersabar, menunggu dengan harap cemas namamu di panggil. Sepanjang menunggu aku dan kamu saling bercerita. Bagaimana dengan antusiasnya kau bercerita padaku, kau sedang mengagumi dokter yang berbeda keyakinan denganmu. Tak banyak yang aku komentari, selain hanya berupa anggukan kecil dan senyum tanda aku mendengarkanmu dengan baik. Aku memang tak terlalu banyak bercerita padamu, karena posisiku saat itu aku baru saja mengalami kehancuran dalam kisah cintaku. Sedangkan aku termasuk perempuan yang tak terlalu suka menceritakan luka pada siapa pun termasuk kamu.

Namamu pun di panggil juga, setelah perjuangan panjang kita yang menunggu hampir satu jam. Kita pun duduk berdampingan dan mulai memilih menu, satu ramen all star dan jus durian sudah kamu pesan, sedangkan aku memilih ramen dengan topping sosis brockwurst dan fresh lemon. Percaya atau tidak, aku masih merekam semuanya dengan jelas hingga saat ini.

Seharusnya semua yang terjadi saat itu tak harus aku ingat. Tapi, entah kenapa aku begitu menyukai semuanya. Bahkan mungkin ketika tanpa sadar di tanggal delapan inilah aku mulai jatuh cinta padamu. Jatuh cinta pada sosok pria manis yang berhasil membuatku mengaguminya diam-diam.

Aku tahu, saat itu kamu belum jatuh cinta padaku. Sosokku belum bisa menjadi pengobat atau bahkan pengganti sosok yang saat itu barangkali kaucintai. Ah, tak apa bagiku sudah bisa menjadi temanmu pun itu sudah cukup.

Kau tahu, saat pertama kali kau menanyakan apakah aku merasa dingin, saat itu tanpa sadar rasa suka padamu baru tumbuh. Meski mungkin tawaran jaketmu tak lebih dari sekedar basa basi dan penghargaan tinggimu pada seorang wanita. Bagiku, tawaran itu sudah menunjukkan kau adalah pria baik.

Sayang, saat menulis ini banyak hal yang aku kenang, termasuk simpul senyum yang manis. Kau tak pernah tahu, aku sangat ingin memeluk tubuhmu. Tapi sebagai perempuan, aku pun tahu bagaimana menjaga kehormatanku yang bukan kekasihmu.

Kini, semua yang sempat kumimpikan setahun lalu sudah terwujud. Aku bisa memelukmu dengan hangat. Menyelipkan jari jemarika pada celah jemarimu. Menggenggam tanganmu dengan rasa cinta. Dan berjalan bersamamu sebagai kekasihmu.

Selamat satu tahun pertemuan kita yang ketiga, sayang. Semoga akan ada tahun-tahun kedepannya yang lebih indah dari tahun ini.

With love for you ;)

@AchyNova