Tak tega rasanya melihat wanita ini. Dia begitu bahagia meskipun dia tahu predikat yang disandangnya hanyalah sebagai perempuan kedua. Bodohkah dia? Entahlah. Yang jelas dengan senyumnya dapat kulihat jelas betapa dia sedang sangat jatuh cinta pada kamu, sayang.
Seharusnya wanita ini tahu, bagaimana kamu hanya memberikan kebahagiaan yang isinya bisa jadi hanya bualan. Kau memujinya, padahal di waktu yang sama kau pun tengah memuji perempuan pertamamu. Kau mengatakan kau mencintainya, bersamaan dengan perkataanmu itu, kau juga mengatakan hal yang sama kepada perempuan pertamamu.
Padahal mungkin, setiap waktu yang berjalan hatinya selalu dihinggapi ketakutan. Ketar-ketir pasti dirasakannya. Bagaimana bila tiba-tiba kamu pergi meninggalkannya dan memilih perempuan pertamamu. Dapat kubayangkan betapa dia sangat terluka. Semoga saja dia tak akan memilih hal bodoh karena luka hatinya.
Sayang, aku ingin tanya padamu, Apakah kamu serius padanya? ataukah kau hanya ingin melambungkan angannya saja untuk kemudian kau hempaskan. Apa kau berencana akan mencampakkannya, atau memang bermaksud menjadikannya yang pertama? Berhentilah menyiksa hatinya, aku tak tahan melihatnya terluka nantinya.
Setiap hari, kulihat matanya selalu terpaku pada layar ponselnya. Ketika ku tanya, "apa yang kau lakukan?", dia hanya menjawab "menunggu kabar darimu." Pasti dia tengah menunggu sapaan hangat pagi darimu. Walaupun yang sering kulihat wanita ini dulu yang mulai menyapamu.
Beberapa kali, tanpa sengaja kulihat balasan pesan darimu mampir di ponselnya, jawabanmu terkadang sekedarnya bahkan terkesan dingin. Sedangkan kulihat setiap kali dia menyapamu, kata sayang dan cinta selalu ia sematkan padamu. Hal ini membuatku bertanya, bodohkah wanita ini?
Kuperingatkan padamu, sayang, jangan kau melukai hatinya. Kulihat wanita ini rapuh dibalik ketegarannya. Wanita ini lemah dibalik ketangguhannya. Dan wanita ini menangis dibalik senyumnya. Dia mungkin terlihat baik-baik saja, tapi aku yakin di balik itu semua dia tak akan mudah memaafkanmu.
Jika kau memang mencintainya, berhentilah bersikap seolah hanya dia saja yang mencintaimu. Jangan kauhancurkan mimpinya dengan arogansimu. Genggamlah tangannya seperti dia yang terus menggenggam tanganmu. Jika bersama perempuan pertamamu kau lebih sering terluka, untuk apa kau terus mempertahankannya? Ibaratnya jika yang kau genggam melukai tanganmu, apa mungkin kau akan terus menggenggamnya? Barangkali wanita ini pun demikian. Ketika dia sadar dengan menggenggammu hanya luka yang dia dapatkan, bisa saja dia justru pada akhirnya akan melepaskanmu. Dan ketika dia sudah melepaskanmu, kau baru menyadari betapa dia wanita yang sebenarnya kau butuhkan untuk menjadi pelengkapmu.
Maaf jika aku terkesan mengajarimu. Karena jujur kukatakan, sebagai perempuan kedua, aku sudah mulai berfikir untuk melepaskanmu.