Hey, kamu! Bukankah aku tak pernah menginginkan sebuah kata KITA diantara aku dan kamu. Kamulah yang lebih dulu meminta sebuah status lebih dari pertemanan antara kita. Kamu bilang, kamu suka dengan kemandirianku yang akhirnya membuatmu jatuh cinta. Bukankah kamu juga yang berjanji tidak akan membiarkan aku merasa tak diperhatikan nantinya. Saat itu sebenarnya aku sangat tak yakin dengan kamu. Entah kenapa, ucapan-ucapanmu seperti hanya sekedar lewat dan tak ingin singgah untuk sejenak kucerna dikepalaku. Aku fikir, barangkali kamu bisa menjadi sosok yang lebih baik untukku. Tapi nyatanya tidak! Aku merasa seperti baju yang digantung tanpa pernah dilihat bahkan disentuh. Mana janjimu yang mengatakan kauakan lebih memperhatikanku? Aku merasa tak demikian. Kau terlalu sibuk dengan duniamu. Sedangkan aku terlalu sibuk memendam kekesalan padamu.
Hariku masih sama. Ada dan tiada kamu. Aku masih sendiri. Serba melakukan apapun sendiri. Hubungan kita yang baru berjalan dua minggu ini, tak lebih dari hanya kata status sebagai pacar saja. Tapi aku tak merasa demikian. Kamu masih sangat terlalu asing buatku. Sosokmu sama sekali tak kukenali. Hatimu sama sekali tak kumiliki. Apa menurut kamu masih pantas aku mempertahankan semua ini?
Pada akhirnya aku lelah juga. Padahal aku bukan orang yang meledak-ledak ataupun berapi2 meminta sebuah pertemuan denganmu. Sepertinya juga, jika aku memutuskan hubungan ini, barangkali aku adalah orang pertama yang akan merasa lega. Untuk apa menjalankan peran drama yang mengandalkan kata status saja? Sedangkan tak ada bedanya hidupku antara ada kamu dan tak ada kamu. Aku lebih senang menjalankan peranku sendiri. Realitanya, kamu tak seperhatian yang aku harapkan. Dan aku tak suka dengan pria yang menomor sekiankan aku diatas pekerjaannya.
Hmmmm... sayang, lebih baik Kita putus saja! Aku muak dengan hubungan kita.
With love for you :')
@AchyNova™
28 Januari 2014