Tuesday, December 24, 2013

Hai, Superman!

Hai Superman, sudah tiga bulan kita tak bersua. Sejak pertemuan terakhir kita di sebuah Mall yang menyediakan banyak spot menarik untuk berfoto ria. Sampai sekarang aku masih ingat, saat kita berdua berfoto bersama dengan menggunakan self timer yang kauatur sebelumnya, kau begitu tergesa-gesa mendekat dan mulai bergaya sebelum pada itungan akhir ponselmu memotret kita. KITA! sungguh indah rasanya andai aku dan kamu pada akhirnya bisa disebut KITA.

Hal yang paling kuingat adalah saat dimana pengunjung lain berjalan melewati kita, saat itu aku dan kamu sedang bersiap kembali berpose. Kita sudah bergaya, hanya dalam itungan saja, ponselmu mungkin akan mengambil gaya kita. Lucunya, pengunjung itu maju-mundur, bergerak penuh keraguan, apakah dia harus lewat atau menunggu kita berhasil difoto.

"Ayo mbak lewat aja, mbak lewat aja." sambil menggunakan tangan sebagai kode mempersilakan, kau berujar padanya. Saat itu aku hanya menahan senyum, melihat lakumu sungguh mengundang decak kagum dan rasa bahagia. Seperti inikah rasa nyaman, meski kita baru bertemu tiga kali saja.

Seharusnya sosokmu tak asing bagiku. Nyatanya kita terdaftar pada almamater yang sama. Aku mahasiswa Fakultas Ekonomi, dan kau mahasiswa Fakultas Hukum. Tapi sungguh, hampir lima tahun kugeluti predikat kemahasiswaanku, sama sekali sosokmu tak pernah tertangkap oleh retina mataku. Barangkali, jawaban paling masuk akal yang aku temukan adalah karena kau bukanlah makhluk yang digandrungi mahasiswi lain. Maaf, barangkali kata-kataku ini sedikit frontal, sekali lagi ini hanya asumsiku saja, bukan asumsi umum orang-orang.

Kalau kaubaca ini, kau pasti bertanya, atas dasar apa aku bisa memiliki asumsi ini? Akan kujawab; barangkali jika kau pria populer di kampus kita, rasanya tak mungkin aku tak mengetahuimu. Setidaknya aku masih bisa mengetahui sosok-sosok lain yang secara fisik (maaf) jauh di atasmu. Hey, aku tak mengatakan kau tak tampan, tapi aku hanya bilang ada sosok yang lebih tampan selain kamu. Lantas kenapa kita bisa dekat seperti ini, ya? Kita dekat setelah dua tahun kita lulus sebagai mahasiswa, setelah kita wisuda akbar dan memiliki gelar dibelakang nama kita.

Mungkin kalau kau tak pernah menyapaku melalui aplikasi manis sejuta umat itu, sampai detik ini kita masih hanya berteman sebagai teman maya saja. Kita akan menjadi teman, tapi tak pernah bersua dan bersapa. Bahkan kedekatan kita merambah menuju dunia seratus empat puluh karakter, dan berakhir dengan tatapan mata yang nyata.

Dua puluh delapan desember dua ribu dua belas, kau mengirimkan ajakan pertamamu untuk bertatap langsung denganku. Aku menyambutnya, rasanya tak baik juga aku tak mengetahui wajahmu. Sesekali kupikir memang ada baiknya kita berteman dengan kenormalan yang ada; bertemu, bertatap, dan berjabat. Saat itu, kau menungguku datang, sepanjang menunggu kau memusatkan pandangan pada lalu-lalangnya kendaraan yang melintas, dengan ditemani sebotol minuman dingin dan sebungkus snack penghilang sepimu. Sebenarnya dari jauh aku memperhatikanmu, memang tak sulit menemukanmu, karena kamu dan fotomu memiliki kesamaan yang benar-benar sama.

Pertemuan kita yang kedua terjadi di tanggal, dua puluh tiga agustus dua ribu tiga belas. Tiba-tiba kau mengirimkan pesan singkatmu dengan nomor yang aku tak tahu, tentu saja kutanyakan siapa pemilik nomor itu, dan kaujawab, "Ini aku, Superman." Kau mengajakku menemanimu mencari makan, padahal sudah delapan bulan sejak pertemuan awal kita, kau tak pernah mengabariku. Hanya dari sudut keabstrakan dunia maya saja, sesekali aku memperhatikanmu. Kukira pertemuan awal kita memang tak berkesan banyak untukmu, sehingga kau memilih menjauh dan tak menghubungiku lagi. Ah, untuk urusan itu aku tak terlalu ambil pusing, berkesan ataupun tidak sama sekali aku tak peduli.

Pada pertemuan kedua ini pun aku bereaksi sama, andai tiba-tiba kamu hanya sekedar mencari teman untuk menemani makan dan setelahnya kamu menghilang lagi, aku sudah siap. Pikirku saat itupun setelah makan, kauakan mengantarku pulang dan menghilang lagi. Ternyata aku salah, kamu mengajakku bermain menuju salah satu Mall yang menyediakan sebuah tempat untuk bermain Ice Skating. Dari sanalah aku mulai menemukan titik nyaman bersamamu. Kau adalah orang yang menyenangkan ketika kita saling berbicara, dan mungkin saat itu tanpa sadar aku jatuh cinta padamu untuk yang pertama kalinya.

Superman, kali ini aku sedih. Kita semakin jauh kini, bahkan mungkin terakhir pertengkaran kita adalah tentang bola. Ya, urusan bola kita tak memiliki kesamaan, kau penyuka Real Madrid, sedangkan aku Barcelona. Bodoh, ya, hanya gara-gara bola kau dan aku bertengkar. Dan kenapa juga aku harus ikut terpancing amarah terhadap kicauanmu tentang kekalahan Real Madrid oleh Barcelona. Padahal aku biarkan saja kamu marah.

Ah sudahlah superman, aku tak berharap lagi akan ada pertemuan berikutnya. Nyatanya kita sudah semakin sangat jauh. Dan aku adalah satu-satunya wanita yang tak tahu bagaimana memperbaiki semuanya.


With Love for You :')



@AchyNova

Bandung, 25 Desember 2013




Monday, December 9, 2013

Hujan Seperti ini, tiga tahun yang lalu (Malaikat hujan 2) - part 2

"Lumongga Diandra...?" Sapa sebuah suara dibelakangku. Aku yang sedari tadi masih duduk dan menjatuhkan pandangan pada hujan seakan dikagetkan oleh suara tadi. Namun, suara itu, suara yang baru saja memanggil namaku, serasa tak asing ditelinga ini. Aku serasa mendapati suara Edgar yang tengah memanggil namaku. Ah, tapi tak mungkin, aku pasti hanya sedang terjebak dalam nostalgia bersamanya.

Segera saja aku bangun dari tempat duduk, bermaksud menyambut suara yang sudah menyapaku saat lamunan tadi. Aku yakin, yang menyapaku adalah Dokter Byan, "Selamat pagi, dokter Byan." Deg!! Suaraku hilang begitu saja, dia yang ada dihadapanku adalah dia yang dengan setia menghuni alam bawah sadarku. Ini bukan lagi mimpi, melainkan benar adanya. Pria yang selalu disebut dengan Dokter Byan adalah pria yang kusebut sebagai Edgar. Kenapa begitu bodohnya aku, Edgar memang memiliki nama Edgar Fabian, dan dia mengganti nama panggilannya menjadi Byan. Tapi bisa jadi hanya aku yang memanggilnya dengan Edgar, sementara temannya mungkin memang memanggilnya Byan. Yayaya!! Itu mungkin saja, aku memanggilnya demikian, karena dia memang memperkenalkan dirinya sebagai Edgar.

Tatapanku kosong menatapnya, untuk beberapa saat otakku disibukkan dengan asumsi mengenai dia dan panggilannya. Aku tak banyak bicara, bahkan aku masih terdiam di tempat yang sama. Aku sibuk menerawang, dan mencari jawaban yang pertanyaannya pun aku tak tahu apa.

"Dee", Edgar berusaha menyadarkan aku dengan jentikan jemarinya. Barulah aku sadar dengan keadaan yang serba mengejutkan ini. Reaksiku masih tetap sama, diam bungkam dengan dibalut rasa bahagia yang luar biasa.

Aku terperanjat sesaat, menyadari bahwa ini bukanlah mimpi. Simpul senyum terlukis nyata dalam lukisan wajahku. Batinku lirih bersyukur, terima kasih Tuhan atas anugrah-Mu hari ini.

*****

(Edgar Fabian)

Sudah lima belas menit aku berdiri menghadap jendela kantorku. Kaca jendela yang terlihat mulai basah dan berembun menjadi pemandangan yang begitu kunikmati. Diluar, hujan begitu deras turun membasahi bumi. Rintiknya jatuh dengan bebasnya. Setiap hujan turun, aku selalu merindukan Diandra. Makhluk manis yang kutemukan di sisi lain halte sebrang kampusku. Gadis menarik yang berlari kecil untuk menghindari basah di tempatku berteduh saat itu. Ah, seperti apa dia sekarang. Sudah tiga tahun aku tak menemukannya. Padahal dulu, kala hujan turun, aku selalu berhasil menemukannya. Gerimis manis itu selalu menuntunku untuk menuju tempat keberadaanya. Itu dulu,  saat egoku belum menghancurkan semuanya. Saat aku masih disebutnya sebagai kekasih.

Kriiiiiingggg.

Suara telepon yang nyaring bernyanyi di atas mejaku. Deringnya membangunkanku dari lamunan mengenai Diandra. Langsung saja aku bergerak untuk mengangkatnya, "Ya, kenapa?"

"Baik. Suruh tunggu saja, biar saya yang menemuinya di lobi".

Klik, telepon pun aku tutup. Resepsionis memberitahuku jika Lumongga sudah ada di bawah. Kali ini aku bertugas menemani Lumongga untuk training. Tak banyak yang kuketahui tentangnya, selain hanya dia pengganti Mba Dwita untuk training kali ini.

Tiga hari lalu, Mba Dwita mengabariku, menurutnya wakil dari rumah sakitnya bernama Lumongga Diandra. Siapa dia? Sesungguhnya tak menarik buatku. Yang menarik hanyalah nama akhir dari Diandra itu yang membuatku masuk kembali dengan nostalgia kenangan bersama Diandra.

Hmmm, sudahlah, semoga Diandra masih baik-baik saja dengan siapapun dia saat ini. Namun,  andai Tuhan mengizinkan aku bisa melihat Diandra kembali dengan statusnya yang masih sendiri,  maka aku akan sangat berterima kasih.

Segera saja aku bergegas menemui Lumongga yang sudah menunggu di Lobby,  tak enak juga jika dia harus menunggu terlalu lama, lagipula, pelatihan sebentar lagi akan dimulai.

Aku segera saja pergi menuju tempat dimana Lumongga menunggu. Dari kejauhan, aku melihat sosok perempuan yang sedang terduduk memandangi hujan. Sepintas, perempuan itu memiliki pesona seperti Diandra, bagaimana cara dia duduk sambil menikmati hujan yang turun begitu anggun dan elegan, persis seperti Diandra kala menikmati rintik hujan di Halte waktu itu.

Segera saja aku menghampiri resepsionis dan menanyakan tamu yang sudah menunggu.

"Des, Lumongga Diandra yang mana, ya?"

"Yang menggunakan kemeja pink, dokter".

"Ok, makasih."

Ternyata Lumongga adalah gadis yang sedang menikmati hujan itu, segera saja kuhampiri dia, dan mencoba menyapanya.

"Lumongga Diandra?" Sapaku, ada jeda beberapa saat sebelum dia berdiri dan menoleh kearahku. Dalam hitungan detik saja, "Dokter Byan.....?", nada antusiasnya terdengar menurun ketika mata kami saling bertemu, mungkin kami sama, sama-sama tak menyangka akan dipertemukan kembali.

Astaga, ternyata dia adalah, Diandra. Aku terperanjat, aku terkesiap, benarkah dia adalah Dee. 
"Dee?? Ini kamu?". Dee masih terlihat terkejut juga setelah melihat kemunculanku, belum ada suara yang keluar dari bibir mungilnya. Dia masih terlihat sama, hanya saja kali ini dia sudah lebih bisa berdandan. Rambutnya panjang, masih dengan mata bulatnya yang indah.

"Dee." Aku coba menyadarkannya dengan lambaian tangan di depan wajahnya, tapi gadis ini masih terdiam dengan tatapan kosong. Pikirannya seolah sedang mencerna hal yang tak ia pahami. Melihatnya seperti itu kucoba menyadarkan dia kembali, "Dee.", kali ini sembari menjentikkan jemari, berhasil, dia akhirnya mulai terperanjat sadar dan tersenyum. Ternyata jentikkan jemariku berhasil membawa pikirannya kembali kedunia nyata.

Senyum itu, senyuman yang sama tiga tahun lalu. Luar biasa, getar itu kembali menghampiriku, bahkan lebih kuat. Tuhan, terima kasih untuk anugrah Mu yang luar biasa hari ini, batinku.

(CONTINUED...)

sebelumnya: Part 1

Monday, December 2, 2013

Terjebak Nostalgia

Selamat sore Tuan yang entah mengapa terasa semakin jauh. Aku datang baik-baik untuk bertanya hal-hal manis yang pernah kita jalani beberapa waktu ini. Sejak pertemuan kedua kita, dua puluh tiga agustus dua ribu tiga belas. Kamu mengetuk ruang hatiku, menjadi sosok baru yang nampaknya menarik jika kunikmati dari berbagai sisi. Aku hanya ingin memberitahumu, kamu sudah jadi seseorang yang kurindukan keberadaannya, kutunggu pesan singkatnya, dan kurindukan candaannya saat kita saling bertatap. Kamu sudah jadi kawan dalam malamku, penabur rindu senjaku, juga pemompa semangat untuk siangku.

Seharusnya kita sudah saling tahu sejak dua tahun lalu. Saat pada akhirnya kita lulus dan meninggalkan status kemahasiswaan kita. Lucu, kita yang sebenarnya berada pada satu gedung yang sama saat wisuda, nyatanya tak pernah saling menyadari sosok-sosok yang ada. Aku tak mengenalmu, kamu tak mengenalku, kita tak pernah saling tahu. Dan lebih lucu lagi, aku justru merasa tak pernah sekalipun melihat sosokmu diantara lalu-lalangnya mahasiswa Teknik Informatika yang sedikitnya kuketahui siapa mereka. Wajahmu begitu asing dimataku, benar-benar asing.

Bahkan, ketika kaumulai berkelana menjelajahi profil aplikasi sejuta umat itu dan mulai mengajakku berkenalan, aku masih tak mengenalimu. Dengan kepolosanku, aku senang  mendengar segala ceritamu. Entah kenapa, meski aku tak mengetahuimu lebih banyak,  tapi, cerita-ceritamu selalu menjadi hal yang kunantikan setiap harinya.