Tuesday, July 4, 2017

Pada 51 hari kepergianmu.

3 Juli 2017.

Entah harus bahagia, entah harus terluka, yang jelas tepat di hari ke lima puluh satu kepergianmu, kamu datang menemuiku.

Segalanya terasa begitu nyata, aku yakin tidak dalam kondisi bermimpi. Kamu datang, menggunakan kemeja berwarna biru muda. Kulitmu putih bercahaya, rambutmu ikal rapi dan kamu tersenyum.

Setahuku jika seseorang yang sudah tidak ada mendatangi yang masih hidup dan dia tidak berbicara sepatah kata pun tandanya dia memang datang. Dan itu yang terjadi padamu. Dan aku percaya kamu memang mengunjungiku. Kuharap itu bukanlah sebuah kunjungan perpisahan. Itu adalah kunjungan selamat datang. setelahnya seringlah mengunjungiku, aku merindukanmu.

Aku tak bisa berkata banyak lagi tentang ini. Aku hanya ingin mengingat setiap moment mengenaimu.

I LOVE YOU PRAM, ALWAYS LOVE YOU.

Thursday, June 22, 2017

40 Hari ditinggalkanmu

Jumat, 23 Juni 2017

Hari ini, 40 hari sudah kamu pergi meninggalkan banyak mimpi yang tidak pernah terealisasi. Aku masih berusaha percaya bahwa ini memang terjadi padaku. Ditinggalkan kekasih yang selama lima belas bulan menjadi sang tambatan hati.

Aku merasa menjadi wanita yang menyedihkan. Bagaimana tidak, kepergianmu tanpa mengucapkan kata pamit padaku. Tapi kamu tak perlu khawatir, sayang, hanya sebagian orang yang tahu kisah ini saja yang mampu melihat betapa terlukanya aku setelah kepergianmu. Sebagian lagi percaya aku baik-baik saja dan masih bisa tertawa. Terkadang aku merasa cocok menjadi seorang ahli peran, setidaknya beberapa bagian sedih yang terjadi dalam kehidupanku mampu kusembunyikan dengan sempurna.

Hari ini, hari dimana 40 hari kamu pergi, aku tak bisa berbicara lagi. Kelu rasanya untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kali. Aku yakin, saat ini kamu mungkin sedang berdiri disampingku, melihat aku dengan gamblangnya menuliskan ini untuk menghantarkan kepergianmu selamanya itu.

Aku merasa menjadi orang paling sengsara, mencoba mengingat setiap kejadian denganmu tahun lalu. Tahun lalu, kau mengabariku tentang kepulanganmu ke Bandung, tapi tahun ini kabar itu tak pernah kudapatkan lagi.

Namun sepertinya aku lupa sayang, ketika aku mencoba menjalin komunikasi dengan Mami, disana ternyata beliau lebih sedih daripada aku disini. Bagaimana tidak, lebaran yang tinggal dua hari lagi, justru semakin membalut luka hati mami. Kamu sudah pergi, lalu Vania sedang bertugas di Yogyakarta. Lebaran kali ini Mami merayakan idul fitri seorang diri. Andai saja aku mampu kesana, sayang, aku akan berkunjung untuk sekedar menemaninya. Menjadi penggantimu meski aku tahu aku bukanlah anaknya.

Aku ingin menguatkan dia, bagaimanapun kami sama-sama terluka setelah kepergianmu. Setidaknya kami bisa saling menguatkan satu sama lain.

Orang bilang, hari ke 40 itu adalah hari terakhir arwah seseorang berada disekitar orang-orang yang disayanginya. Hari ini juga hari terakhir kamu berada disekitarku. Berat rasanya melepaskanmu, meskipun selama 40 hari ini pula aku mencoba untuk tegar.

Entah ini tulisan yang keberapa mengenaimu. Seingatku diawal kita saling jatuh cinta hingga sekarang kamu pergi, selalu ada tulisan mengenaimu yang ingin kubagi.

Sayang, meski berat untuk mengatakan ini; pergilah ketempat dimana Tuhan sedang merentangkan pelukNya untukmu. Aku akan kirimkan doa untukmu disini. Berbahagialah disana. Sampaikan rasa terima kasihku pada Tuhan, sudah memberikan kamu dalam cerita singkatku.

Aku tahu kamu mebaca ini semua, Rasanya masih selalu sama untukmu; AKU MENCINTAIMU.


With love for you, Pramana Putra Evandra

dari kekasihmu,

Astrie

Friday, June 9, 2017

Dua Puluh Tujuh Hari Setelah Kamu Pergi

Hai sayang,

Hari ini, hari ke dua puluh tujuh kamu pergi. Jika dibilang tegar, barangkali, iya. Semua melihatku masih bisa tertawa lepas bahkan tiga hari sejak kepergianmu. Aku hanya tidak ingin dikasihani. Meskipun di awal aku kehilanganmu, aku membutuhkan sosok sahabat yang mendengarkan aku. Tapi mereka yang kusebut sahabat tak pernah ada, tidak untuk menguatkan, apalagi hanya sekedar menjadi pendengarku pun mereka tak ada. Padahal Seingatku, saat mereka memiliki masalah, aku ada untuk mereka. Sementara problem mereka hanyalah putus cinta, bukan selamanya ditinggalkan seperti aku.

Sayang,

Aku sedih ditinggalkanmu, dan beberapa kesempatan Tuhan yang tak diberikan kepadaku di detik-detik kamu pergi. Tapi aku harus berpikir baik bukan? Aku harus berpikir bahwa Tuhan itu baik. 

Karena Tuhan baik pulalah, dia mengambilmu dariku. Tuhan tak mau kau merasakan sakit terlalu lama. Sekarang bukan hanya jiwamu yang telah pergi, seluruh kesakitan yang ada padamu pun telah hilang. Kamu tak perlu lagi kemoterapi yang katanya sangat menyakitkan. Tak ada lagi transfusi darah. Juga tak perlu ada kursi roda untuk menopangmu. 

Kamu selalu bilang padaku, kamu ingin bertemuku di surga. Ya, semoga. Semoga kita dipertemukan di Jannah -Nya. 

Kau sudah kembali ke pelukan Tuhan. Melihatku dari kejauhan. Aku merindukanmu, sayang. Setelah dua puluh tujuh hari kamu pergi, kenyataannya aku tak pernah baik-baik saja. 

Ini adalah untuk kebahagianmu. Tidak apa-apa, aku tak kuasa menahanmu lebih lama. Tuhan terlalu mencintaimu meskipun kupikir aku yang lebih mencintaimu. 

Baik-baik sayang, aku mencintaimu dengan segala perasaanku. Aku mencintaimu dengan segala kemampuanku. Aku tahu disana sudah kau minta Tuhan untuk memberikan penggantimu untuk menjagaku, entah siapa dia. 

Sampaikan salamku pada Tuhan, semoga Ia selalu menjagamu, sayang. 


With love for you, 


AchyNova



Friday, January 27, 2017

Dicintai wanita keras kepala

Hai sayang,

Masih bolehkah aku memanggilmu sayang? Setelah berulang kali kamu menyuruhku untuk pergi menjauh dan mencari kebahagiaan dari orang lain.

Aku seperti wanita tak punya harga diri ya? 

Keras kepala. Teguh dengan apa yang menurutku benar. Pun perihal kamu. Berulang kali kamu selalu bilang lupakan, berulang kali juga aku tetap bertahan.

Aku tak peduli seperti apa keadaan kamu. Aku tetap dengan pendirianku; aku mencintai kamu.

Berulang kali kamu menyakiti,  berulang kali aku memaafkan? Adakah Cinta yang setulus ini, sayang?

Aku bahkan tak peduli bagaimana orang berkata bahwa wanita ini bodoh. Ya, aku memang bodoh karena terjerat pada Cinta yang aku tahu untuk kamu. Jadi ocehan mereka aku jawab dengan senyuman saja. Mereka tahu apa sih tentang aku.

Ini juga sebagai pembuktian bahwa mencintai kamu kulakukan bukan karena kamu punya kendaraan mewah, bukan kamu yang seorang dokter, bukan kamu yang seorang anak orang kaya sekalipun. Ini aku,  yang mencintai sosok lelaki yang saat saling mengenal keadaannya sehat, lalu karena sakit memintaku menjauhinya.

Aku hanya tahu aku ingin bahagia dengan kamu. Sampai saat Tuhan berkata "cukup dan selesai".

Sayang, takaran nyawa seseorang tak diukur dari apakah dia sehat atau sakit. Orang sehat pun bisa mendahului orang yang sakit parah sekalipun. Kenapa kamu selalu berpikir takut aku akan sedih.

Iya, aku pasti akan sangat sedih jika kehilangan kamu. Tapi biarkan Kesedihanku itu terjadi saat aku bersama kamu. Berada di sisi kamu. Dan andaikata kamu yang harus pergi lebih dulu, biarkan aku yang ada disisi kamu. Begitupun sebaliknya.

Jika menurutmu kamu hanya akan membuatku sedih kenapa tak berpikir untuk membuatku bahagia? Dengan bersama aku bahagia.

Maafkan sayang, wanita ini masih keras kepala untuk bertahan mencintaimu.

Bandung, 28 Januari 2017