Monday, January 27, 2014

Sayang, KITA PUTUS SAJA!

Hey, kamu! Bukankah aku tak pernah menginginkan sebuah kata KITA diantara aku dan kamu. Kamulah yang lebih dulu meminta sebuah status lebih dari pertemanan antara kita. Kamu bilang, kamu suka dengan kemandirianku yang akhirnya membuatmu jatuh cinta. Bukankah kamu juga yang berjanji tidak akan membiarkan aku merasa tak diperhatikan nantinya. Saat itu sebenarnya aku sangat tak yakin dengan kamu. Entah kenapa, ucapan-ucapanmu seperti hanya sekedar lewat dan tak ingin singgah untuk sejenak kucerna dikepalaku. Aku fikir, barangkali kamu bisa menjadi sosok yang lebih baik untukku. Tapi nyatanya tidak! Aku merasa seperti baju yang digantung tanpa pernah dilihat bahkan disentuh. Mana janjimu yang mengatakan kauakan lebih memperhatikanku? Aku merasa tak demikian. Kau terlalu sibuk dengan duniamu. Sedangkan aku terlalu sibuk memendam kekesalan padamu.

Hariku masih sama. Ada dan tiada kamu. Aku masih sendiri. Serba melakukan apapun sendiri. Hubungan kita yang baru berjalan dua minggu ini, tak lebih dari hanya kata status sebagai pacar saja. Tapi aku tak merasa demikian. Kamu masih sangat terlalu asing buatku. Sosokmu sama sekali tak kukenali. Hatimu sama sekali tak kumiliki. Apa menurut kamu masih pantas aku mempertahankan semua ini?

Pada akhirnya aku lelah juga. Padahal aku bukan orang yang meledak-ledak ataupun berapi2 meminta sebuah pertemuan denganmu. Sepertinya juga, jika aku memutuskan hubungan ini, barangkali aku adalah orang pertama yang akan merasa lega. Untuk apa menjalankan peran drama yang mengandalkan kata status saja? Sedangkan tak ada bedanya hidupku antara ada kamu dan tak ada kamu. Aku lebih senang menjalankan peranku sendiri. Realitanya, kamu tak seperhatian yang aku harapkan. Dan aku tak suka dengan pria yang menomor sekiankan aku diatas pekerjaannya.

Hmmmm... sayang, lebih baik Kita putus saja! Aku muak dengan hubungan kita.

With love for you :')

@AchyNova™
28 Januari 2014

Wednesday, January 1, 2014

Catatan 1 januari 2014

2014, diawal tahun ini dimulai dengan kedukaan yang mendalam. Aku harus menghadapi kenyataan salah satu sanak familyku meninggal karena DBD. Saat semua orang disibukkan dengan gegap gempitanya merayakan pergantian tahun, istri dari kakak sepupuku mungkin tengah menangis meraung. Dan sekali lagi inilah hidup.

Menuju pergantian tahun pun aku bertemu dengan orang baru. Seseorang yang kukenal melalui aplikasi we chat. Suardika Putra namanya. Kesan pertama yang afa biasa saja. Selain wajah putih penuh aura orang yang taat pada agama. Cukup menarik sebenarnya, hanya saja ada hal yang membuatku merasa jengah dengan sikap dia. Bukan aku tak memahami dia yang seorang admin komunitas mengaji, tapi aku merasa dia pun harus tahu dengan siapa saat itu dia berbincang. Jujur saja aku tak terlalu suka jika sepanjang perbincangan fokusnya hanya terpusat pada layar ponsel BlackBerry gemini hitamnya.  Dan alhasil yang kudapatkan adalah aku sering di acuhkan. Aku benci hal itu.
Entah karena dia sibuk atau tidak tapi hari ini tepat 1 Januari 2014, dia tak mengabarkan diri padaku. Ah sudahlah, aku tak mau terlalu ambil pusing masalah ini. Mau datang lagi atau tidak tergantung dari bagaimana niat baik dia.

Bandung, 1 Januari 2014.
Achy Nova