Jumat, 23 Juni 2017
Hari ini, 40 hari sudah kamu pergi meninggalkan banyak mimpi yang tidak pernah terealisasi. Aku masih berusaha percaya bahwa ini memang terjadi padaku. Ditinggalkan kekasih yang selama lima belas bulan menjadi sang tambatan hati.
Aku merasa menjadi wanita yang menyedihkan. Bagaimana tidak, kepergianmu tanpa mengucapkan kata pamit padaku. Tapi kamu tak perlu khawatir, sayang, hanya sebagian orang yang tahu kisah ini saja yang mampu melihat betapa terlukanya aku setelah kepergianmu. Sebagian lagi percaya aku baik-baik saja dan masih bisa tertawa. Terkadang aku merasa cocok menjadi seorang ahli peran, setidaknya beberapa bagian sedih yang terjadi dalam kehidupanku mampu kusembunyikan dengan sempurna.
Hari ini, hari dimana 40 hari kamu pergi, aku tak bisa berbicara lagi. Kelu rasanya untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kali. Aku yakin, saat ini kamu mungkin sedang berdiri disampingku, melihat aku dengan gamblangnya menuliskan ini untuk menghantarkan kepergianmu selamanya itu.
Aku merasa menjadi orang paling sengsara, mencoba mengingat setiap kejadian denganmu tahun lalu. Tahun lalu, kau mengabariku tentang kepulanganmu ke Bandung, tapi tahun ini kabar itu tak pernah kudapatkan lagi.
Namun sepertinya aku lupa sayang, ketika aku mencoba menjalin komunikasi dengan Mami, disana ternyata beliau lebih sedih daripada aku disini. Bagaimana tidak, lebaran yang tinggal dua hari lagi, justru semakin membalut luka hati mami. Kamu sudah pergi, lalu Vania sedang bertugas di Yogyakarta. Lebaran kali ini Mami merayakan idul fitri seorang diri. Andai saja aku mampu kesana, sayang, aku akan berkunjung untuk sekedar menemaninya. Menjadi penggantimu meski aku tahu aku bukanlah anaknya.
Aku ingin menguatkan dia, bagaimanapun kami sama-sama terluka setelah kepergianmu. Setidaknya kami bisa saling menguatkan satu sama lain.
Orang bilang, hari ke 40 itu adalah hari terakhir arwah seseorang berada disekitar orang-orang yang disayanginya. Hari ini juga hari terakhir kamu berada disekitarku. Berat rasanya melepaskanmu, meskipun selama 40 hari ini pula aku mencoba untuk tegar.
Entah ini tulisan yang keberapa mengenaimu. Seingatku diawal kita saling jatuh cinta hingga sekarang kamu pergi, selalu ada tulisan mengenaimu yang ingin kubagi.
Sayang, meski berat untuk mengatakan ini; pergilah ketempat dimana Tuhan sedang merentangkan pelukNya untukmu. Aku akan kirimkan doa untukmu disini. Berbahagialah disana. Sampaikan rasa terima kasihku pada Tuhan, sudah memberikan kamu dalam cerita singkatku.
Aku tahu kamu mebaca ini semua, Rasanya masih selalu sama untukmu; AKU MENCINTAIMU.
With love for you, Pramana Putra Evandra
dari kekasihmu,
Astrie
TULISAN ini bisa jadi AKU ataupun KAMU. Tapi bisa jadi TULISAN ini Bukan AKU ataupun KAMU!!!
Thursday, June 22, 2017
Friday, June 9, 2017
Dua Puluh Tujuh Hari Setelah Kamu Pergi
Hai sayang,
Hari ini, hari ke dua puluh tujuh kamu pergi. Jika dibilang tegar, barangkali, iya. Semua melihatku masih bisa tertawa lepas bahkan tiga hari sejak kepergianmu. Aku hanya tidak ingin dikasihani. Meskipun di awal aku kehilanganmu, aku membutuhkan sosok sahabat yang mendengarkan aku. Tapi mereka yang kusebut sahabat tak pernah ada, tidak untuk menguatkan, apalagi hanya sekedar menjadi pendengarku pun mereka tak ada. Padahal Seingatku, saat mereka memiliki masalah, aku ada untuk mereka. Sementara problem mereka hanyalah putus cinta, bukan selamanya ditinggalkan seperti aku.
Sayang,
Aku sedih ditinggalkanmu, dan beberapa kesempatan Tuhan yang tak diberikan kepadaku di detik-detik kamu pergi. Tapi aku harus berpikir baik bukan? Aku harus berpikir bahwa Tuhan itu baik.
Karena Tuhan baik pulalah, dia mengambilmu dariku. Tuhan tak mau kau merasakan sakit terlalu lama. Sekarang bukan hanya jiwamu yang telah pergi, seluruh kesakitan yang ada padamu pun telah hilang. Kamu tak perlu lagi kemoterapi yang katanya sangat menyakitkan. Tak ada lagi transfusi darah. Juga tak perlu ada kursi roda untuk menopangmu.
Kamu selalu bilang padaku, kamu ingin bertemuku di surga. Ya, semoga. Semoga kita dipertemukan di Jannah -Nya.
Kau sudah kembali ke pelukan Tuhan. Melihatku dari kejauhan. Aku merindukanmu, sayang. Setelah dua puluh tujuh hari kamu pergi, kenyataannya aku tak pernah baik-baik saja.
Ini adalah untuk kebahagianmu. Tidak apa-apa, aku tak kuasa menahanmu lebih lama. Tuhan terlalu mencintaimu meskipun kupikir aku yang lebih mencintaimu.
Baik-baik sayang, aku mencintaimu dengan segala perasaanku. Aku mencintaimu dengan segala kemampuanku. Aku tahu disana sudah kau minta Tuhan untuk memberikan penggantimu untuk menjagaku, entah siapa dia.
Sampaikan salamku pada Tuhan, semoga Ia selalu menjagamu, sayang.
With love for you,
AchyNova
Subscribe to:
Comments (Atom)