Seharusnya sosokmu tak asing bagiku. Nyatanya kita terdaftar pada almamater yang sama. Aku mahasiswa Fakultas Ekonomi, dan kau mahasiswa Fakultas Hukum. Tapi sungguh, hampir lima tahun kugeluti predikat kemahasiswaanku, sama sekali sosokmu tak pernah tertangkap oleh retina mataku. Barangkali, jawaban paling masuk akal yang aku temukan adalah karena kau bukanlah makhluk yang digandrungi mahasiswi lain. Maaf, barangkali kata-kataku ini sedikit frontal, sekali lagi ini hanya asumsiku saja, bukan asumsi umum orang-orang.
Kalau kaubaca ini, kau pasti bertanya, atas dasar apa aku bisa memiliki asumsi ini? Akan kujawab; barangkali jika kau pria populer di kampus kita, rasanya tak mungkin aku tak mengetahuimu. Setidaknya aku masih bisa mengetahui sosok-sosok lain yang secara fisik (maaf) jauh di atasmu. Hey, aku tak mengatakan kau tak tampan, tapi aku hanya bilang ada sosok yang lebih tampan selain kamu. Lantas kenapa kita bisa dekat seperti ini, ya? Kita dekat setelah dua tahun kita lulus sebagai mahasiswa, setelah kita wisuda akbar dan memiliki gelar dibelakang nama kita.
Mungkin kalau kau tak pernah menyapaku melalui aplikasi manis sejuta umat itu, sampai detik ini kita masih hanya berteman sebagai teman maya saja. Kita akan menjadi teman, tapi tak pernah bersua dan bersapa. Bahkan kedekatan kita merambah menuju dunia seratus empat puluh karakter, dan berakhir dengan tatapan mata yang nyata.
Dua puluh delapan desember dua ribu dua belas, kau mengirimkan ajakan pertamamu untuk bertatap langsung denganku. Aku menyambutnya, rasanya tak baik juga aku tak mengetahui wajahmu. Sesekali kupikir memang ada baiknya kita berteman dengan kenormalan yang ada; bertemu, bertatap, dan berjabat. Saat itu, kau menungguku datang, sepanjang menunggu kau memusatkan pandangan pada lalu-lalangnya kendaraan yang melintas, dengan ditemani sebotol minuman dingin dan sebungkus snack penghilang sepimu. Sebenarnya dari jauh aku memperhatikanmu, memang tak sulit menemukanmu, karena kamu dan fotomu memiliki kesamaan yang benar-benar sama.
Pertemuan kita yang kedua terjadi di tanggal, dua puluh tiga agustus dua ribu tiga belas. Tiba-tiba kau mengirimkan pesan singkatmu dengan nomor yang aku tak tahu, tentu saja kutanyakan siapa pemilik nomor itu, dan kaujawab, "Ini aku, Superman." Kau mengajakku menemanimu mencari makan, padahal sudah delapan bulan sejak pertemuan awal kita, kau tak pernah mengabariku. Hanya dari sudut keabstrakan dunia maya saja, sesekali aku memperhatikanmu. Kukira pertemuan awal kita memang tak berkesan banyak untukmu, sehingga kau memilih menjauh dan tak menghubungiku lagi. Ah, untuk urusan itu aku tak terlalu ambil pusing, berkesan ataupun tidak sama sekali aku tak peduli.
Pada pertemuan kedua ini pun aku bereaksi sama, andai tiba-tiba kamu hanya sekedar mencari teman untuk menemani makan dan setelahnya kamu menghilang lagi, aku sudah siap. Pikirku saat itupun setelah makan, kauakan mengantarku pulang dan menghilang lagi. Ternyata aku salah, kamu mengajakku bermain menuju salah satu Mall yang menyediakan sebuah tempat untuk bermain Ice Skating. Dari sanalah aku mulai menemukan titik nyaman bersamamu. Kau adalah orang yang menyenangkan ketika kita saling berbicara, dan mungkin saat itu tanpa sadar aku jatuh cinta padamu untuk yang pertama kalinya.
Superman, kali ini aku sedih. Kita semakin jauh kini, bahkan mungkin terakhir pertengkaran kita adalah tentang bola. Ya, urusan bola kita tak memiliki kesamaan, kau penyuka Real Madrid, sedangkan aku Barcelona. Bodoh, ya, hanya gara-gara bola kau dan aku bertengkar. Dan kenapa juga aku harus ikut terpancing amarah terhadap kicauanmu tentang kekalahan Real Madrid oleh Barcelona. Padahal aku biarkan saja kamu marah.
Ah sudahlah superman, aku tak berharap lagi akan ada pertemuan berikutnya. Nyatanya kita sudah semakin sangat jauh. Dan aku adalah satu-satunya wanita yang tak tahu bagaimana memperbaiki semuanya.
With Love for You :')
@AchyNova
Bandung, 25 Desember 2013