Friday, May 23, 2014

Dari; CALON ISTRIMU YANG TAK BERHIJAB

Kepada Para Adam yang menginginkan mendapatkan calon istri yang berhijab, dengarkanlah ini:

Kau tak salah wahai pria apabila kau menginginkan paket instan perempuan untuk kau jadikan istrimu, gadis cantik yang menganggunkan dirinya dengan pesona hijabnya yang ayu. Dengan demikian kau tak perlu bersusah payah untuk menjadikan calon istrimu berhijab atas kemauanmu.

Kau tak pedulikan perasaan gadis yang tak berhijab yang mungkin dalam hatinya ingin kau muliakan hidupnya dengan kau jadikan istri. Dengan tegas kau seakan memicingkan mata dan memandangnya dengan sebelah mata. Barangkali di pikiranmu, gadis tak berhijab ini adalah gadis yang sudah terbiasa merayu banyak pria dengan kecantikan ragawi yang tak sepenuhnya di tutupi.

Pernahkah kalian mengetahui alasan pasti dibalik wanita tak berhijab itu apa wahai para Adam? Alasan yang mungkin tak kalian pahami karena gelar tak baik yang sudah dulu kalian sandingkan dengannya. Kalian ingin tau, akan kujelaskan. Bisa jadi gadis yang kau pandang sebelah mata ini adalah seorang tulang punggung keluarga yang bekerja di satu perusahaan yang tak membolehkan dirinya berhijab. Dia yang tak mampu melawan aturan yang sudah diterapkan tempat dimana dengan gigihnya ia teteskan peluhnya demi kelanjutan hidup di masa depannya.

Gadis ini sebenarnya tau, dan memiliki keinginan kuat untuk bisa menutup mahkota indahnya agar tak sembarang dilihat pria. Tapi disatu sisi, gadis ini enggan menggunakan hijab hanya pada saat dia berangkat dan pulang kerja saja.

Hey Para Adam, apakah menurut kalian gadis tak berhijab itu buruk? Apakah sebegitu hina seorang gadis tak berhijab di mata kalian? Padahal barangkali gadis ini mempertahankan kesuciannya dengan sekuat tenaga. Sementara banyak juga mereka yang berhijab dengan mudahnya melunturkan harga diri dan kehormatannya kepada kekasihnya.

Tolonglah para Adam, wanita tak berhijab ini ingin bisa kau merdekakan hidupnya. Agar dia bisa dengan leluasa menggunakan hijab tanpa ada aturan dari siapapun. Jangan kau anggap wanita tak berhijab hanya menjadi PR terbesar dan terberatmu dalam membina Rumah tanggamu kelak. Justru dengan kau memerdekakan hidupnya, bertambahlah pahala bagimu karena membantu gadis tak berhijab itu pada akhirnya berhijab setelah menikah denganmu.

Seperti itulah isi hati dari gadis tak berhijab. Seorang calon istri yang berharap engkau bisa memuliakan hidupnya dengan kegigihanmu memerdekakan keinginannya untuk berhijab.

Semoga kalian bisa memahaminya, waha para Adam.

Salam hormat,

Calon istrimu yang tak berhijab.

Tuesday, May 6, 2014

Menuliskan Luka

Luka hati wanita ini tak pernah sesakit yang kulihat. Masih dengan mata berkaca-kaca, dan ujung hidung yang memerah dia menceritakan segala lukanya padaku. Dan sebagai perempuan, dapat kupahami betul semuanya. Rasa sakitnya pasti tak akan mudah dilupakan begitu saja.

Sebejad itukah pria ini, padahal wanita ini dengan sekuat tenaganya bertahan dan memperjuangkan sesuatu yang seharusnya dia lepaskan sejak lama. Berulang kali kumarahi dia karena enggan menyerah dan terus bertahan dengan luka. Dan lagi-lagi dia berkata,"Aku akan berjuang semampuku." Ah aku benci jika dia sudah berkata demikian, karena kata-kata itu mampu membuatku akhirnya terbungkam.

Wanita ini terlihat perkasa dibalik kelemahannya. Didepan pria ini, dia bisa berubah menjadi apapun yang diinginkan pria ini. Aku memahami, karena memang pria ini adalah pria yang sudah sekian lama didambanya. Tiga tahun dia terus bersabar dan menunggu hati pria ini akan luluh. Beberapa kali dia mengalami penolakan dan pengabaian, tapi dia tetap berjuang. Kumarahi dia dengan tindakan gila dan bodohnya. Dan lagi-lagi aku meradang dengan mulut terbungkam ketika dia berkata, "kau tak memahami aku, karena kau tak pernah tahu apa itu cinta. Aku mencintainya, dan kau tak berhak melarangku."

Ah, andai wanita bodoh ini tahu, aku pun tahu rasanya jatuh cinta, barangkali dia tak akan seenak jidatnya berkata seperti itu. Sesekali aku ingin meninggalkan dia dalam kubangan luka yang dia gali sendiri. Bukankah dia tak butuh aku, karena aku tak berhak melarang dia mencintai pria gila itu. Tapi aku sungguh tak tega. Meskipun watakku yang keras aku masih punya banyak hati untuk tak begitu saja meninggalkan temanku yang bodoh ini terluka sendirian.

"Aku sedih. Sedih sekali. Dimana perasaan dia ketika untuk kesekian kalinya membuatku terluka lagi?" Dengan uraian air matanya dia terus menangis. Mulutnya tak henti menceracau keadaan dan sikap si pria yang jelas tak mempedulikannya. Kali ini aku tak banyak bicara. Rasanya pukpuk kecil jauh lebih dia butuhkan saat ini daripada sejuta nasihat yang akan meluncur dari mulutku. Ah, andai saja aku mampu, sejatinya aku ingin bilang pada gadis ini, betapa air matanya terlalu mahal untuk pria itu. Betapa seharusnya dia segera bangkit dan meninggalkan pria bodoh itu.

"Sudahlah jangan nangis lagi", hanya kata itu yang kuucapkan padanya, dengan pelukan hangat dan pukpuk kecil yang semoga saja memberikan dia ketenangan.

"Dia pergi begitu saja, meninggalkan aku sendirian. Hanya karena ada Liana, perempuan freak yang dia cintai. Aku benci, Bi, benci. Tapi aku mencintai dia. Aku tahu dia menjadikanku kekasihnya hanya karena kasihan. Dan itu sudah lebih dari cukup buatku. Apa yang aku lakukan ini benar, kan, Bi?" Tangisannya semakin pecah dengan jutaan kata yang dia teriakkan.

Aku masih tetap diam. Tak berani sedikitpun kukatakan padanya, bahwa sudah seharusnya perempuan ini menyerah dari awal.

"Cal, dengarkan aku setidaknya untuk kali ini saja. Perkara kehilangan tidak mungkin tak menyakitkan. Tapi yakinlah, kehilangan itu adalah bagian dari cara Tuhan menunjukkan bahwa dia belum bisa jadi orang yang tepat buat kamu." Entah ada angin apa kata-kata itu meluncur dengan anggunnya dari bibirku. Padahal sebelumnya aku sendiri memutuskan untuk tak mengeluarkan kata apapun.

Sebelum kulanjutkan lagi perkataanku, aku menghela nafas sejenak, memperhatikan apakah kali ini dia bisa mendengarku atau bahkan akan menolak mendengarkan perkataanku. Kulihat Calista mulai tertarik mendengarkanku. Barangkali ini kesempatanku menelaah masalahnya dengan menerapkan pengalamanku dalam menilai luka.

"Cal, dalam hal ini bukan hanya kamu yang pernah terluka. Aku pun pernah. Bahkan mungkin lebih extrim dari apa yang kamu rasakan. Kamu dengan sangat tegar menunggu Ilham berbalik arah dan melihatmu. Dan aku juga pernah dengan sangat kuat mencari cinta pertamaku. Kamu berjuang selama tiga tahun, sedangkan aku hampir enam tahun. Tak sedikitpun aku merasa lelah menemukan dia. Meski beberapa kali harus menelan kenyataan pahit bahwa aku tak tau dimana dia. Terakhir kudengar kabar dia masuk militer. Tapi kabar itu seakan menguap tanpa pembuktian apapun. Detik-detik dimana aku hampir menyerah, Tuhan menurunkan kebaikannya. Tuhan membiarkan aku menemukan dia melalui akun facebooknya. Tak ada yang berubah darinya. Semua masih terlihat sama. Lantas apakah menurutmu masalah pencarianku selesai, Cal?" Aku coba bertanya kepada Calista masalah itu, menunggu simbol jawaban yang akan dia kemukakan padaku.

"Sepertinya selesai, Bi." Jawabnya singkat disertai dengan anggukkan kepalanya.

Aku menyunggingkan senyuman. Seraya menepis jawabannya, "tidak sedemikian mudah, Cal. Iya. Masalah pencarianku memang telah selesai. Tapi keinginan menemukannya saat itu berubah menjadi keinginan untuk memilikinya. Sekuat tenaga aku berusaha membuatnya agar mau menolehku. Sama sepertimu, aku pun rela terluka berdarah-darah hanya demi dia. Untuk beberapa bulan aku merasa bisa mendapatkannya. Melihat antusias dia terhadapku yang tinggi, aku semakin tinggi hati. Itulah bodohnya aku, aku terlalu tinggi harap sehingga lupa mempersiapkan hati dengan kegagalan. Dan kamu tahu, Cal, aku justru terbunuh oleh harapanku sendiri."

"Lantas apa yang kamu lakukan, Bi?"

"Menurutku kamu beruntung, Cal, aku yang keras tak setega itu ninggalin kamu. Saat itu aku bangkit sendiri. Menyembuhkan luka sendiri. Dan buat percaya lagi cinta itu enggak gampang. Makanya, jangan kamu pikir masalahmu adalah masalah paling sulit, Cal, tiap orang punya caranya sendiri perihal luka, semoga kau paham ini. Karena jika harus kukatakan jujur, aku lelah setiap melihat penyebab tangisanmu adalah Ilham.".

"Buka mata kamu, Cal, pria tak selesai di Ilham saja. Lihat masih ada Ilham lain yang lebih pantas buat kamu. Sekarang saranku, berhenti kegilaan kamu pada Ilham, cari hal atau apapun itu yang bikin mata kamu terbuka. Sibukkan diri kamu dan satu hal lagi, coba buka hati kamu pada pria yang peduli sama kamu."

Continued...