Kelak, apabila Aku memiliki anak semoga aku bisa menjadi ibu yang sangat baik buat mereka. Kuharap aku tak kan pernah membuat anakku sakit hati. Semua harus memiliki porsi yang sama. Tak ada istilah "anak emas".
Orang tua sering tak menyadari sudah melukai perasaan anak sedemikian rupa. Entah karena sikap, ucapan, atau tentang kebohongan-kebohongan yang dibentangkan. Mereka lupa ada kebenaran yang terungkap yang justru membuat luka semakin lebar.
Ada cara yang salah yang entah memang tak disengaja atau memang sengaja.
Saya merasakan perubahan sikap. Perubahan emosi yang menarik diri saya menjadi orang yang tidak mempercayai apapun yang orang tua saya katakan. Karena apa? Karena mereka terlalu banyak membuat kebohongan kepada saya. Sehingga meskipun mereka berkata jujur saya merasa mereka masih berbuat bohong kepada saya.
Lalu, mungkin maksudnya tidak demikian tapi yang saya rasakan adalah apa yang dilakukan atau ada hal apa selalu terkait pada si "anak emas". Contoh kasus mau pinjem maskara ke si anak emas. Pinjem kerudung ke anak emas. Pinjem tas ke anak emas. Giliran pinjem ke bukan anak emas si anak biasa membalikkan perkataan dengan pinjem aja ke dia, malah tersinggung. Barangkali orang tua lupa bahwa si anak yang bukan anak emas ini juga menahan gejolak emosi yang untuk meluapkan pun tak mampu.
Dan ini yang lucu ketika si anak biasa ini menangis di keramaian. Si orang tua dengan enteng bilang "selalu begitu selalu jadi biang kerok".
Dan ketika pemberian si anak biasa tak diterima dengan baik. Darisana saya memahami bahwa hanya pemberian si anak emas yang akan diterima dengan berbesar hati.
Astaghfirullah.
Yah namanya orang nangis kadang air mata gak bisa ditahan. Emosi sudah terlanjur mengacak-ngacak perasaanya. Dan yang terjadi adalah si anak biasa tak lagi memiliki empati bahkan kepada orang tuanya.
Ya alloh semoga aku tidak jadi orang tua yang begitu.