Friday, April 11, 2014

Lovely and my memories

Dengan setia, aku terus mendengarkan suara yang dia rekam. Melalui soundcloud puisi yang dia bacakan untukku kini terus kuperdengarkan. Prosa yang lembut terus berputar di ruangan yang tak terlalu besar ini. Aku terduduk mematung menghadap jendela, entah sudah berapa lama. Entah sudah berapa ratus air mata yang jatuh menjejak tanah. Entah sudah berapa kali juga jantungku berdetak hebat secapat waktu yang berdetiknya. Aku dalam ketakutan. Bayangan kematian. Bayangan perpisahan. Bayangan kehilangan.

Tanpa sengaja waktu mempertemukan kami.

Friday, April 4, 2014

Izinkan aku memperjuangkanmu sampai Juli saja.

Hai April. Masih awal untuk segera kusongsong Juli nanti. Masih harus kulewati tiga bulan kedepan dengan perasaan yang masih tak menentu. Perasaan yang semakin mengungkung aku dalam ketidak pastian.

Bey, katakanlah padaku, apa kamu sedang bermain-main dengan hatiku? Kenapa kamu seminggu belakangan ini seolah senang menjungkir balikkan perasaanku? Bila memang kamu enggan menjalani hubungan ini, kenapa kemarin kamu mengajak aku untuk mau berkomitmen? Terpaksakah kamu? Jika iya, aku mohon bertahanlah sampai Juli saja. Sampai waktu yang sudah kita sepakati untuk bertemu. 

Jika di April ini kau tak bisa mencintaiku, setidaknya berpura-puralah sampai Juli kau mencintaiku. Berbuatlah seperti kau sedang sangat menyanjung aku. Tak apa jika kenyataannya tidak. Aku mohon sampai Juli saja kau bisa manis padaku. Jika setelah Juli kau masih tak mencintaiku, kau boleh pergi meninggalkanku. Aku berjanji, aku tak akan menghalangimu untuk pergi menjauh.

Bahkan, bila diperlukan, atau bila kau inginkan aku menganggap hubungan ini tak pernah ada, akan ku lakukan. Aku bersumpah padamu, aku akan menganggap semuanya tak terjadi dan kita hanya teman masa kecil saja. 

Tak perlu takut, aku akan menepati janji padamu. Aku tak menuntut hal aneh padamu. Yang aku inginkan hanyalah kau bisa bekerja sama denganku menjalin komunikasi yang manis. Ketika aku bilang sayang, kau pun bisa menjawabnya dengan kata sayang. Berusahalah untuk bisa memberi umpan supaya obrolan kita tidak hambar. Apa hal itu terlalu berat untukmu? Sekali lagi hanya sampai Juli saja, Bey. Jika Juli kau masih tak bisa jatuh cinta padaku, kau boleh pergi.



AchyNova ™

06042014

Tuesday, April 1, 2014

Perempuan Kedua

Tak tega rasanya melihat wanita ini. Dia begitu bahagia meskipun dia tahu predikat yang disandangnya hanyalah sebagai perempuan kedua. Bodohkah dia? Entahlah. Yang jelas dengan senyumnya dapat kulihat jelas betapa dia sedang sangat jatuh cinta pada kamu, sayang.

Seharusnya wanita ini tahu, bagaimana kamu hanya memberikan kebahagiaan yang isinya bisa jadi hanya bualan. Kau memujinya, padahal di waktu yang sama kau pun tengah memuji perempuan pertamamu. Kau mengatakan kau mencintainya, bersamaan dengan perkataanmu itu, kau juga mengatakan hal yang sama kepada perempuan pertamamu.

Padahal mungkin, setiap waktu yang berjalan hatinya selalu dihinggapi ketakutan. Ketar-ketir pasti dirasakannya. Bagaimana bila tiba-tiba kamu pergi meninggalkannya dan memilih perempuan pertamamu. Dapat kubayangkan betapa dia sangat terluka. Semoga saja dia tak akan memilih hal bodoh karena luka hatinya.

Sayang, aku ingin tanya padamu, Apakah kamu serius padanya? ataukah kau hanya ingin melambungkan angannya saja untuk kemudian kau hempaskan. Apa kau berencana akan mencampakkannya, atau memang bermaksud menjadikannya yang pertama? Berhentilah menyiksa hatinya, aku tak tahan melihatnya terluka nantinya.

Setiap hari, kulihat matanya selalu terpaku pada layar ponselnya. Ketika ku tanya, "apa yang kau lakukan?", dia hanya menjawab "menunggu kabar darimu." Pasti dia tengah menunggu sapaan hangat pagi darimu. Walaupun yang sering kulihat wanita ini dulu yang mulai menyapamu.

Beberapa kali, tanpa sengaja kulihat balasan pesan darimu mampir di ponselnya, jawabanmu terkadang sekedarnya bahkan terkesan dingin. Sedangkan kulihat setiap kali dia menyapamu, kata sayang dan cinta selalu ia sematkan padamu. Hal ini membuatku bertanya, bodohkah wanita ini?

Kuperingatkan padamu, sayang, jangan kau melukai hatinya. Kulihat wanita ini rapuh dibalik ketegarannya. Wanita ini lemah dibalik ketangguhannya. Dan wanita ini menangis dibalik senyumnya. Dia mungkin terlihat baik-baik saja, tapi aku yakin di balik itu semua dia tak akan mudah memaafkanmu. 

Jika kau memang mencintainya, berhentilah bersikap seolah hanya dia saja yang mencintaimu. Jangan kauhancurkan mimpinya dengan arogansimu. Genggamlah tangannya seperti dia yang terus menggenggam tanganmu. Jika bersama perempuan pertamamu kau lebih sering terluka, untuk apa kau terus mempertahankannya? Ibaratnya jika yang kau genggam melukai tanganmu, apa mungkin kau akan terus menggenggamnya? Barangkali wanita ini pun demikian. Ketika dia sadar dengan menggenggammu hanya luka yang dia dapatkan, bisa saja dia justru pada akhirnya akan melepaskanmu. Dan ketika dia sudah melepaskanmu, kau baru menyadari betapa dia wanita yang sebenarnya kau butuhkan untuk menjadi pelengkapmu.

Maaf jika aku terkesan mengajarimu. Karena jujur kukatakan, sebagai perempuan kedua, aku sudah mulai berfikir untuk melepaskanmu.